SEMARANG, (ERAKINI) - Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) resmi kedatangan Profesor (Guru Besar) baru. Dwi Ratmono telah dikukuhkan sebagai Guru Besar Akutansi dalam bidang kepakaran Occupational Fraud pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro (Undip).
Kini Dwi Ratmono di usia 45 tahun resmi menyandang gelar Prof, Dr, SE, Akt, MSi. Bagi SMA Tarnus pencapaian ini sangat istimewa dan membanggakan, sekaligus menjadi catatan sejarah. Sebab, Dwi Ratmono merupakan Guru Besar ke-6 dari alumni SMA Tarnus dan Profesor pertama dari Angkatan 7 (TN 7).
Sebelumnya Ikastara sudah memiliki 5 Guru Besar. Mereka adalah Teuku Faisal Fathani (TN 1), Guru Besar Teknik Sipil UGM yang meraih gelar Profesor pada tahun 2017. Kemudian, Putu Doddy Sutrisna (TN 2), Guru Besar Teknik Kimia Universitas Surabaya, yang meraih gelar Profesor tahun 2023.
Selanjutnya, Enade Perdana Istyastono (TN 5), Guru Besar Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal Universitas Sanata Dharma yang meraih gelar Profesor pada tahun 2020. Lalu, Chandra Wahyu Purnomo (TN 6), Guru Besar Functional Materials UGM yang meraih gelar Profesor pada tahun 2023.
Kemudian, Yos Sunitiyoso (TN 4), dikukuhkan sebagai Guru Besar Pemodelan Keputusan Bisnis di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Juni 2025. Yos Sunitiyoso sekaligus menjadi Profesor pertama alumni SMA Taruna Nusantara dari ITB.
Dwi Ratmono merupakan alumni SMA Taruna Nusantara tahun 1999. Lulus dari SMA Tarnus, ia menempuh pendidikan tinggi di Undip dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Prof Dwi menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi (S1) dan Magister Sains (S2) di Undip, sebelum meraih gelar Doktor (S3) dari UGM.
Dengan latar belakang akademik yang kuat di bidang tata kelola pemerintahan dan keuangan negara, Prof Dwi selama ini mengajar Administrasi Publik di Undip. Ia memiliki kualifikasi Venia Legendi di bidang Administrasi Publik, yang merupakan kewenangan akademik untuk mengajar dan mengembangkan disiplin ilmu tersebut. Selain itu, ia juga menjalankan peran sebagai dosen profesional paruh waktu pada Departemen Administrasi Publik Undip
Dalam aktivitas pengajarannya, fokus utama diarahkan pada bidang keuangan publik, dengan perhatian khusus pada keterkaitan lintas disiplin, terutama aspek ekonomi negara. Pendekatan interdisipliner tersebut menempatkannya sebagai akademisi yang konsisten mengaitkan teori administrasi publik dengan dinamika kebijakan fiskal dan pengelolaan ekonomi pemerintahan.
Sorot Masalah Fraud dan Korupsi
Dwi Ratmono secara resmi dikukuhkan menjadi Guru Besar dalam bidang kepakaran Occupational Fraud pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip pada 30 Januari 2026.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Model Manajemen Risiko Fraud Integratif Bagi Organisasi”, Prof Dwi menegaskan bahwa fraud, khususnya korupsi, masih menjadi tantangan serius bagi berbagai organisasi di Indonesia. Berbagai model penanganan yang ada dinilai belum cukup komprehensif untuk menjawab kompleksitas praktik fraud yang terus berkembang.
Sebagai solusi, Prof Dwi memperkenalkan model Fraud Risk Management (FRM) yang integratif, mencakup aspek pencegahan, pendeteksian, dan tindak lanjut, serta dikembangkan pada level individu, organisasi, industri, hingga negara. Model ini juga memanfaatkan pendekatan teknologi, termasuk forensik digital, big data, dan data analytics, sebagai upaya memperkuat sistem deteksi dan pencegahan fraud secara berkelanjutan.
Prof Dwi juga merekomendasikan perluasan kajian akuntansi forensik agar tidak hanya fokus pada audit investigasi (setelah kejadian), melainkan harus memperkuat pilar Pencegahan dan Deteksi. Prof Dwi menekankan pentingnya penguasaan Forensik Digital, Big Data Analytics, serta penguatan Whistleblowing System demi menjaga keberlanjutan organisasi yang berintegritas.
“Peningkatan jumlah dan kerugian akibat fraud menuntut penerapan model manajemen risiko fraud yang bersifat integratif, sehingga risiko dapat diminimalkan sejak dini dan kerugian bagi organisasi bisnis maupun pemerintahan dapat ditekan,” ungkap Prof Dwi.
Bagi Prof Dwi, pencapaian ini merupakan buah dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak masa pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Karakter yang ditempa di Lembah Tidar terbukti mampu membentuk pribadi yang tangguh untuk meraih puncak prestasi akademik di usia muda.
Dalam sebuah kesempatan menyampaikan pesan singkat kepada salah satu Pamong/Guru SMA Tarnus, Dwi Ratmono menegaskan bahwa model pendidikan di SMA Tarnus yang menekankan pada kerja keras, konsistensi, dan kolaborasi, telah menjadi motor penggerak utama dalam mendukung perjalanan kariernya.
Pada saat pengukuhan Guru Besar tersebut, hadir juga beberapa alumni SMA Taruna Nusantara, Anantha Budhy Prakosa, ST, MSi selaku Manager Kerjasama Direktorat Kerjasama dan Inovasi Undip (TN 6); Dr Ir Aris Triwiyatno, ST, MT, IPU, ASEAN Eng, APEC Eng, dari Fakultas Teknik Elektro Undip (TN 1); dr Fanti Saktini, MSi, Med, SpKJ, AHK (TN 7), Annisa Nur Fitri, ST (TN 7); AKBP Donny Sardo Lumbantoruan, SIK, MK selaku Wadir Resnarkoba Polda Jateng (TN 7); dan Kombes Pol Benny Setyowadi, SIK, MSc dari SDM Mabes Polri (TN 7).