Idul Adha tidak hanya menjadi momentum ibadah kurban bagi umat Muslim, tetapi juga menghadirkan beragam tradisi budaya khas di berbagai daerah Indonesia. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) – Pemerintah menetapkan Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu (27/5/2026). Di Indonesia banyak tradisi unik yang menarik untuk merayakan Idul Adha.
Idul Adha tidak hanya menjadi momentum ibadah kurban bagi umat Muslim, tetapi juga menghadirkan beragam tradisi budaya khas di berbagai daerah Indonesia. Perayaan hari besar keagamaan ini bahkan menjadi ajang pelestarian adat turun-temurun yang sarat makna spiritual, kebersamaan, hingga potensi wisata budaya.
Dari arak-arakan hasil bumi hingga prosesi unik menghias sapi kurban, setiap daerah memiliki cara berbeda dalam menyambut Idul Adha. Berikut lima tradisi khas Idul Adha di Indonesia:
1. Apitan, Semarang
Tradisi Apitan berasal dari penanggalan Jawa, yakni bulan Apit yang berada di antara bulan Syawal dan Zulhijah. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan rezeki yang diperoleh sepanjang tahun.
Perayaan Apitan biasanya diawali dengan pertunjukan seni tradisional seperti kuda lumping yang memeriahkan suasana desa. Puncak acara ditandai dengan arak-arakan hasil bumi yang kemudian diperebutkan warga.
Masyarakat percaya hasil panen yang diperoleh dari tradisi tersebut membawa berkah dan keberuntungan. Selain sarat nilai spiritual, Apitan juga menjadi hiburan rakyat yang memperkuat kebersamaan sekaligus menjaga kearifan lokal.
2. Gamelan Sekaten, Surakarta
Tradisi Gamelan Sekaten memiliki sejarah panjang sejak era Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung sekitar tahun 1644 Masehi. Dalam tradisi ini, dua perangkat gamelan pusaka, yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, ditabuh pada momen besar Islam, termasuk Idul Adha.
Usai salat Idul Adha, masyarakat memadati area keraton untuk menyaksikan alunan gamelan sakral tersebut. Tradisi ini semakin unik karena pengunjung biasanya turut mengunyah kinang atau sirih yang dipercaya membawa kesehatan dan umur panjang. Perpaduan nuansa religius, musik tradisional, dan sejarah kerajaan menjadikan Sekaten sebagai salah satu atraksi budaya paling ikonik di Jawa.
3. Grebeg Gunungan, Yogyakarta
Keraton Yogyakarta rutin menggelar Grebeg Besar atau Grebeg Gunungan sebagai bagian dari perayaan Idul Adha. Tradisi ini berupa kirab tujuh gunungan berisi hasil bumi yang diarak dari keraton menuju sejumlah lokasi, seperti Masjid Gede Kauman, Pendopo Pengulon, dan Puro Pakualaman.
Gunungan tersebut kemudian diperebutkan masyarakat karena dipercaya membawa keberkahan, rezeki, dan keselamatan. Tak hanya menjadi simbol rasa syukur, Grebeg Gunungan juga menjadi tontonan budaya yang memikat wisatawan karena menghadirkan perpaduan unsur religi, tradisi keraton, dan semangat kebersamaan masyarakat.
4. Manten Sapi, Pasuruan
Masyarakat Pasuruan memiliki tradisi unik bernama Manten Sapi dalam menyambut Idul Adha. Hewan kurban yang akan disembelih diperlakukan layaknya pengantin dengan berbagai hiasan khas.
Sapi-sapi dimandikan, diberi kalung bunga tujuh rupa, dibalut kain putih menyerupai kafan, hingga dihiasi sorban dan sajadah. Setelah dirias, sapi diarak menuju masjid diiringi warga sekitar.
Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap hewan kurban sekaligus simbol ketulusan dan keikhlasan dalam beribadah. Prosesi meriah tersebut juga menjadi daya tarik budaya yang unik dan penuh makna.
5. Mepe Kasur, Banyuwangi
Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, memiliki tradisi Mepe Kasur atau menjemur kasur menjelang Idul Adha. Tradisi ini dilakukan serentak dengan menjemur kasur merah-hitam di depan rumah masing-masing warga. Warna merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam melambangkan kelanggengan dan keteguhan hidup.
Tradisi ini dipercaya sebagai upaya menolak bala sekaligus menjaga keharmonisan rumah tangga. Pemandangan deretan kasur berwarna mencolok yang dijemur bersamaan menciptakan suasana unik dan fotogenik yang selalu menarik perhatian wisatawan.
Beragam tradisi tersebut menunjukkan kekayaan budaya Indonesia dalam menyambut hari besar keagamaan. Perpaduan nilai religius, seni tradisional, dan kebersamaan masyarakat membuat Idul Adha tidak hanya menjadi momen sakral, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memikat wisatawan domestik maupun mancanegara.