Dalam foto yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Iran ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, di tengah, menuju tempat pertemuan antara Iran dan AS, di Muscat, Oman, Jumat, 6 Februari 2026. (Foto: AP).
JENEWA, (ERAKINI) - Menteri Luar Negeri Iran tiba di Jenewa untuk mengikuti putaran lanjutan dialog dengan , sebagaimana diberitakan media resmi pemerintah pada Senin (16/2/2026). Kehadirannya menandai babak baru dalam upaya diplomasi yang berlangsung di tengah tekanan keras Washington terhadap Republik Islam tersebut.
Pemerintah di Teheran menyebutkan bahwa pembahasan mengenai isu nuklir akan digelar secara tidak langsung dengan perantara Oman pada Selasa (17/2/2026). Meski demikian, pihak Amerika Serikat sebelumnya mendorong agar agenda diperluas, mencakup program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan.
Kontak diplomatik kedua negara kembali dihidupkan bulan ini setelah sempat terhenti akibat meningkatnya ketegangan regional. Kebuntuan sebelumnya terjadi pasca serangan udara besar-besaran Israel terhadap Iran pada Juni lalu—operasi yang disebut sebagai salah satu yang paling intens dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, perhatian internasional tertuju pada lebih dari 400 kilogram uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen. Persediaan tersebut terakhir kali dipantau oleh inspektur pengawas nuklir pada Juni, dan hingga kini masa depannya masih belum jelas.
Media penyiaran nasional Iran melaporkan melalui kanal resminya bahwa Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, memimpin delegasi diplomatik dan teknis dalam perundingan tersebut. Selama berada di Jenewa, ia dijadwalkan bertemu dengan pejabat dari Swiss dan Oman, serta Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency, Rafael Grossi, bersama sejumlah pejabat internasional lainnya.
Dari pihak Amerika Serikat, Gedung Putih mengonfirmasi pengiriman utusan khusus Timur Tengah, Steve Witkoff, serta penasihat senior dan menantu Presiden, Jared Kushner.
Rangkaian dialog ini berlangsung di bawah bayang-bayang pernyataan keras Presiden Donald Trump, yang sebelumnya beberapa kali mengancam tindakan militer terhadap Iran. Awalnya, ancaman tersebut terkait respons pemerintah Iran terhadap demonstrasi dalam negeri, namun belakangan fokus beralih pada pengembangan program nuklir Teheran.
Negara-negara Barat menilai program nuklir Iran berpotensi mengarah pada pembuatan senjata nuklir—tuduhan yang secara tegas dibantah oleh pemerintah Iran. Pada Jumat lalu, Trump bahkan menyebut perubahan rezim di Iran sebagai “opsi terbaik,” sembari mengirimkan kapal induk tambahan ke kawasan Timur Tengah sebagai bentuk peningkatan tekanan militer.
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan kepada BBC bahwa Teheran terbuka terhadap kompromi terkait cadangan uranium, dengan syarat Amerika Serikat mencabut sanksi ekonomi yang selama ini membebani perekonomian negara tersebut. Ia menegaskan bahwa kesungguhan dari Washington dapat membuka jalan menuju kesepakatan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, turut menyuarakan sikap tegas. Dalam pidatonya di Yerusalem, ia menekankan bahwa perjanjian apa pun harus mencakup pemindahan seluruh uranium yang telah diperkaya dari Iran serta pembongkaran total infrastruktur pengayaan.
Putaran awal dialog sebelumnya digelar di Muscat pada 6 Februari, ketika Araghchi memimpin delegasi Iran dalam perundingan tidak langsung dengan Witkoff dan Kushner.
Selama beberapa dekade, Swiss memainkan peran penting sebagai perantara kepentingan diplomatik antara Teheran dan Washington. Negara tersebut mewakili kepentingan Amerika Serikat di Iran sejak hubungan diplomatik kedua negara terputus menyusul krisis penyanderaan tahun 1980, setahun setelah Revolusi Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Diplomasi Ekonomi menyampaikan bahwa Teheran menginginkan kesepakatan yang memberikan keuntungan timbal balik, terutama dalam sektor penerbangan, pertambangan, serta minyak dan gas. Ia menegaskan bahwa kesepakatan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila kedua pihak memperoleh manfaat ekonomi nyata dalam waktu relatif cepat.
Kini, dunia menanti: akankah dialog di Jenewa menjadi titik balik menuju stabilitas, atau justru memperdalam jurang ketegangan yang telah lama membayangi hubungan Iran dan Amerika Serikat?