Nani Rohmani, Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Bandung saat menyampaikan materi pada Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah di Daerah 3T Maluku Utara, yang digelar Madrasah Reform (REP-MEQR), Kemenag, di Kota Ternate. Foto: Erakini/Thomas Pulungan
TERNATE, (ERAKINI) - Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mungkin membosankan bagi siswa karena terlalu teroritis. Belum lagi keterbatasan alat praktik seperti laboratorium.
Tapi, guru sebenarnya bisa menciptakan metode agar belajar IPA menyenangkan bagi anak didik, dan praktik tanpa lab. Hal inilah yang diajarkan Nani Rohmani, Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Bandung pada Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah di Daerah , yang digelar atau Realizing Education's Promise-Madrasah Education Quality Reform (), Kementerian Agama (Kemenag) di Kota Ternate.
Menjadi Fasilitator/Instruktur pada Kelas MTs IPA, Nani Rohmani menekankan bahwa belajar IPA itu harus dibuat sederhana. Guru-guru MTs IPA di daerah 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal) jangan menyerah dengan keterbatasan alat praktik.
"Jargon saya itu, praktik IPA tanpa Lab. Jadi saya selalu dekatkan guru-guru itu praktik sederhana tetapi tidak mengecilkan konsep," ujar Nani di sela-sela memberikan pelatikan di Hotel Bela Ternate, Kamis (15/8/2024).
Nani menyebutkan bahwa tidak semua sekolah madrasah memiliki lab, terlebih di daerah 3T. Bahkan, kalaupun ada sekolah yang memiliki lab lengkap, terkadang keterampilan guru belum tentu mumpuni.
"Makanya, ketika saya bergerak di MEQR, saat pelatihan saya tidak mungkin meminta alat lab yang seharusnya dan presisi. Saya dekatkan guru-guru menggunakan alam raya ini untuk praktik IPA," ucapnya.
Nani mengaku selama empat tahun terlibat dalam program MEQR, rata-rata guru senang dengan metode yang diajarkan. Banyak guru yang setelah mendapatkan pelatihan, sadar agar konsep-konsep sederhana dalam mengajar dengan alat-alat yang mudah didapat di alam.
Nani, yang kebetulan juga sebagai Asesor Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), mengaku sering melihat observasi kelas dan menemukan guru-guru masih mengajar teoritis, hafalan, dan hitungan. Sementara kurikulum sekarang tujuan belajar adalah esensial atau manfaat buat anak didik.
"Makanya saya ingin ubah (mindset) bahwa guru itu fasilitator, dia memberdayakan jangan berpusat pada dirinya, tapi peserta didik. Dari peserta didik itu akan muncul kesadaran bahwa praktik itu tidak harus yang susah, menggunakan alat lab yang susah, yang penting konsepnya jelas," bebernya.
Nani menjelaskan bahwa usia pendidikan MTs atau 12-15 tahun, merupakan masa pendidikan konsep. Di usia ini anak didik akan merekam konsep apa saja yang diajarkan. Artinya, konsep yang diajarkan itulah yang diterima anak didik.
"Rata-rata guru tidak mendekatkan apa yang dinginkan pemerintah dalam kurikulum. Sebenarnya, belajar IPA itu dari keterampilan proses, baru dia mendapatkan pemahaman. Contohnya mengukur, guru-guru selalu terpaku mengajrkan definisi dari mengukur itu. Setelah itu praktiknya yang lurus-lurus, misalnya penggaris, pengukur, panjang lebar. Kalau panjang satuannya sentimeter kalau berat kilogram, tidak menarik kan," ucapnya.
Padahal, kata dia, dari pelajaran sepele untuk mengukur, guru bisa mencari hal-hal sederhana untuk dicerna anak didik. Misalnya, meminta anak didik mengukur sepatu atau baju yang mereka pakai setiap hari. Ada banyak pengetahuan yang didapat anak dari cara sederhana ini. Bahwa mengukur sepatu bukan dari sepatunya tetapi dari kaki. Dan ukuran kaki juga berbeda saat polos dengan saat mengenakan kaos kaki.
"Jadi, jangan mengukur itu yang lurus-lurus aja, gampang, tidak ada tantangannya dan apa manfaatnya. Nanti anak-anak berpikir bahwa ukuran itu tahunya cuma lebar, satuan, kilogram, padahal itu tidak bermakna," jelasnya.
Maka itu, dalam kelas MTS IPA ini ia menantang para guru-guru madrasah belajar praktik yang lebih sederhana tetapi bermakna. Seperti mengukur peta dengan telapak tangan. "Mereka akhirnya belajar memprediksi pakai jengkal. Saya hanya mengembalikan teori bahwa alat ukur seperti penggaris hanya kesepakatan bersama secara internasional. Jadi boleh mengukur pakai jengkal, pakai tali," ucapnya.
"Alat ukur tidak hanya penggaris. Misalnya, baju kan ada ukuran baju, jadi guru itu jangan terpaku bahwa ukuran itu pada penggaris saja," lanjutnya.
Contoh sederhana lainnya yang diajarkan kepada guru-guru adalah soal cairan. Guru jangan berpikir bahwa cairan hanya air, tetapi bisa minyak, sirop, kecap, susu. Kemudian praktik membedakan cairan bening dan gelap. Ukuran bening dan gelap tidak semata karena warna.
Misalnya, guru dapat menyorot menggunakan laser bahwa susu, kecap, ternyata tidak tembus cahaya. Sementara minyak tembus cahaya. Itu artinya, dari praktik sederhana tanpa lab ini, siswa dapat mengetahui bahwa yang disebut benda bening itu adalah yang tembus cahaya, artinya pembiasan. Sementara susu, walaupun warnanya putih tapi tidak tembus cahaya sehingga termasuk benda gelap.
"Jadi hal-hal praktik sederhana seperti ini, jangan langsung rumus. Itu tidak menarik buat anak-anak. Anak-anak akan terjebak pada keterampilan matematis dasar. Tapi kalau praktik, anak-anak lebih mudah memahami," ucapnya.
"Pemahamanan IPA yang diharapkan didapat anak didik adalah dimana dia melakukan percobaan sederhana untuk menjadi memori yang menyebabkan mereka ingat. Misalnya mengukur sepatu, buatkan kelompok, biarkan masing-masing mengeluarkan pendapatnya, maka di situ akan terjadi kolaborasi, diskusi, dan belajar. Guru yang baik itu fasilitator saja, lihat anak-anak diskusi, setelah itu penyimpulan, refleksikan," lanjut Nani.
Ia menilai kemampuan guru-guru madrasah di dareah 3T sebenarnya tidak tertinggal. Hanya, mereka memang kurang pengembangan diri dan pelatihan. Apalagi kebanyakan guru-guru masih honorer yang memiliki keterbatasan biaya.
"Setelah mengikuti pelatihan ini, mereka akhirnya menyadari bahwa MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) bersama, belajar bersama, itu penting. MEQR ni menurut saya sudah berhasil membangun itu," pungkasnya.
Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah Daerah 3 T di Provinsi Maluku Utara ini merupakan angkatan ke-6. Sebelumnya pelatihan serupa sudah dilaksanakan di Batam, Palembang, Pontianak, Kupang, dan Aceh.
Asisten Program Komponen 3 Project Management Unit (PMU) REP-MEQR Adib Zaenal Fanani, mengatakan, pelatihan angkatan ke-6 ini diikuti sebanyak 120 peserta yang difokuskan pada 3 kepulauan, yaitu Kepulauan Sula, Pulau Morotai, dan Pulau Taliabu.
Dalam kegiatan ini terdapat 4 kelompok/kelas pelatihan, yakni MI Literasi, MTs Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), MA Bahasa Inggris, dan Kepala Madrasah. PMU REP-MEQR menghadirkan 12 Fasilitator atau Instruktur selama kegiatan yang dilaksanakan sejak 13-17 Agustus 2024.