Presiden Donald Trump (kanan) dan Utusan Khusus untuk Timur Tengah Steve Witkoff bertepuk tangan saat pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Institut Perdamaian Donald J. Trump pada 19 Februari 2026 di Washington, DC. (Foto: AFP).
WASHINGTON, (ERAKINI) – Pernyataan terbaru dari utusan Amerika Serikat (AS) memicu sorotan tajam terhadap strategi tekanan Washington kepada Teheran. Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump mempertanyakan mengapa Iran belum juga ‘menyerah’ meskipun kekuatan militer Amerika telah diperkuat secara signifikan di kawasan.
Menurut Witkoff, Trump merasa heran atas sikap Iran yang dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda melunak, walau Washington telah mengerahkan dua kapal induk, pesawat tempur, serta berbagai persenjataan ke wilayah sekitar Teluk sebagai bentuk tekanan agar tercapai kesepakatan terkait program nuklir.
“Saya tidak ingin menggunakan kata ‘frustrasi,’ karena dia mengerti bahwa dia memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka (Iran, red) belum menyerah,” katanya.
“Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan kekuatan laut dan angkatan laut yang begitu besar di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, ‘Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan’? Namun, agak sulit untuk membuat mereka sampai pada titik itu,” ujarnya.
Utusan AS itu juga mengkonfirmasi dalam wawancara tersebut bahwa ia telah bertemu dengan Reza Pahlavi, yang belum kembali ke Iran sejak sebelum Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki. “Saya bertemu dengannya atas arahan presiden,” katanya, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Pahlavi yang berbasis di AS pekan lalu mengatakan kepada kerumunan di Munich bahwa ia siap memimpin negara itu menuju ‘masa depan demokrasi sekuler’ setelah Trump mengatakan perubahan rezim akan menjadi yang terbaik untuk negara tersebut.
Komentar Witkoff muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan draf proposal untuk perjanjian dengan Washington akan siap dalam beberapa hari. Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa Iran memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan mengenai kekhawatiran yang dimulai dengan program nuklirnya.
Saat pembicaraan antara kedua negara berlanjut di Jenewa, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari Selasa mengatakan bahwa Trump tidak akan berhasil menghancurkan republik Islam tersebut.
Negara-negara Barat menuduh Republik Islam berusaha untuk memperoleh senjata nuklir, yang dibantah Teheran, meskipun mereka bersikeras pada hak mereka untuk melakukan pengayaan uranium untuk tujuan sipil.
Di sisi lain, Iran berupaya untuk menegosiasikan pengakhiran sanksi yang terbukti sangat menghambat perekonomiannya, yang berperan dalam memicu protes anti-pemerintah pada bulan Desember.