BMKG menyampaikan bahwa musim kemarau 2025 belum merata dan cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di berbagai wilayah. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa musim kemarau 2025 belum merata dan cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di berbagai wilayah.
Hal itu disampaikan melalui siaran resmi prospek cuaca 30 Mei-5 Juni 2025 sebagaimana dilihat dari laman resminya.
Menurut BMKG, dalam sepekan terakhir, kondisi cuaca ekstrem masih terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia, meskipun secara umum kondisi cuaca berada dalam fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau atau masa pancaroba.
Pada periode ini, pola cuaca umumnya ditandai dengan kondisi cerah berawan pada pagi hingga siang hari, kemudian berpotensi hujan yang disertai petir pada sore hingga malam.
"Sejumlah wilayah kembali mencatatkan curah hujan sangat lebat hingga ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor," kata pihak BMKG.
Berdasarkan data pengamatan, pada tanggal 28 Mei 2025, Stasiun Meteorologi Sultan Bantilan, Sulawesi Tengah mencatat curah hujan ekstrem sebesar 193.2 mm/hari. Hujan sangat lebat juga tercatat di beberapa lokasi lainnya, antara lain Stasiun Meteorologi Torea, Papua Barat (83.5 mm/hari) pada 24 Mei, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, Jawa Tengah (83.2 mm/hari) pada 26 Mei, dan Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut, Kalimantan Tengah (83.0 mm/hari) pada 27 Mei.
"Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian wilayah mulai mengalami transisi menuju musim kemarau, dinamika cuaca skala lokal maupun regional masih cukup aktif dan mampu memicu kejadian hujan signifikan di berbagai daerah di Indonesia," katanya.
Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di sejumlah wilayah Indonesia dipicu oleh kombinasi beberapa fenomena atmosfer. MJO (Madden-Julian Oscillation) saat ini berada pada fase 4 (Maritime Continent), meskipun kontribusinya terhadap pembentukan awan hujan mulai menurun.
Namun, aktivitas gelombang atmosfer lain seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Low Frequency masih terpantau aktif dan diperkirakan berlanjut dalam sepekan ke depan.
"Ketiga gelombang ini berperan penting dalam memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah, khususnya di kawasan barat, tengah, dan timur Indonesia," katanya.
Di sisi lain, labilitas atmosfer skala lokal di wilayah selatan Indonesia turut memperkuat proses konvektif yang menyebabkan hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat. Selain itu, interaksi regional yang dipicu oleh front dingin dari Australia bagian selatan telah memicu pembentukan sirkulasi siklonik atau sistem tekanan rendah di selatan Indonesia, yang turut memperbesar peluang terjadinya hujan dengan durasi lebih lama dan cakupan wilayah yang luas.
Mengingat atmosfer bersifat sangat dinamis, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama di masa transisi seperti saat ini.
Meski beberapa wilayah di Sumatera dan Jawa masih berpotensi mengalami hujan berdurasi lama, hujan deras berdurasi singkat yang disertai petir, kilat, dan angin kencang masih mungkin terjadi secara tiba-tiba di berbagai daerah.
"Penting untuk terus memantau informasi cuaca resmi dan mengambil langkah mitigasi yang diperlukan guna mengurangi dampakrisikobencana hidrometeorologi," demikian kata pihak BMKG.