Kebijakan tarif baru diumumkan Donald Trump dalam acara "Make America Wealthy Again" yang digelar di Rose Garden, Gedung Putih, Rabu (2/4/2025) waktu setempat. Foto: AFP
Selain itu, Trump juga memberlakukan tarif 'Timbal Balik' terhadap beberapa negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Kebijakan tarif baru itu diumumkan Trump dalam acara "Make America Wealthy Again" yang digelar di Rose Garden, Gedung Putih, Rabu (2/4/2025) waktu setempat.
Saat mengumumkan tarif baru tersebut, Trump memperlihatkan bagan besar berjudul 'Tarif Timbal Balik'. Bagan yang diangkat Trump memiliki tiga kolom.
Kolom pertama merupakan daftar negara. Kolom kedua besaran tarif yang dikenakan negara-negara terhadap barang-barang dari AS. Sedangkan kolom ketiga berisi tarif balasan yang dikenakan AS.
Bagan tersebut menampilkan tarif 10 persen untuk impor dari Inggris dan 20 persen untuk impor Uni Eropa. Indonesia juga muncul pada daftar tarif tersebut.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan langkah besar dalam "kemerdekaan ekonomi" Amerika Serikat. "Ini adalah deklarasi kemerdekaan ekonomi kami," kata Trump dilansir oleh AFP.
Tarif dasar sebesar 10 persen diberlakukan pada hampir semua negara. Trump juga menerapkan tarif tambahan yang bersifat "timbal balik" kepada negara-negara tertentu yang dianggap memiliki kebijakan perdagangan yang tidak adil terhadap AS. Negara-negara tersebut termasuk China, Uni Eropa, India, Jepang, Thailand, Korea Selatan, dan Vietnam.
Dalam rincian tarif timbal balik, Jepang dikenakan tarif sebesar 24 persen, Vietnam 46 persen, Thailand 36 persen, China 34 persen, dan Korea Selatan 25 persen.
Sementara Indonesia yang mengenakan tarif sebesar 64 persen untuk barang-barang impor dari AS, sebagai balasannya Trump memberlakukan tarif baru sebesar 32 persen.
Menurut unggahan Gedung Putih di Instagram, Indonesia berada di urutan ke delapan dalam daftar negara-negara yang terkena kenaikan tarif AS dengan besaran 32 persen.
"Mereka mengenakan biaya kepada kami, kami mengenakan biaya kepada mereka. Bagaimana mungkin ada orang yang marah?" ujar Trump dengan nada percaya diri.
Trump secara khusus menyoroti China dan Uni Eropa yang menurutnya telah memperlakukan Amerika Serikat dengan tidak adil. "Mereka menipu kami. Sungguh menyedihkan melihatnya," kata Trump, yang merasa bahwa praktik perdagangan tersebut merugikan ekonomi AS.
Pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa tarif universal sebesar 10 persen mulai berlaku pada Sabtu (5/4), sedangkan tarif timbal balik terhadap negara-negara mitra dagang tertentu diberlakukan mulai Rabu (9/4).
Kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negeri Amerika Serikat. Trump juga berpendapat bahwa langkah ini akan memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan yang selama ini dirasakan oleh Amerika Serikat, yang dianggap "dirugikan" oleh banyak negara.
Namun, para ekonom memperingatkan bahwa kebijakan tarif baru ini dapat memicu perang dagang dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.
Kebijakan tarif baru ini merupakan kelanjutan dari janji kampanye Trump pada Pilpres 2024, yang menyatakan akan memberlakukan tarif universal untuk semua barang impor.
Selain itu, Trump juga mengumumkan bahwa tarif tambahan sebesar 25 persen akan diberlakukan terhadap mobil yang diproduksi di luar Amerika Serikat, serta tarif 25 persen untuk seluruh impor baja dan aluminium.
Pemerintahan Trump juga telah memberlakukan bea tambahan sebesar 20 persen terhadap barang-barang asal China, sebagai bagian dari upaya untuk melawan praktik perdagangan yang dianggap merugikan ekonomi AS.