Menteri Pertahanan Kamboja, Tea Seiha, dan Menteri Pertahanan Thailand, Natthaphon Narkphanit, setelah gencatan senjata disepakati dalam sebuah pertemuan khusus di pos pemeriksaan perbatasan di Provinsi Chanthaburi, Thailand. Foto: BBC
JAKARTA, (ERAKINI) – Hubungan Thailand dan Kamboja kembali memanas hanya sehari setelah gencatan senjata. Militer Thailand menuduh Kamboja melanggar kesepakatan yang baru ditandatangani setelah berminggu-minggu bentrokan mematikan yang memaksa hampir satu juta orang mengungsi.
Dalam pernyataannya, Angkatan Darat Thailand mengklaim telah mendeteksi lebih dari 250 kendaraan udara nirawak (unmanned aerial vehicles/UAV) yang terbang dari wilayah Kamboja pada Minggu malam.
Dikutip dari BBC,gencatan senjata mulai berlaku pada Sabtu pukul 12.00 waktu setempat (05.00 GMT). Kedua negara sepakat membekukan posisi garis depan, melarang pengiriman bala bantuan, serta memungkinkan warga sipil di kawasan perbatasan kembali ke rumah mereka secepat mungkin.
Kesepakatan tersebut sebelumnya dipandang sebagai terobosan setelah berhari-hari perundingan dengan dukungan diplomatik dari China dan Amerika Serikat.
Namun, dalam pernyataan pada Senin (30/12), Angkatan Darat Kerajaan Thailand menilai tindakan Kamboja sebagai “provokasi dan pelanggaran terhadap langkah-langkah untuk meredakan ketegangan”. Militer Thailand juga menyebut tindakan itu “tidak sejalan” dengan ketentuan gencatan senjata.
Thailand bahkan menyatakan pihaknya “mungkin perlu mempertimbangkan kembali” pembebasan 18 tentara Kamboja yang ditahan sejak Juli lalu. Bangkok menegaskan akan “terpaksa bertindak sesuai ketentuan” apabila pelanggaran terhadap perjanjian dan kedaulatan nasional terus berlanjut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn menyebut insiden tersebut sebagai “masalah kecil terkait penerbangan drone yang terlihat oleh kedua pihak di sepanjang garis perbatasan”, seperti dikutip kantor berita AFP.
Pernyataan saling tuding ini muncul hanya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi memuji gencatan senjata yang “diperoleh dengan susah payah”, serta Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengapresiasi “penyelesaian yang cepat dan adil”.
Perselisihan antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung lebih dari satu abad. Ketegangan terbaru meningkat awal tahun ini setelah sekelompok perempuan Kamboja menyanyikan lagu-lagu patriotik di sebuah kuil yang menjadi wilayah sengketa.
Situasi memburuk pada Mei ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan, membawa hubungan kedua negara ke titik terendah dalam lebih dari satu dekade.
Selama lima hari, pertempuran sengit terjadi di sepanjang perbatasan dan menewaskan puluhan tentara serta warga sipil. Ribuan warga lainnya terpaksa mengungsi.
Kesepakatan gencatan senjata yang rapuh sebenarnya telah disepakati pada Juli dan ditandatangani pada Oktober. Namun, kesepakatan itu runtuh awal bulan ini setelah bentrokan kembali pecah. Kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.