Tentara Lebanon mengamankan lokasi serangan udara Israel yang menargetkan sebuah bangunan di desa Deir Kifa, Lebanon selatan, pada bulan November. (Foto: AFP).
BEIRUT, (ERAKINI) – Ketegangan kembali menguat di Lebanon setelah pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menuding mengabaikan kesepakatan yang disepakati pada November 2024.
Melansir Arab News, dalam pernyataan kerasnya pada Minggu (28/12/2025), Qassem menyebut upaya pelucutan senjata Hizbullah bukanlah agenda nasional Lebanon, melainkan bagian dari rencana Israel-Amerika.
Pernyataan itu muncul di tengah tekanan kuat Amerika Serikat terhadap pemerintah Lebanon, serta kekhawatiran akan meluasnya agresi Israel. Militer Lebanon diketahui tengah bersiap menyelesaikan tahap awal pelucutan senjata Hizbullah di wilayah selatan Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel, sebelum akhir tahun. Setelah itu, proses serupa direncanakan berlangsung di wilayah lain di seluruh negeri.
“Pelucutan senjata ini adalah proyek Israel dan Amerika,” tegas Qassem. Ia menilai tuntutan agar senjata hanya berada di tangan negara, sementara Israel terus melancarkan serangan dan Washington menekan Lebanon, justru bertentangan dengan kepentingan nasional. “Itu bukan demi Lebanon, melainkan demi apa yang diinginkan Israel,” ujarnya.
Menurut kesepakatan gencatan senjata, Hizbullah diwajibkan menarik pasukannya ke utara Sungai Litani serta membongkar infrastruktur militernya di wilayah yang ditinggalkan. Namun, meski perjanjian tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri lebih dari satu tahun konflik bersenjata, Israel dituduh tetap melancarkan serangan ke wilayah Lebanon dan mempertahankan pasukannya di lima titik strategis.
Israel sendiri meragukan kemampuan militer Lebanon dalam mengendalikan situasi keamanan dan menuduh Hizbullah kembali memperkuat persenjataannya. Di sisi lain, kelompok yang didukung Iran tersebut menolak keras tuntutan untuk menyerahkan senjata sebelum Israel memenuhi kewajibannya.
Qassem menegaskan bahwa pengerahan tentara Lebanon di selatan Sungai Litani hanya relevan jika Israel terlebih dahulu menghentikan agresi, menarik seluruh pasukannya, membebaskan para tahanan, serta memulai proses rekonstruksi. “Selama Israel tidak melaksanakan komitmennya, Lebanon tidak berkewajiban mengambil langkah apa pun,” katanya dalam pidato yang disiarkan secara nasional.
Sementara itu, Panglima Angkatan Darat Lebanon, Rodolphe Haykal, menyatakan bahwa militer saat ini hampir merampungkan fase pertama dari rencana yang telah disusun. Dalam pertemuan militer pekan lalu, Haykal menegaskan bahwa angkatan darat tengah menyiapkan langkah-langkah lanjutan dengan perencanaan yang matang.
Pernyataan saling tuding ini menegaskan rapuhnya gencatan senjata dan menunjukkan bahwa konflik antara Israel dan Hizbullah masih jauh dari kata selesai, dengan Lebanon kembali berada di pusaran ketegangan geopolitik kawasan.