Mbah Painah (kerudung putih, tengah) dan anaknya (kiri) saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) 2026 di pemondokannya di Misfalah, Makkah, Minggu (7/6/2026). (Foto: MCH 2026).
MAKKAH, (ERAKINI) - Lembar demi lembar daun pisang yang selama puluhan tahun dijual Mbah Painah (65) akhirnya mengantarkannya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Perempuan asal Dusun Ngedok, Wonosobo Barat, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, itu menjalani kehidupan sederhana sebagai penjual sayur dan . Dari hasil usahanya itulah ia menabung sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa berangkat haji tahun ini.
Setiap hari, Mbah Painah memulai aktivitasnya sejak dini hari. Saat kebanyakan orang masih terlelap, ia sudah berjalan menuju Pasar Pagi Wonosobo untuk menjual hasil pertanian.
"Nggih macem-macem, wonten bayem, buncis, kacang panjang (Ya, bermacam-macam, ada bayam, buncis, kacang panjang)," ujar Mbah Painah saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Minggu (7/6/2026).
Setelah menyelesaikan aktivitas di pasar dan menunaikan salat Subuh, ia kembali mengurus pekerjaan rumah sebelum melanjutkan usaha lainnya, yakni menjual daun pisang.
Daun-daun pisang yang dijualnya berasal dari sejumlah kebun di wilayah Sambek hingga Mangli, lereng Gunung Sumbing. Sebelum dipasarkan, daun tersebut terlebih dahulu dipilah berdasarkan kualitasnya.
Menurut Sabar, putra sulung Mbah Painah yang mendampinginya berhaji, daun pisang kualitas terbaik dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram.
"Sementara daun yang kualitasnya kurang baik biasanya dijual kepada perajin tempe dengan harga sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram," tutur Sabar.
Terbiasa Berjalan Kaki Mbah Painah mengaku selama ini mengantarkan sendiri pesanan daun pisang kepada pelanggan dengan berjalan kaki. Jarak tempuh hingga 2,5 kilometer tidak menjadi kendala baginya.
"Enten sing tebih, enten sing caket, kulo mlampah, mboten nitih pit (ada yang jauh, ada yang dekat, tidak naik sepeda)," kisah Mbah Painah.
Kebiasaan tersebut membuatnya terbiasa melakukan aktivitas fisik. Saat menjalani ibadah haji, ia mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah tanpa bantuan kursi roda.
Didampingi Sabar, Mbah Painah berjalan kaki saat tawaf di area mataf Masjidil Haram, melaksanakan sa'i, hingga mengikuti lempar jumrah selama tiga hari di Mina.
Bahkan ketika layanan bus shalawat sempat dihentikan menjelang puncak haji, ia tetap memilih berjalan kaki menuju Masjidil Haram dari hotelnya di kawasan Misfalah yang berjarak sekitar 2,5 kilometer.
"Ibu hampir setiap hari ke Masjidil Haram," lanjut Sabar.
Berawal dari Ajakan Suami
Keinginan berhaji bermula dari ajakan sang suami, Munasir (71), yang saat itu diajak kerabat dan seorang kiai kampung untuk mendaftar haji.
Pada awalnya, Mbah Painah mengaku belum tertarik. Ia justru berharap anak-anaknya yang bisa berangkat lebih dahulu.
Namun, sang suami memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji bersama dirinya.
"Terus bapak bilang gini: Nek nyong mangkat, kono ora nyong emoh. Nek gelem mangkat ya mayuh (kalau saya berangkat, kamu tidak, saya nggak mau. Kalau mau berangkat, ya ayo)," tutur Sabar.
Pasangan tersebut kemudian mendaftar haji pada 2012. Sejak saat itu, Mbah Painah mulai menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung.
Ia tidak memiliki sumber pendapatan besar. Dari hasil berjualan sayur dan daun pisang, ia menyimpan uang sedikit demi sedikit melalui arisan kampung yang diikutinya secara rutin selama 18 tahun.
"Mboten kathah, paling kalihatus (Nggak banyak, hanya Rp200 ribu) dan rutin," ujar Mbah Painah.
Kesabaran itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun ini, ia berhasil menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya.
Meski Munasir yang lebih dulu mengajaknya mendaftar belum dapat berangkat karena terkendala syarat kesehatan, Mbah Painah tetap melanjutkan perjalanan spiritual yang telah lama mereka impikan.
"Ya, bapak memang sempat kecewa, tapi kemarin sudah terobati karena sebelum puasa Ramadhan, bapak berangkat umrah. Setelah ibu berangkat haji, rencananya akan berangkat umrah bareng-bareng," ucap Sabar.
Momen Pertama Melihat Ka'bah
Saat ditanya mengenai kesannya ketika pertama kali melihat Ka'bah, Mbah Painah memberikan jawaban yang sederhana.
"Biasa-biasa mawon, tapi nggih seneng banget (biasa-biasa saja, tapi senang sekali)," jawabnya polos yang langsung disambut tawa orang-orang di sekelilingnya.
Di balik kesederhanaan jawaban itu, tersimpan rasa syukur mendalam. Selama berada di depan Ka'bah, ia mengaku lebih banyak memanjatkan doa untuk keluarga.
"Nyuwun anak bojo seneng, nyuwun ahli waris sehat waras, putu-putu sugih waras (memohon suami anak bahagia, memohon ahli waris/keturunan sehat, cucu-cucu juga sehat)," ungkapnya.
Ketika ditanya harapan setelah pulang berhaji dan menyandang gelar hajjah, Mbah Painah sempat menjawab singkat sambil tertawa.
Jawaban itu kembali mengundang tawa orang-orang di sekitarnya. Namun kemudian ia menjelaskan makna "kaya" yang dimaksud.
"Nggih sugih slamet, sugih waras, nek sugih waras enten rezeki (ya, selalu selamat, sehat, kalau sehat kan ada rezekinya)," ucapnya.
Menolak Dibadalkan saat Lempar Jumrah
Semangat Mbah Painah selama menjalani ibadah haji mendapat perhatian Ketua Kloter YIA 22, Muhasyim.
Menurut dia, petugas telah memberikan edukasi kepada para jemaah lanjut usia sejak masih berada di Indonesia, termasuk mengenai opsi badal lempar jumrah bagi jemaah yang berisiko mengalami kelelahan.
Namun, sejumlah jemaah lansia memilih menjalankan sendiri prosesi tersebut, termasuk Mbah Painah.
"Termasuk Mbah Painah ini. Sama sekali tidak mau dibadalkan karena merasa berangkat haji itu hanya sekali seumur hidup. Makanya beliau berusaha melaksanakan lempar jumrah mulai tanggal 10 sampai 12 Zulhijah secara mandiri," katanya.
Muhasyim mengatakan petugas tetap menghormati keputusan jemaah selama kondisi kesehatannya memungkinkan.
"Kalau jemaah lansia merasa sehat dan sanggup, kami juga tidak bisa melarang. Yang penting kami terus mengedukasi dan mendampingi," ujar dia.
Menurut Muhasyim, kisah Mbah Painah menjadi salah satu cerita yang paling berkesan selama penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
"Semangatnya luar biasa. Mudah-mudahan beliau selalu sehat sampai nanti kembali ke Tanah Air," harapnya.
Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dijalani, Mbah Painah telah memiliki rencana sederhana setibanya di kampung halaman.
Ia akan kembali berjualan daun pisang seperti biasa. Kembali berjalan kaki mengantar pesanan pelanggan dari rumah ke rumah.
Bedanya, kali ini ia pulang dengan satu impian besar yang telah berhasil ditunaikan. Impian yang diraih bukan melalui kemewahan, melainkan lewat kerja keras, kesabaran, dan tabungan kecil yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.