Warga Palestina berkumpul saat pejuang Hamas mengawal kendaraan Palang Merah sebelum menyerahkan tiga tawanan Israel di Deir Al-Balah, Jalur Gaza tengah, Sabtu, 8 Februari 2025. (Foto: AP)
JERSUSALEM, (ERAKINI) - Seorang juru bicara Hamas pada hari Senin (10/2/2025) menuduh bahwa Israel melanggar perjanjiangencatan senjata dengan kelompok tersebut. Sehingga, pihak Hamas mengatakan bahwa pada hari Sabtu depan akan ditunda.
Hal itu disampaikan oleh juru bicara sayap militer Hamas Brigade Al-Qassam Abu Obeida. Pelanggaran yang ia maksud termasuk Israel yang menargetkan warga Palestina di Gaza dengan serangan udara, sebagaimana dilansir dari AP.
Saat ini, Israel dan Hamas berada di tengah-tengah gencatan senjata selama enam minggu di mana Hamas melepaskan puluhan sandera yang ditangkap dalam serangan 7 Oktober 2023 dengan imbalan hampir 2.000 tahanan Palestina.
Kedua pihak telah melakukan 5 pertukaran sejak gencatan senjata diberlakukan bulan lalu, membebaskan 21 sandera dan lebih dari 730 tahanan. Pertukaran berikutnya dijadwalkan pada hari Sabtu, membebaskan tiga sandera Israel dengan imbalan ratusan tahanan Palestina.
Abu Obeida menuduh Israel secara sistematis melanggar perjanjiangencatan senjata selama 3 minggu terakhir, dan mengatakan pembebasan pada hari Sabtu akan ditunda.
“Kepemimpinan perlawanan telah memantau dengan cermat pelanggaran yang dilakukan musuh dan kegagalan mereka dalam menegakkan ketentuan perjanjian,” kata Abu Obeida.
“Hal ini termasuk penundaan dalam mengizinkan pengungsi Palestina untuk kembali ke Gaza utara, menargetkan mereka dengan serangan udara dan tembakan di berbagai wilayah di Jalur Gaza, dan kegagalan memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan sesuai kesepakatan.”
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa warga Palestina tidak punya hak untuk kembali ke Gaza berdasarkan rencana pengambilalihan oleh AS.
Trump justru menggambarkan usulannya dalam kutipan wawancara yang dirilis Senin (10/2/2025) sebagai pembangunan real estate untuk masa depan.
Melansir AFP, Trump mengatakan kepada Bret Baier dari Fox News Channel bahwa dirinya akan memiliki Gaza. Ia menyebut bahwa mungkin ada 6 lokasi berbeda bagi warga Palestina untuk tinggal di luar Gaza berdasarkan rencana AS tersebut, yang ditolak oleh dunia Arab dan komunitas internasional lainnya.
“Tidak, mereka tidak akan melakukannya, karena mereka akan memiliki perumahan yang jauh lebih baik,” kata Trump ketika Baier bertanya apakah warga Palestina berhak untuk kembali ke daerah kantong tersebut, yang sebagian besar telah dihancurkan oleh militer Israel sejak Oktober 2023.
“Dengan kata lain, saya sedang berbicara tentang membangun tempat permanen untuk mereka karena jika mereka harus kembali sekarang, maka akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum Anda bisa melakukannya – tempat tersebut tidak layak huni,” imbuhnya.
Trump pertama kali mengungkapkan rencana mengejutkan tersebut dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang sedang berkunjung pada hari Selasa, yang memicu kemarahan warga Palestina.
Trump menekankan tuntutannya agar warga Palestina dipindahkan dari Gaza, yang hancur akibat perang Israel-Hamas, dan agar Mesir dan Yordania mengambil alih mereka.