Cinta Harus Jadi Jiwa dalam Pembelajaran Madrasah
Akhmad Baihaqi Arsyad
PURWOREJO, (ERAKINI) – Suasana seminar pendidikan di Purworejo, Jumat (7/11/2025), mendadak cair dan penuh tawa ketika para guru madrasah diminta mempraktikkan ekspresi ‘guru tanpa cinta’ dan ‘guru penuh cinta’. Wajah-wajah serius seketika berubah lucu saat para peserta menirukan gaya guru galak yang menatap tajam, lalu berganti menjadi guru penyayang dengan senyum lembut dan tatapan ramah.
“Kalau jadi murid, mau belajar sama yang mana?” tanya Wibowo Prasetyo, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Komisi VIII, disambut teriakan kompak para peserta, “Yang senyum, Pak!” Tawa pun pecah, dan suasana seminar berubah hangat.
Seminar bertajuk ‘Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning Madrasah’ yang digelar di Hotel Plaza Purworejo itu diikuti ratusan guru dan tenaga kependidikan madrasah dari berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo.
Dalam paparannya, Wibowo menegaskan bahwa cinta bukan sekadar emosi, melainkan energi spiritual yang menghidupkan proses belajar mengajar.
“Guru yang mengajar dengan cinta tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga menanamkan nilai. Ia tidak sekadar mendidik pikiran, tapi juga menumbuhkan hati,” ujar politisi dari Dapil VI Jawa Tengah tersebut.
Menurut mantan wartawan ini, pendidikan di madrasah tidak boleh kehilangan sentuhan kasih sayang, karena di situlah letak kekuatan karakter Islam yang sejati.
“Cinta dalam pendidikan itu bukan kelembekan, tapi kekuatan moral. Ia membuat guru sabar, membuat murid semangat, dan menjadikan ilmu bercahaya,” tambahnya.
Wibowo juga menjelaskan bahwa nilai cinta bisa diintegrasikan di setiap pelajaran, tidak hanya di bidang agama.
“Guru IPA bisa mengajarkan cinta lewat keindahan ciptaan Allah. Guru Matematika bisa menanamkan nilai ketekunan. itu bisa hadir di mana saja, asal guru mau menghadirkannya,” jelasnya.
















