Salsabila Siliwangi Surtiwa merupakan salah satu srikandi alumni SMA Taruna Nusantara yang mendunia di bidang hukum. Kini Salsabila tercatat sebagai diplomat muda Indonesia. Foto: Ist
Jalan panjang Salsabila Siliwangi menuju dunia diplomasi internasional bermula dari pendidikan di SMA Taruna Nusantara tahun 2014-2016 (TN 24). Dari Lembah Tidar Salsabila kemudian menempuh pendidikan hukum di Universitas Indonesia (UI) hingga melanjutkan studi di salah satu sekolah hukum paling bergengsi di dunia yang berlokasi di New York City, Amerika Serikat, Columbia Law School.
Dikutip dari linkedin, Senin (10/8/2026), sebelum bertugas di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, ia menjalani proses sebagai diplomat kandidat sebelum resmi bergabung dalam dinas luar negeri pada 2023. Profil pendidikannya memperlihatkan jalur yang konsisten dengan bidang yang kemudian ditekuninya. Di SMA Taruna Nusantara, Salsabila mengambil bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan aktif dalam sejumlah kegiatan sekolah.
Ia tercatat pernah menjadi Perwakilan Kelas, anggota Pasukan Tanda Kehormatan (PATAKA), Taruna Nusantara English Speaking Club (TNESC), TN Independen yang bergerak di bidang debat dan penyiaran, Karawitan, serta NUVO atau paduan suara sekolah.
SMA Taruna Nusantara merupakan sekolah berasrama semi-militer yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. Sekolah ini dianggap sebagai salah satu sekolah terbaik di Indonesia berdasarkan metode pengajaran, prestasi akademik, serta reputasi para alumninya.
Pengalaman organisasi di sekolah unggulan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Salsabila yang kemudian membawanya ke lingkungan akademik dan profesional yang lebih luas. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Taruna Nusantara, Salsabila melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI).
Selama menjadi mahasiswa, ia tidak hanya berfokus pada pendidikan formal. Salsabila aktif di berbagai organisasi dan kegiatan akademik, termasuk Lembaga Kajian Keilmuan (LK2) FHUI), Badan Eksekutif Mahasiswa FHUI, PERFILMA, Indonesian Law Debate, serta Himpunan Mahasiswa Islam FHUI.
Ketertarikannya terhadap hukum internasional juga terlihat dari pengalaman sebagai Research Intern di Center for International Law Studies. Di lembaga tersebut, ia melakukan penelitian mengenai berbagai bidang hukum internasional, mengumpulkan informasi dan data terkait isu hukum internasional, serta terlibat dalam penyelenggaraan konferensi dan kegiatan akademik.
Salsabila juga pernah menjadi staf Biro Jurnalistik LK2 FHUI. Dalam posisi tersebut, ia melakukan riset mengenai fenomena hukum, mewawancarai tokoh terkait, dan menulis artikel untuk buletin akademik.
Pengalaman jurnalistik dan penelitian tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam membentuk kemampuan analisis yang kemudian dibawanya ke dunia profesional.
Sejak Kecil Ingin Jadi Diplomat
Sejak kecil, Salsa, sapaan akrabnya, memang sudah bermimpi jadi diplomat. Siapa sangka, doa serta restu dari orang tua membuka jalannya menuju kampus impian, Columbia Law School. Di tengah padatnya tugas sebagai diplomat, ia tetap konsisten belajar dan akhirnya berhasil tembus beasiswa LPDP.
Bakatnya terhadap isu internasional mulai terlihat ketika Salsabila terpilih sebagai bagian dari delegasi resmi Universitas Indonesia dalam Harvard World Model United Nations.
Ia juga pernah menjalani magang di Kemenlu pada Direktorat Hukum dan Perjanjian Sosial Budaya. Dalam posisi tersebut, ia membantu diplomat fungsional dalam berbagai kegiatan, mulai dari rapat dan penyelenggaraan acara hingga peninjauan instrumen hukum internasional. Ia juga melakukan penelitian dan analisis terhadap sejumlah isu yang dibutuhkan.
Sebelum masuk ke Kemenlu, Salsabila sempat bergabung dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Ia menjalani peran sebagai Research & Analysis Officer dan kemudian Project Officer.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan isu kebijakan luar negeri yang lebih luas, sekaligus memperkuat jalur profesionalnya menuju bidang diplomasi.
Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke AS. Salsabila menempuh program Master of Laws (LL.M.) di Columbia Law School pada 2025-2026 dengan bidang International Law and Legal Studies dan meraih predikat Honors.
Selama di Columbia, ia juga terlibat dalam Columbia Journal of Transnational Law dan Columbia Society of International Law.
Pendidikan di Columbia memperluas pengalaman akademiknya di bidang hukum internasional. Ketertarikan tersebut sejalan dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman profesional yang telah dibangun sejak kuliah di Universitas Indonesia.
Raih Sederet Penghargaan
Pada Mei 2026, Salsabila meraih Leous-Parry Sustainability Award dari Columbia SIPA. Penghargaan tersebut diberikan atas proyek yang dikerjakannya bersama Presidential Office of French Polynesia mengenai alternatif ekonomi berkelanjutan dalam menghadapi aktivitas pertambangan laut dalam.
Proyek itu terpilih dari lebih dari 60 proyek Capstone di Columbia SIPA. Penghargaan tersebut menambah daftar prestasi Salsabila yang telah dibangun sejak masa sekolah hingga pendidikan tinggi.
Sebelumnya, ia tercatat meraih sejumlah prestasi, antara lain Best Delegate of Canada for UN HABITAT dalam National Parahyangan Model United Nations pada 2019, juara kompetisi karya tulis ilmiah nasional, delegasi Universitas Indonesia dalam Kompetisi Debat Konstitusi 2019, hingga berbagai prestasi debat dan penulisan sejak masih duduk di bangku sekolah.
Jika ditarik ke belakang, perjalanan Salsabila memperlihatkan kesinambungan antara pendidikan, organisasi, penelitian, hukum, dan hubungan internasional.
Aktivitasnya sejak SMA Taruna Nusantara tidak berhenti pada kegiatan akademik. Pengalaman berorganisasi kemudian berlanjut ketika memasuki Universitas Indonesia, disusul pengalaman penelitian, jurnalistik, advokasi hukum, Model United Nations, hingga bekerja di lembaga kajian kebijakan luar negeri.
Setelah menyelesaikan pendidikan hukum dan pengalaman profesional di bidang kebijakan luar negeri, ia memasuki Kementerian Luar Negeri sebagai diplomat kandidat pada 2022. Setahun kemudian, ia tercatat menjalankan tugas sebagai Foreign Service Officer.
Profil tersebut menunjukkan bagaimana pendidikan di SMA Taruna Nusantara menjadi salah satu titik awal perjalanan Salsabila menuju bidang hukum internasional dan diplomasi.
Dari Magelang, perjalanan akademiknya berlanjut ke Jakarta dan kemudian New York. Dari aktivitas organisasi pelajar dan mahasiswa, ia berkembang ke dunia penelitian hukum, kebijakan luar negeri, hingga menjadi bagian dari korps diplomatik Indonesia.