Ilustrasi - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem. Sebanyak 14 wilayah siaga angin kencang hingga 31 Juli 2026. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Meskipun musim kemarau semakin mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, potensi cuaca ekstrem masih membayangi berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas sedang masih berpeluang mengguyur sejumlah provinsi, sementara 14 wilayah ditetapkan dalam status siaga terhadap potensi angin kencang selama periode 27–31 Juli 2026.
Secara umum, kondisi cuaca di Indonesia diprediksi didominasi langit cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, masyarakat diminta tidak lengah karena peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Daerah yang diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang meliputi Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, serta Papua Pegunungan.
Selain ancaman hujan, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi angin kencang yang diprakirakan melanda 14 wilayah, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau yang kini semakin meluas berpotensi memicu cuaca panas dengan kelembapan udara yang lebih rendah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat paparan panas, hingga gangguan kesehatan bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat diimbau menggunakan pelindung atau tabir surya untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca yang semakin kering meningkatkan peluang munculnya titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, masyarakat bersama pemerintah daerah diminta memperketat pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
BMKG meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering.
Selain itu, BMKG juga meminta warga segera melapor kepada pihak berwenang apabila menemukan titik api maupun indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum meluas.
Di sisi lain, BMKG menegaskan bahwa dominasi musim kemarau bukan berarti ancaman cuaca ekstrem telah berakhir. Hujan ringan hingga sedang yang disertai kilat, petir, maupun angin kencang masih berpotensi muncul secara lokal di sejumlah wilayah.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak yang dapat ditimbulkan, seperti pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan air, hingga sambaran petir.
Dengan dinamika cuaca yang masih fluktuatif hingga penghujung Juli, masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG agar dapat mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi maupun dampak musim kemarau yang semakin menguat.