Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menghadiri konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar (tidak terlihat dalam foto) setelah pertemuan mereka di Hyderabad House di New Delhi, India, 24 Mei 2026. (Foto: Reuters).
TEHRAN, (ERAKINI) - Harapan tercapainya kesepakatan besar antara Amerika Serikat dan Iran kembali menguat setelah sejumlah pejabat tinggi kedua negara memberikan sinyal positif terkait proses negosiasi yang tengah berlangsung untuk mengakhiri konflik di .
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut peluang tercapainya kesepakatan terbuka lebar bahkan dalam waktu dekat. Saat melakukan kunjungan ke India, Rubio mengatakan dunia mungkin segera menerima kabar baik terkait pembicaraan tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa sebagian besar isi perjanjian telah disepakati dan kini tinggal menunggu finalisasi antara Washington, Teheran, serta sejumlah pihak internasional lainnya.
Menurut Rubio, kesepakatan itu diharapkan menjadi langkah awal menuju situasi global yang lebih aman tanpa ancaman senjata nuklir Iran.
Salah satu poin penting dalam rancangan kesepakatan disebut berkaitan dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi pusat perhatian dunia energi. Pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut diyakini mampu meredakan tekanan pasar minyak global setelah blokade panjang yang mengganggu distribusi energi dunia.
Optimisme itu juga disambut para pemimpin Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyampaikan dukungannya terhadap perkembangan negosiasi, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan kesiapan bekerja sama dengan mitra internasional demi menjaga momentum perdamaian.
Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak akan langsung menyentuh isu utama terkait program nuklir mereka. Teheran menyebut pembahasan mengenai pengayaan uranium akan ditunda selama 60 hari setelah perjanjian resmi berlaku.
Di tengah meningkatnya ekspektasi publik internasional, Donald Trump justru menegaskan bahwa pemerintahannya tidak ingin terburu-buru menyelesaikan kesepakatan.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyatakan proses negosiasi berlangsung tertib dan produktif, tetapi kedua pihak harus memastikan seluruh poin benar-benar matang sebelum ditandatangani.
Trump juga menegaskan bahwa blokade terhadap Iran masih akan tetap diberlakukan hingga kesepakatan benar-benar disahkan secara resmi.
Blokade tersebut telah diterapkan Amerika Serikat sejak pertengahan April setelah Iran hampir menutup akses pelayaran di Selat Hormuz sebagai respons terhadap eskalasi konflik yang melibatkan AS dan Israel.
Meski demikian, hubungan diplomatik kedua negara disebut mulai bergerak ke arah yang lebih konstruktif dibanding sebelumnya. Trump menegaskan bahwa Washington tetap bersikeras Iran tidak boleh memiliki ataupun mengembangkan senjata nuklir.
Laporan media Iran menyebut rancangan kesepakatan mencakup kemungkinan pencairan sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional. Selain itu, sanksi terhadap sektor minyak, gas, dan petrokimia Iran dikabarkan juga akan dilonggarkan sementara selama proses negosiasi berlangsung.
Sebagai imbalannya, jalur pelayaran di Selat Hormuz disebut akan kembali beroperasi normal di bawah pengawasan Iran seperti sebelum konflik pecah.
Media-media Iran bahkan menyebut kedua negara kini hanya tinggal selangkah lagi menuju penghentian konflik terbuka dan pembentukan kesepakatan damai baru di kawasan Timur Tengah.
Dalam perkembangan lain, para pemimpin dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Yordania, dan Bahrain dilaporkan turut mengikuti pembicaraan bersama Trump untuk membahas perkembangan negosiasi tersebut.
Sementara itu, Pakistan yang sebelumnya menjadi mediator dialog langsung AS-Iran menyatakan siap menjadi tuan rumah putaran lanjutan pembicaraan damai dalam waktu dekat demi mendorong terciptanya stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah.