Perang di Gaza: Lebih dari 60 orang tewas dalam serangan Israel di daerah pemukiman di Beit Lahiya, Kamis (21/11/2024). (Foto: Aljazeera)
JAKARTA, (ERAKINI) - Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara di Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya 88 orang, termasuk banyak anak-anak yang sedang tidur, ketika sekutu utamanya Amerika Serikat (AS) sekali lagi memveto resolusiDewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata.
Melansir Aljazeera, setidaknya 66 orang tewas dalam serangan pada Kamis (21/11/2024) pagi yang melanda lingkungan perumahan di Beit Lahiya, di utara Gaza yang terkepung, kata pejabat kesehatan Palestina.
Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan Hussam Abu Safia, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sebagian besar korban sedang tertidur ketika mereka dibunuh.
“Jumlah korban sudah sangat banyak, dan masih banyak jenazah yang tergantung di dinding, langit-langit. Kebanyakan anak-anak dan perempuan,” katanya melalui pesan suara dikutip dari Aljazeera.
Abu Safia mengatakan staf rumah sakit bergegas ke lokasi kejadian, mengambil jenazah, mengumpulkan sisa-sisa dan menyelamatkan orang-orang yang terjebak.
“Kami sudah beroperasi dengan sumber daya yang sangat minim, itulah sebabnya sebagian besar staf kami sekarang sibuk menyelamatkan yang terluk karena kurangnya ambulans dan sumber daya,” kata dokter anak tersebut.
“Situasinya sejujurnya sangat mengerikan. Kami tidak dapat mengatasi banyaknya korban luka dan korban yang tiba di Rumah Sakit Kamal Adwan,” imbihnya.
Secara terpisah pada hari yang sama, setidaknya 22 orang, termasuk 10 anak-anak, tewas dalam pemboman Israel di lingkungan Sheikh Radwan di Kota Gaza, kata juru bicara pertahanan sipil.
Adapun serangan pada hari Kamis itu terjadi beberapa jam setelah resolusi Dewan Keamanan yang menyerukan gencatan senjata di Gaza dan pembebasan para tawanan gagal disahkan ketika anggota tetap, AS, memberikan satu-satunya suara ‘Tidak’ di badan yang beranggotakan 15 negara tersebut.
Ini adalah keempat kalinya pemerintahan Presiden AS Joe Biden memveto resolusi tersebut sejak dimulainya perang.
Wakil utusan Robert Wood mengatakan AS, yang memberikan bantuan militer setidaknya $3,8 miliar kepada Israel setiap tahunnya, tidak dapat mendukung tindakan tersebut karena tidak terkait dengan pembebasan segera mereka yang ditahan di Gaza.
“Kami menegaskan sepanjang perundingan bahwa kami tidak dapat mendukung gencatan senjata tanpa syarat yang gagal membebaskan para sandera,” katanya.
Ketika upaya internasional terbaru untuk mengakhiri pertempuran gagal, warga sipil di Gaza terus menanggung beban terbesar, terutama di wilayah utara yang telah dikepung Israel selama lebih dari enam minggu.
Israel menyatakan bahwa mereka ingin mencegah pengelompokan kembali Hamas di wilayah tersebut.
Selain penembakan yang sedang berlangsung, penduduk di seluruh Gaza juga berjuang untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang semakin memburuk menjelang musim dingin.
Kebanyakan warga Palestina, yang terpaksa mengungsi dari gelombang demi gelombang serangan Israel, tinggal di tenda-tenda dan tempat perlindungan sementara yang tidak mampu menahan angin dingin dan hujan.