Ilustrasi - BMKG mengimbau masyarakat di 11 wilayah, termasuk Jakarta untuk siaga adanya potensi angin kencang hingga 21 Agustus 2025. (Foto: Akhmad Baihaqi Arsyad/Erakini).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau 11 wilayah untuk siaga adanya potensi angin kencang hingga 21 Agustus 2025. Hal itu disampaikan oleh dalam siaran resmi terkait prospek mingguan periode 19-21 yang dilansir Erakini dari laman resminya, Rabu (20/8/2025).
Berikut ini 11 wilayah yang diimbau oleh BMKG untuk siaga adanya potensi angin kencang!
1. Kep. Riau,
2. Jakarta,
3. Jawa Barat,
4. Bali,
5. NTB,
6. NTT,
7. Gorontalo,
8. Sulawesi Utara,
9. Maluku,
10. Papua Barat,
11. Papua Selatan.
Selain itu, BMKG juga mengimbau 12 wilayah untuk siaga adanya potensi hujan lebat, yaitu:
1. Kep. Riau,
2. Jawa Barat,
3. Jawa Tengah,
4. DI Yogyakarta,
5. Jawa Timur,
6. Kalimantan Barat,
7. Kalimantan Tengah,
8. Sulawesi Utara,
9. Sulawesi Barat,
10. Maluku Utara,
11. Maluku,
12. Papua Tengah.
BMKG juga menambahkan adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Bali, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
BMKG menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama yang membuat sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat, petir, serta angin kencang adalah keberadaan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang kini berada di fase ketiga.
MJO ini iperkirakan terus bergerak menuju fase keempat, yang berpengaruh langsung terhadap peningkatan pembentukan awan hujan, terutama di bagian barat Indonesia. Selain itu, BMKG juga mencatat adanya pengaruh dari gelombang atmosfer tropis seperti Gelombang Kelvin dan Mixed-Rossby Gravity, yang turut memperkuat potensi cuaca buruk.
“Anomali sinyal radiasi gelombang panjang keluar (Outgoing Longwave Radiation/OLR) yang bernilai positif menunjukkan aktivitas konvektif yang menguat di beberapa wilayah. Di sisi lain, terdeteksi pula sistem sirkulasi siklonik di wilayah barat Sumatra yang mengganggu pola angin dan membentuk area konvergensi serta belokan angin, yang menjadi pemicu tambahan terbentuknya awan hujan secara masif,” kata BMKG.