Menurut laporan Al Jazeera, serangan pesawat nirawak Israel terhadap sebuah kendaraan di dekat Kota Qabatiya, Provinsi Jenin, pada hari Jumat telah menewaskan dua orang, mengutip pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina. Ini merupakan hari keempat operasi besar-besaran Israel di sekitar Jenin.
Kantor berita resmi Palestina Wafa melaporkan bahwa serangan itu berasal dari pesawat tanpa awak yang terjadi tepat sebelum pasukan Israel menyerbu Qabatiya dan memulai operasi penyisiran.
"Serangan udara itu bertepatan dengan operasi militer yang sedang berlangsung terhadap para pejuang Palestina di Jenin dan kamp pengungsi, telah mengakibatkan kematian 14 warga Palestina dan melukai sekitar 50 lainnya," tulis Al Jazeera mengutip data Kementerian Kesehatan Palestina di Ramallah.
Militer Israel telah mengkonfirmasi serangan udara pada hari Jumat di Jenin mengenai sebuah kendaraan yang mereka klaim berisi "sel teroris". Hanya, Israel tidak memberikan rincian lebih lanjut. Militer Israel juga mengumumkan penangkapan 20 orang yang dianggapnya sebagai "tersangka yang dicari" .
Selain menimbulkan korban jiwa, operasi di Tepi Barat utara, yang dimulai hanya dua hari setelah gencatan senjata disepakati antara Israel dan Hamas di Gaza, telah menyebabkan kerusakan yang meluas. Buldoser dan ekskavator lapis baja Israel telah menghancurkan rumah-rumah dan menggali jalan di wilayah Jenin serta memaksa sekitar 2.000 keluarga mengungsi.
Wakil Gubernur Jenin Mansour al-Saadi menilai invasi militer Israel ke kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat utara merupakan pengulangan apa yang terjadi di Gaza, yakni genosida sistematis yang dimulai pada 5 Oktober 2024 dan berlanjut hingga gencatan senjata pada 19 Januari 2025.
"Rencana Israel untuk melancarkan invasi besar-besaran ke pusat kamp di tengah pembongkaran bangunan dan rumah di sekitarnya yang sedang berlangsung," katanya kepada Anadolu.
Kata dia, pasukan Israel telah menutup empat pintu masuk ke kota Jenin dan kamp pengungsi dengan gundukan tanah untuk mencegah penduduk masuk dan keluar.
Seorang juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) Farhan Haq pada hari Jumat memperingatkan tentang situasi yang "memburuk" di Tepi Barat dan meminta Israel untuk melindungi warga Palestina.
"Sekali lagi memperingatkan bahwa taktik perang yang mematikan sedang diterapkan, yang menimbulkan kekhawatiran atas penggunaan kekuatan yang melampaui standar penegakan hukum," ujar Farhan.
Sebelumnya, juru bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Thameen Al-Kheetan menyatakan kekhawatiran serius tentang penggunaan kekuatan yang tidak proporsional dan melanggar hukum di Jenin, serta memperingatkan potensi pelanggaran hak asasi manusia yang meluas.
Al-Kheetan menekankan tanggung jawab masyarakat internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas tindakan ini.