Lima Penyakit Berisiko Tinggi yang Diderita Calon Jemaah Haji Indonesia
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Mayoritas jemaah haji Indonesia memiliki lima risiko tinggi menderita penyakit. Karenanya, pada 2024 ini jemaah calon haji mesti menjalani pemeriksaan kesehatan tambahan. Karenanya, mulai 2024 ini pemerintah memperketat pengecekan mulai dari embarkasi, saat tiba di Arab Saudi hingga tiba kembali di tanah air.
Jika pada tahun lalu calon jemaah melunasi uang haji baru tes, namun pada tahun ini para calon jemaah harus melakukan pemeriksaan kesehatan dulu. Jika dinyatakan aman secara kesehatan, mereka bisa melunasi biaya perjalanan ibadah haji (BPIH).
"Tahun ini pemeriksaan kesehatan ditambah. Pemeriksaan kognitif, mental, dan kemampuan aktivitas melakukan kegiatan sehari-hari. Tahun lalu hanya MCU (medical check up)," kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, Liliek Mahendro Susilo saat memberikan paparan di Bimtek PPIH Arab Saudi 1445 Hijriah, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, seperti dilaporkan reporter erakini yang menjadi petugas Media Center Haji (MCH) Arab Saudi 2024 Fajar Wahyu Hermawan, Sabtu (23/3/2024).
Liliek menuturkan, pemeriksaan tambahan ini dimaksudkan untuk menskrining risiko demensia calon jemaah haji. Tahun lalu, kata Lilek, jemaah haji yang mengalami demensia mencapai 431 orang . Sedangkan Jumlah jemaah lansia pada 2023 mencapai sekitar 66 ribu atau 30 persen dari total jumlah jemaah pada 2023. Hal itu menjadikan jumlah jemaah lansia pada 2023 paling tinggi sepanjang digelarnya ibadah haji di Indonesia.
"Pasien demensia ini cukup merepotkan jemaah satu rombongannya. Mungkin satu minggu pertama tidak masalah, tapi selanjutnya kan mereka juga berpikir kapan kami beribadahnya?" ujar Liliek.
Fajar Wahyu Hermawan juga melaporkan, Liliek menyebut bahwa berdasarkan hasil istitha'ah kesehatan, indikasi risiko tinggi mulai dari dislipidemia, hipertensi, diabetes melitus, kardiomegali, dan pneumonia.

















