Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) di Jakarta, Selasa (15/9/2026). (Foto: Istimewa).
JAKARTA, (ERAKINI) – Penguatan hubungan Indonesia dengan Tiongkok tidak hanya melalui kerja sama antarpemerintah, tetapi juga bisa melalui hubungan antarmasyarakat atau people-to-people exchanges. Dalam upaya itu, Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) resmi diluncurkan di Jakarta, Selasa (15/9/2026). ini diluncurkan dalam seminar dengan tema ‘Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan –’.
Sejumlah tokoh nasional dan internasional hadir sebagai pembicara utama. Keynote speech disampaikan oleh Mr. Zhou Kan (Kedubes RRT-Indonesia), Sari Yuliati (Wakil Ketua DPR RI) dan Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A (Sekjen. Kementerian Agama).
Sementara itu, untuk diskusi, hadir Irfan Ilmie (Kepala LKBN ANTARA Biro Beijing 2017-2023), Al Busyra Basnur (Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok), KH. Imron Rosyadi Hamid (Rektor UNIRA Malang), dan A. Syaifuddin Zuhri (Direktur Sino-Nusantara Institute), dengan Sarah Hajar Mahmudah (Dosen UIN Syarif Hidayatullah) sebagai moderator. Adapun acara ini digelar oleh Sino-Nusantara Institute, sebuah lembaga Think Tank Independent yang didedikasikan untuk penguatan hubungan Indonesia-Tiongkok di level People-to-People.
Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati dalam keynote speech-nya menekankan bahwa tantangan hubungan internasional pada abad ke-21 tidak cukup dihadapi melalui pendekatan ekonomi dan diplomasi formal. Stabilitas jangka panjang membutuhkan kepercayaan, penghormatan, dan saling pengertian antarmasyarakat. “Diplomasi pada abad ke-21 tidak dapat lagi hanya mengandalkan Government-to-Government (G2G), tetapi juga harus berakar kuat pada People-to-People (P2P) exchanges,” demikian salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam keynote speech tersebut.
Seminar tersebut juga membahas Global Civilization Initiative (GCI) yang diperkenalkan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 15 Maret 2023. GCI menempatkan peradaban sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun kerja sama internasional melalui dialog, penghormatan terhadap keberagaman, pelestarian warisan budaya, serta penguatan hubungan antarmasyarakat.
Gagasan tersebut, bagi Indonesia, dinilai memiliki relevansi yang kuat dengan karakter bangsa yang majemuk. Nilai Bhinneka Tunggal Ika, toleransi, moderasi, dan gotong royong merupakan modal sosial yang dapat menjadi jembatan dalam membangun saling pengertian antarperadaban.
Sementara itu, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin, menekankan bahwa Indonesia memiliki modal sosial dan pengalaman historis yang sangat penting dalam membangun perdamaian dan kehidupan bersama di tengah keberagaman.
Perspektif Kemenag melihat bahwa kerukunan tidak cukup dimaknai sebagai sekadar tidak adanya konflik atau kekerasan (negative peace), tetapi harus diwujudkan sebagai harmoni aktif (active harmony) melalui tindakan nyata yang mencerminkan cinta kemanusiaan lintas bangsa, budaya, dan agama.
Gagasan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam paparan Kementerian Agama bertajuk “Merajut Peradaban, Membangun Kemanusiaan”. Dalam bahan paparan tersebut, kerukunan ditempatkan sebagai sesuatu yang harus diwujudkan secara aktif melalui nilai-nilai kemanusiaan dan kerja sama lintas batas.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Indonesia–Tiongkok berkembang di berbagai sektor, termasuk perdagangan, investasi, pendidikan, teknologi, dan pertukaran masyarakat. Dalam keynote speech disebutkan bahwa Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, sementara hubungan antarmasyarakat juga semakin berkembang.
Data yang disampaikan dalam keynote speech menunjukkan terdapat sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai universitas di Tiongkok. Bersama peneliti, jurnalis, dan komunitas bisnis dari kedua negara, mereka dinilai memiliki posisi strategis sebagai grassroots diplomats atau duta budaya informal yang memperkuat hubungan kedua negara.
Karena itu, IFSRC diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan akademisi, peneliti, media, tokoh agama dan budaya, organisasi kepemudaan, institusi pendidikan, serta dunia usaha.
IFSRC diproyeksikan menjadi sebuah ‘rumah bersama’ bagi berbagai pemangku kepentingan. Ekosistem kolaborasi yang dibangun diarahkan pada sejumlah keluaran konkret, antara lain diplomasi budaya dan penguatan media, dialog keagamaan yang moderat, riset kolaboratif, pertukaran pelajar, serta program pemberdayaan masyarakat.
Konsep ini sejalan dengan pandangan bahwa mutual understanding antarperadaban tidak dapat terbentuk secara otomatis. Diperlukan ruang yang secara sadar memfasilitasi, merawat, dan melembagakan pertukaran pengetahuan serta pengalaman antar masyarakat.
Lebih jauh, gagasan IFSRC juga diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat Jalur Sutra, bukan semata sebagai jalur perdagangan komoditas, tetapi sebagai jalur pertukaran gagasan, ilmu pengetahuan, budaya, agama, dan nilai-nilai kemanusiaan.