Masjid di Tanah Misi Katolik Mindiptana, Sebuah Potret Nyata Kerukunan Papua
Akhmad Baihaqi Arsyad
BOVEN DIGOEL, (ERAKINI) - Masjid Al-Muhajirin namanya. Sekilas, masjid dengan cat dominan berwarna hijau ini nampak sama seperti rumah ibadah umat Islam pada umumnya, dengan struktur bangunan yang terdapat kubah dan sejumlah tiang penyangga. Juga, di satu sudut Masjid terdapat bangunan ruang yang dimanfaatkan sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).
Namun, Masjid Al-Muhajirin ini memiliki nilai unik dan terbilang istimewa. Kenapa? Sebab, rumah ibadah umat Islam ini justru berada di dalam kompleks misi (agama Katolik) di Desa Mindiptana, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Berdirinya masjid ini pun berdampingan dengan gereja.
Tak ayal, keberadaan Masjid Al-Muhajirin ini menjadi sepenggal potret nyata kerukunan dan toleransi warga Mindiptana. Sehingga, pantas saja jika kawasan ini terpilih menjadi salah satu Desa Sadar Kerukunan dalam program yang digulirkan oleh Kementerian Agama (Kemenag).
Kita selama ini telah mengenal Kabupaten Boven Digoel sebagai tempat pengasingan Wakil Presiden Indonesia yang pertama, Bung Hatta. Mayoritas penduduk di wilayah ini beragama Katolik. Mereka hidup rukun bersama pemeluk agama lainnya, Kristen dan Islam. Fakta ini lah juga yang kemudian menjadi alasan Desa Mindiptana terpilih sebagai .















