Kisah Nadia Atmaji cukup menarik. Dari stasiun TV nasional ia mengejar mimpi yang tidak mudah, yakni bisa kuliah S2 di kampus ternama luar negeri. Foto: Blog Nadia Atmaji
JAKARTA, (ERAKINI) - Kisah srikandialumni SMA Taruna Nusantara yang satu ini cukup menarik. Dari stasiun TV nasional ia mengejar mimpi yang tidak mudah, yakni bisa di kampus ternama luar negeri.
Dia adalah Nadia Atmaji. Nadia kini memilih menjadi working mom, tetapi masih aktif sebagai penulis dan content creator di platform Instagram maupun YouTube. Nadia menyebut dirinya saat ini sebagai pencerita, lewat #MamanadBercerita.
Dirangkum Erakini, Rabu (24/9/2025), Nadia merupakan alumni SMA Taruna Nusantara tahun 2010 (TN 18). Setelah lulus SMA, Nadia memilih melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Namun, alih-alih menjadi praktisi hukum, seperti seniornya sesama jebolan Lembah Tidar, Kirana Diah Sastrawijaya (TN 9), yang kini menjadi advokat top di Indonesia.
Lulus dari FH UI, Nadia memulai karier sebagai jurnalis di Metro TV pada tahun 2015. Dari pemburu berita di lapangan, Nadia menjalani profesinya dengan bangga hingga menjadi produser dan presenter. Namun, dari depan layar kaca televisi yang membuat wajahnya dikenal luas, Nadia tetap menjaga asa bisa kuliah di luar negeri.
Nadia memang suka menulis. Melalui blog pribadinya, Nadia Atmaji kerap membagikan tulisan mengenai perjalanan hidupnya, termasuk mimpi dan kisahnya menempuh pendidikan di kampus luar negeri.
Sejak SMA, Nadia sudah bermimpi bisa masuk kampus terbaik dunia. Pada tahun pertama menjadi jurnalis TV, Nadia langsung mencoba mendaftar beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Kementerian Keuangan. Dengan segudang prestasi dan pengalaman ekstrakurikuler, ia cukup percaya diri bisa lolos.
Namun, kenyataan berkata lain, ia harus menerima penolakan. Meski demikian, Nadia tidak menyerah memburu beasiswa. Bahkan, Nadia harus menerima kenyataan enam kali mengalami kegagalan. Berbagai program beasiswa sudah ia coba, mulai dari Australia Awards, Chevening, hingga LPDP.
Semangat tak pernah padam akhirnya membuahkan hasil. Titik balik datang pada 2019, ketika ia bertemu mentor yang banyak memberikan masukan. Dengan bimbingan dan latihan intensif, ia semakin siap menulis esai serta menghadapi wawancara.
Nadia akhirnya lolos sebagai awardee beasiswa LPDP. Namun, ia harus kembali menunda mimpinya itu. Nadia belum bisa segera berangkat karena baru saja melahirkan putrinya. Sesuai kebijakan LPDP, keberangkatannya pun ditunda hingga 2021.
Dalam memilih universitas tujuan, Nadia mempertimbangkan tiga aspek, yakni kurikulum, kampus, dan kota. Sebagai seorang jurnalis, Nadia merasa masih perlu mempelajari lebih dalam mengenai digital media untuk pengembangan kariernya.
Setelah utak-atik website kampus mulai dari Ivy League, Oxford University, hingga Cambridge University, pilihannya pun jatuh ke University College London (UCL), Inggris, salah satu kampus terbaik dunia.
Sebab kampus ini menawarkan kurikulum yang sesuai dengan minatnya. Selain itu, kota London juga menarik hati Nadia karena menjadi rumah dari BBC, perusahaan broadcast global ternama dengan teknologi komunikasi yang sangat maju.
Nadia pun tak menyangka bisa diterima di UCL. Tetapi tidak mudah perjuangan Nadia menempuh pendidikan S2 di Inggris. Selama di London, Nadia harus menyeimbangkan kewajibannya sebagai mahasiswa dan seorang ibu. Sebagai mahasiswa, Nadia menemui banyak hal baru, terutama dalam sistem perkuliahan.
Di UCL mahasiswa dituntut untuk lebih proaktif dalam diskusi dan mempelajari reading materials. Berada di lingkungan internasional juga membuka wawasan Nadia terhadap berbagai perspektif global. Alhasil, Nadia menjadi lebih kritis dalam menganalisis sebuah fenomena dan menyampaikan opininya.
Nadia, yang saat itu masih menjadi koresponden lepas Metro TV untuk kawasan Inggris, juga mengalami salah satu momen bersejarah selama di London. Pada tahun 2022, Ratu Elizabeth II meninggal dunia. Sebagai kontributor, Nadia ditugaskan untuk meliput peristiwa tersebut. Hal ini menjadi sebuah momen berkesan baginya sekaligus sebuah tantangan karena bertepatan dengan tenggat waktu pengumpulan tesis.
Namun, tantangan terbesar bagi Nadia adalah menavigasi long distance relationship dengan anak dan suaminya. Perbedaan waktu tujuh jam antara London dan Jakarta cukup berat bagi Nadia yang tidak ingin melewatkan momen-momen penting bersama keluarganya.
Bahkan, tidak sedikit temannya yang menyayangkan pilihannya itu. "Waktu ambil S2, banyak yang bilang: 'Sayang banget, kamu akan kehilangan momentum di layar TV'. Saya pun sempat ragu. Meninggalkan karier yang mulai nyaman dan menunjukkan hasil, terasa seperti langkah mundur," sebut Nadia dikutip dari akun Instagramnya.
Tapi, perjuangan berat itu berhasil ia atasi. Nadia berhasil menyelesaikan studi masternya pada tahun 2022. Saat masih menempuh pendidikan di UCL, Nadia sempat ditawari pekerjaan di bidang public affairs atau kebijakan publik di salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara.
Namun, sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai penerima beasiswa LPDP, ia memilih kembali ke Tanah Air dan aktif berbagi pengalaman melalui media sosial dan program mentoring Indonesia Mengglobal.
Ia juga terbuka untuk membantu brand dalam merancang strategi pemasaran berbasis storytelling melalui endorsement, menjadi moderator, maupun pembawa acara (MC) dalam berbagai kegiatan, serta kolaborasi membahas seputar pendidikan, beasiswa, pengembangan diri, media, dan komunikasi.
"Sekarang, pekerjaan saya memang tidak lagi di depan layar. Tapi saya belajar bahwa setiap fase hidup membawa peran yang berbeda. Selama saya masih bisa terus belajar dan menyuarakan kesetaraan perempuan, saya tahu saya berada di jalur yang benar," tandasnya.
Perjalanan Hidup Penuh Liku
Bagi Nadia, perjalanan hidupnya terasa seperti labirin (penuh liku). Tidak ada rencananya yang benar-benar linear. Namun, ketika melihat ke belakang semuanya terasa saling terhubung.
Studi hukum memberikannya fondasi yang kuat untuk memahami kerangka perundang-undangan dan berpikir secara sistematis. Karier sebagai jurnalis memperluas jaringan dan memperkaya wawasan tentang dunia nyata. Dan ketika menjadi praktisi kebijakan publik, semua pengalaman terasa seperti kepingan puzzle yang akhirnya menyatu. Salah jurusan terkadang menjadi cara hidup mengarahkan ke tempat yang lebih baik.
"Kalau dipikir-pikir, hidup sering kali tidak berjalan lurus. Saya pernah berada di layar televisi, lalu memilih keluar jalur untuk kembali jadi “murid”. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar aneh: meninggalkan sorotan kamera demi ruang kelas. Tapi saya percaya, ada nilai yang jauh lebih besar dari sekadar posisi atau panggung: keinginan untuk terus belajar," ucapnya.
Nadia juga kini belajar dari kegiatan lari yang digelutinya. Saat masih di SMA Taruna Nusantara, lari memang sudah rutinitasnya hampir setiap hari. Lari di SMA Taruna Nusantara bukan pilihan, tapi kewajiban sebagai bagian dari disiplin dan semangat hidup anak asrama.
Hanya, begitu masuk kuliah di UI sampai lima tahun pertama kerja, ia meninggalkan kebiasaan itu. Titik baliknya datang waktu saat ia tinggal di London. Di sana ia kembali tertarik lagi untuk lari.
Sayangnya, begitu pulang ke Indonesia, kondisi berubah lagi. Cuaca yang lebih panas, ritme hidup lebih sibuk, membuat Nadia perlu berjuang keras agar kembali konsisten olahraga lari. Pelan-pelan ia akhirnya bisa mengikuti sejumlah event lari. Bahkan ia kini tergabung dalam komunitas Ikastara Runners.
"Dari lari, aku belajar satu hal penting: kekuatan bukan berarti nggak pernah berhenti. Kekuatan adalah ketika kita berani balik lagi, mulai lagi, bahkan setelah sempat mundur jauh. Setiap kali mengikat tali sepatu, aku merasa sedang memilih untuk nggak menyerah," ucapnya.