Musim Kemarau 2026 Terparah dalam 30 Tahun, Karhutla Lebih Mengancam
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dengan durasi lebih panjang serta curah hujan di bawah normal, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, kondisi curah hujan pada musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih rendah dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir.
"Dengan hujan rata-rata di bawah normal dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan di tahun ini akan lebih rendah atau di bawah normal," ujar Teuku Faisal usai Rapat Koordinasi Terbatas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2026, di Jakarta, di Kementerian Kehutanan, Jakarta, Senin (6/4/2026).
BMKG memperkirakan musim kemarau mulai terjadi pada April hingga Mei, mencapai puncak pada Agustus, dan berakhir pada September atau awal Oktober. Hingga akhir Maret 2026, sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat signifikan pada April hingga Juni, seiring meluasnya wilayah yang terdampak.
Beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau, yakni sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.
















