Kejam! Israel Tembak Mati Pemuda Palestina di Dekat Hebron, Serangan Terus Dilakukan Meski Gencatan Senjata
Akhmad Baihaqi Arsyad
GAZA, (ERAKINI) – Aksi kekerasan militer Israel kembali merenggut nyawa seorang pemuda Palestina. Mohammad Bassam Tayaha Sha’our, berusia 20 tahun, ditembak mati oleh pasukan pendudukan Israel pada Minggu malam (26/10/2025) di wilayah selatan Tepi Barat, dekat Hebron.
Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Palestina, korban tewas akibat peluru tajam yang dilepaskan langsung oleh tentara Israel di pos pemeriksaan Meitar, tak jauh dari kota Adh Dhahiriya.
Kantor berita resmi WAFA melaporkan bahwa Sha’our meninggal seketika di tempat kejadian akibat luka tembak yang parah. Upaya penyelamatan tidak dapat dilakukan karena wilayah tersebut segera diblokade militer oleh tentara Israel. Tim medis Bulan Sabit Merah Palestina hanya bisa mengevakuasi jenazah korban dan membawanya ke Rumah Sakit Pemerintah Dura.
Kematian Mohammad Sha’our menambah panjang daftar korban warga sipil Palestina yang tewas di tangan militer Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat, sejak Januari 2025, sedikitnya lebih dari 300 warga Palestina telah terbunuh oleh tentara maupun pemukim bersenjata Israel, termasuk 44 anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun.
Kekerasan ini disebut sebagai salah satu gelombang paling mematikan dalam satu dekade terakhir di Tepi Barat. Banyak pihak menilai bahwa kebijakan militer Israel terhadap warga Palestina semakin brutal dan tidak mengenal batas kemanusiaan.
Aktivis HAM Palestina mengecam keras tindakan pasukan Israel yang terus menargetkan warga sipil tak bersenjata di wilayah pendudukan. Mereka menuntut komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar mengambil langkah nyata untuk menghentikan pelanggaran berat hak asasi manusia yang dilakukan oleh Israel.
“Berulang kali kami kehilangan anak muda, pelajar, bahkan anak-anak. Dunia tidak boleh menutup mata atas darah yang terus mengalir di tanah kami,” ujar seorang aktivis kemanusiaan di Hebron kepada media lokal.
Tepi Barat kini menjadi simbol penderitaan rakyat Palestina di bawah pendudukan berkepanjangan. Kehilangan demi kehilangan menandai setiap sudut kota — dari Nablus hingga Hebron, dari Jenin hingga Gaza.
Kematian Mohammad Bassam Tayaha Sha’our bukan hanya angka statistik baru, melainkan potret nyata dari generasi muda Palestina yang direnggut sebelum sempat bermimpi. "Kami tidak hanya kehilangan seorang anak muda," tulis salah satu warga di media sosial, "kami kehilangan masa depan Palestina yang terus dibunuh oleh peluru-peluru penjajah."
Menurut data OCHA PBB, korban tewas sepanjang 2025: Lebih dari 300 warga Palestina, termasuk 44 anak di bawah usia 18 tahun.















