Pilkada Jakarta 2024 diikuti tiga pasangan, yakni nomor urut 1 Ridwan Kamil-Suswono, nomor urut 2 Dharma Pongrekun-Kun Wardana, dan nomor urut 3 Pramono Anong-Rano Karno. Foto: Erakini/Dok
JAKARTA, (ERAKINI) - Indonesia akan menggelar Pilkada Serentak pada Rabu, 27 November 2024. Di Jakarta, warga ibu kota akan memilih calon gubernur dan wakil gubernur periode 2024-2029.
Pilkada Jakarta hanya mencakup pemilihan gubernur dan wakil gubernur, sehingga pemilih hanya diberi satu kertas suara untuk memilih pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.
Jakarta menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang menggelar pemilihan umum hanya untuk memilih gubernur dan wakil gubernur, tanpa memilih wali kota atau bupati.
Jakarta, sebagai ibu kota negera Indonesia sejak awal kemerdekaan, dipimpin oleh gubernur. Pada awalnya, gubernur Jakarta dipilih melalui sidang di DPRD. Baru pada tahun 2007 digelar pemilihan umum langsung.
Pada pemilihan pertama ini, Fauzi Bowo yang kala itu menjabat sebagai wakil gubernur, terpilih sebagai gubernur. Kemudian, pada pemilihan berikutnya pada 2012, Joko Widodo terpilih menjadi gubernur, sebelum akhirnya jabatan tersebut beralih ke Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dan kemudian dilanjutkan oleh Djarot Saiful Hidayat. Terakhir Jakarta dipimpin oleh Gubernur Anies Baswedan.
Berikut kilas balik Pilkada DKI Jakarta sejak 2007: 1. Pilkada 2007
Pada tahun 2007, DKI Jakarta untuk pertama kalinya menyelenggarakan Pilkada langsung. Pilkada tersebut menarik perhatian besar, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang bertarung dalam Pilkada tersebut adalah Adang Daradjatun-Dani Anwar dan Fauzi Bowo-Prijanto.
Pasangan Adang-Dani Anwar dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang pada Pemilu 2004 memperoleh 23,3 persen suara dan 24,0 persen kursi di DPRD DKI. Sementara itu, Fauzi Bowo (Foke)-Prijanto diusung oleh koalisi 19 partai politik, termasuk Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Golkar, PAN, PPP, dan lain-lain. Gabungan 19 partai ini menguasai 72,4 persen suara dan 70,7 persen kursi di DPRD DKI.
Secara teoritis, pasangan Fauzi Bowo-Prijanto yang didukung oleh koalisi besar tersebut diprediksi akan menang telak dengan 72,4 persen suara. Namun, kenyataannya meski dikeroyok oleh 19 partai, pasangan Adang-Dani yang hanya didukung oleh PKS mampu meraih perolehan yang cukup signifikan.
Pada akhirnya, Fauzi Bowo-Prijanto berhasil memenangkan Pilkada 2007 dengan 57,9 persen suara, sementara Adang-Dani memperoleh 42,1 persen suara.
2. Pilkada 2012
Pada 2012, DKI Jakarta kembali menggelar pilkada langsung untuk kedua kalinya. Enam pasangan calon berkompetisi, yaitu Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara), Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini, Faisal Basri-Biem Triani Benjamin, dan Alex Noerdin-Nono Sampono.
Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli didukung oleh Partai Demokrat, PAN, Hanura, PKB, PBB, PMB, dan PKNU. Sedangkan pasangan Hendardji-Ahmad Riza Patria maju dari jalur independen.
Sementara itu, pasangan Jokowi-Ahok didukung oleh PDIP dan Gerindra, Hidayat-Didik didukung oleh PKS, dan Faisal Basri-Biem Benjamin maju sebagai calon independen. Alex Noerdin-Nono Sampono didukung oleh partai Golkar, PPP, PKPB, dan PNI Marhaenisme.
Pada putaran pertama, pasangan Jokowi-Ahok berhasil meraih kemenangan dengan 1.847.157 suara, sedangkan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli berada di posisi kedua dengan 1.476.648 suara. Hidayat-Didik menempati posisi ketiga dengan 508.113 suara. Diikuti oleh Faisal Basri-Biem Benjamin di urutan keempat dengan 215.935 suara, Alex Noerdin-Nono Sampono di urutan kelima dengan 202.643 suara, dan Hendardji-Ahmad Riza Patria di posisi terakhir dengan 85.990 suara.
Lantaran tidak ada calon yang meraup 50%+1 maka pemilihan lanjut ke putaran kedua. Di putaran kedua pasangan yang bertarung adalah Jokowi-Ahok vs Foke-Nara. Putaran kedua akhirnya dimenangkan pasangan Jokowi-Ahok dengan perolehan 2.472.130 suara (53,82%) vs 2.120.815 (46,18%).
3. Pilkada 2017
Jakarta kembali menggelar pilkada langsung pada 2017. Pilgub DKI 2017 dilaksanakan dalam dua putaran, yakni pada 15 Februari 2017 dan 19 April 2017. Pemilihan ini dimajukan dari jadwal sebelumnya, yaitu 11 Juli 2017, untuk mengikuti jadwal Pilkada Serentak gelombang kedua.
Dalam Pilkada 2017, incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mencalonkan diri bersama Djarot Saiful Hidayat. Kemudian Agus Harimurti Yudhoyono berpasangan dengan Sylviana Murni, dan Anies Baswedan berpasangan dengan Sandiaga Uno.
Pasangan nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni diusung Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN, serta didukung PMB, Buruh, Pelopor, PKNU, PKDI, PPDI, Pakar Pangan. Sementara pasangan nomor urut 2 Ahok-Djarot diusung oleh PDI-P, Golkar, Hanura, NasDem, serta didukung PSI. Sedangkan pasangan nomor urut 3 Anies-Sandi diusung Partai Pengusung dan PKS, serta didukung Perindo dan
Idaman.
Hasil Pilkada DKI 2017 juga sangat mengecutkan. Sebab elektabilitas pasangan Ahok-Djarot cukup tinggi dan digadang-gadang menang satu putran justru hanya mendapat 42,96% suara, disusul Anies-Sandi 39,97%, dan Agus-Sylviana 17,06%.
Karena tidak ada pasangan yang meraih lebih dari 50% suara, maka dua pasangan teratas melaju ke putaran kedua. Pada putaran kedua yang digelar pada 19 April 2017, hasil akhir kembali mengejutkan. Anies-Sandi berhasil unggul dengan perolehan 57,96% suara atau 3.240.987 suara, mengalahkan pasangan Ahok-Djarot yang hanya memperoleh 42,04% atau 2.350.366 suara.
4. Pilkada 2024
Pilkada DKI Jakarta 2024 semula dijadwalkan pada 2022, namun ditunda selama dua tahun untuk ikut Pilkada Serentak.
Pilkada Jakarta 2024 diikuti tiga pasangan, yakni nomor urut 1 Ridwan Kamil-Suswono, nomor urut 2 Dharma Pongrekun-Kun Wardana, dan nomor urut 3 Pramono Anung-Rano Karno.
Ridwan Kamil-Suswono diusung Koalisi Indonesia Maju Plus yang tergabung dalam 16 partai, yakni Gerindra, PKS, Golkar, Demokrat, NasDem, PSI, PKB, Gelora, PBB, Perindo, PAN, PPP, PKN, Prima, Garuda, dan Partai Buruh.
Sedangkan Dharma Pongrekun-Kun Wardana maju lewat jalur independent. Sementara pasangan Pramono Anung-Rano Karno diusung oleh PDIP, Hanura, dan Partai Umat.
Melihat dukungan partai pengusung, menarik apakah pasangan Ridwan Kamil-Suswono bakal menang mutlak, atau terjadi lagi kejutan sebagaimana Pilkada 2017. Menarik untuk ditunggu.