Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama, Fesal Musaad saat menjadi pemateri Mainstreaming PAUD Holistik Integratif, di Hotel Horison Ultima Balikpapan, Jumat (17/4/2026). (Foto: Kemenag).
BALIKPAPAN, (ERAKINI) – Kementerian Agama (Kemenag) terus mendorong transformasi pendidikan anak usia dini melalui penerapan Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) yang dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap anak mendapatkan layanan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga kesehatan, pengasuhan, perlindungan, dan pembentukan karakter.
Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama, Fesal Musaad, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini harus dipandang sebagai proses yang menyeluruh, bukan sekadar kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
"PAUD tidak cukup hanya pembelajaran, tetapi harus terintegrasi dengan kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak," kata Fesal saat menjadi pemateri Mainstreaming PAUD Holistik Integratif, di Hotel Horison Ultima Balikpapan, Jumat (17/4/2026).
Ia mengatakan, pendekatan tersebut dijalankan melalui Raudhatul Athfal (RA) dengan mengacu pada regulasi terbaru serta diperkuat melalui Kurikulum Berbasis Cinta. Kurikulum ini menanamkan nilai-nilai empati dan karakter melalui konsep Panca Cinta, yakni cinta kepada Tuhan, diri sendiri, sesama, ilmu pengetahuan, lingkungan, dan bangsa.
Pembentukan karakter sejak usia dini, kata dia, menjadi bekal penting bagi anak untuk menghadapi tantangan masa depan. Karena itu, pendidikan harus berjalan beriringan dengan upaya membangun kepedulian sosial, kebiasaan hidup sehat, serta lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.
Dalam implementasinya, PAUD HI mencakup empat layanan utama, yaitu pendidikan, kesehatan dan gizi, pengasuhan, serta perlindungan anak. Berbagai kegiatan dilakukan secara terpadu, mulai dari pemantauan tumbuh kembang, edukasi pengasuhan bagi orang tua, pembiasaan hidup bersih dan sehat, hingga pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam aktivitas sehari-hari.
Ditegaskan oleh Fesal bahwa keberhasilan pendekatan tersebut tidak mungkin dicapai oleh lembaga pendidikan semata. Ia menilai kolaborasi antara guru, orang tua, tenaga kesehatan, dan berbagai layanan sosial menjadi kunci agar setiap anak memperoleh haknya secara menyeluruh. "Keberhasilan PAUD Holistik Integratif bergantung pada kolaborasi semua pihak. Guru tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua, layanan kesehatan, hingga pemerintah daerah harus bergerak bersama agar anak mendapatkan layanan terbaik," ujarnya.
Penguatan PAUD HI, lanjut dia, juga menjadi bagian dari agenda besar Direktorat GTKMadrasah pada 2026 yang berfokus pada tiga prioritas, yakni meningkatkan kesejahteraan guru, memperkuat profesionalisme pendidik, dan mempercepat digitalisasi layanan GTK.
Adapun Kementerian Agama mencatat sebanyak 479.802 guru madrasah telah terdata dalam sistem sertifikasi. Dari jumlah tersebut, 341.717 guru menjadi kandidat peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Fesal juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak.
Pengawasan terhadap penggunaan gawai, menurutnya, perlu dilakukan sejak dini agar anak tidak terjebak pada kecanduan gim maupun berbagai persoalan sosial yang dapat menghambat perkembangan mereka. "Banyak tantangan baru di era digital. Karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting agar anak dapat memanfaatkan teknologi secara sehat dan tetap berkembang sesuai nilai-nilai yang kita harapkan," katanya.