Arrmanatha Christiawan Nasir dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Luar Negeri di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) — Arrmanatha Christiawan Nasir dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Luar Negeri di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Diplomat karier yang akrab disapa Tata itu menggantikan Sugiono, yang kini dipercaya mengemban jabatan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Penunjukan Arrmanatha menandai babak baru perjalanan diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo. Berbekal pengalaman panjang di Kementerian Luar Negeri, ia telah melewati berbagai penugasan strategis, mulai dari juru bicara pemerintah, duta besar, hingga Wakil Tetap Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya.
Sebelum dipercaya menjadi menteri, Arrmanatha menjabat Wakil Menteri Luar Negeri sejak Oktober 2024. Ia dilantik bersama dua wakil menteri lainnya, Muhammad Anis Matta dan Arif Havas Oegroseno.
Lahir di Bangkok, Thailand, pada 1971, Arrmanatha tumbuh menjadi salah satu diplomat Indonesia yang banyak berkecimpung dalam diplomasi multilateral. Pengalamannya mencakup negosiasi isu ekonomi dan pembangunan global, hubungan internasional, hingga pembahasan mengenai hak-hak rakyat Palestina di forum PBB.
Meniti Karier dari Diplomat Multilateral
Perjalanan karier Arrmanatha di Kementerian Luar Negeri tidak terlepas dari pengalamannya menangani isu-isu multilateral. Ia menempuh pendidikan sarjana ekonomi di University of Buckingham, Inggris. Pendidikan akademiknya berlanjut dengan meraih gelar Master of Business Administration dari University of Leicester serta Master of International Relations dari Universitas Indonesia.
Karier diplomatiknya antara lain dimulai melalui penugasan di Direktorat Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri. Pada 2005–2008, ia menjabat Wakil Direktur Bidang Pertanian dan Komoditas.
Penugasan berikutnya membawanya ke New York, Amerika Serikat. Pada 2008–2012, Arrmanatha bertugas sebagai konselor pada Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB.
Dalam posisi tersebut, ia menangani isu ekonomi dan pembangunan di Komite Kedua Majelis Umum PBB serta Dewan Ekonomi dan Sosial PBB atau Economic and Social Council (ECOSOC).
Ia juga terlibat dalam negosiasi berbagai resolusi dengan mewakili Kelompok 77 negara berkembang atau Group of 77 dan China. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari kiprahnya dalam memperjuangkan kepentingan Indonesia dan negara-negara berkembang di forum internasional.
Pada 2010–2011, Arrmanatha dipercaya menjadi penasihat bidang ekonomi dan negara-negara kurang berkembang bagi Presiden Sidang ke-65 Majelis Umum PBB.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk terlibat langsung dalam dinamika diplomasi global, terutama pembahasan mengenai pembangunan, kesenjangan ekonomi, dan kepentingan negara berkembang.
Setelah kembali ke Jakarta, Arrmanatha menjabat Juru Bicara Kementerian Luar Negeri pada 2014–2019.
Posisi tersebut menempatkannya di garis depan komunikasi diplomasi Indonesia. Ia bertugas menyampaikan keterangan resmi pemerintah mengenai perkembangan hubungan luar negeri, kebijakan diplomatik, serta berbagai isu internasional yang berkaitan dengan kepentingan nasional.
Pengalaman sebagai juru bicara turut memperluas perannya dalam menjelaskan sikap pemerintah Indonesia kepada publik, sekaligus menyampaikan posisi resmi negara dalam merespons perkembangan global.
Pada 2019, Arrmanatha ditunjuk sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Prancis. Penugasan diplomatiknya juga mencakup Andorra dan Monako. Selain itu, ia merangkap sebagai Delegasi Tetap Indonesia untuk Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).
Ia menjalankan tugas tersebut hingga 2021, sebelum kembali dipercaya mengemban jabatan strategis di markas besar PBB.
Pada 2021, Arrmanatha ditunjuk sebagai Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB dan organisasi internasional lainnya di New York. Ia menyerahkan surat kepercayaan kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada Januari 2022.
Dalam penugasan itu, Arrmanatha terlibat dalam berbagai agenda diplomasi multilateral yang menjadi ruang bagi Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan nasional sekaligus berkontribusi dalam pembahasan persoalan global.
Pada 2023, ia menjabat Wakil Presiden ECOSOC. Ia juga memimpin Coordination Segment ECOSOC, forum koordinasi yang mempertemukan berbagai komisi fungsional, badan ahli, komisi regional, serta entitas dalam sistem PBB.
Posisi tersebut berkaitan dengan upaya menyelaraskan pembahasan dan pelaksanaan agenda pembangunan internasional di antara berbagai badan dalam sistem PBB.
Pada tahun yang sama, Arrmanatha menyerahkan surat kepercayaan sebagai Wakil Tetap Indonesia untuk International Seabed Authority (ISA) di Kingston, Jamaika.
Menurut Kementerian Luar Negeri, ia menjadi Wakil Tetap Indonesia pertama untuk ISA setelah perubahan struktur organisasi perwakilan Indonesia.
Penugasan tersebut memperluas cakupan diplomasi yang dijalaninya, termasuk dalam forum internasional yang berkaitan dengan tata kelola dasar laut dan pemanfaatan sumber daya di kawasan dasar laut internasional.
Aktif dalam Diplomasi Palestina
Selain isu ekonomi dan pembangunan, Arrmanatha juga terlibat dalam pembahasan mengenai Palestina di lingkungan PBB.
Pada 2024, ia tercatat sebagai salah satu Wakil Ketua Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People, komite PBB yang menangani persoalan hak-hak rakyat Palestina.
Keterlibatan tersebut berlangsung di tengah konsistensi diplomasi Indonesia dalam memperjuangkan hak rakyat Palestina dan mendorong penyelesaian konflik sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional.
Pengalamannya dalam komite tersebut menjadi salah satu bagian dari rekam jejak diplomatik Arrmanatha di forum multilateral, terutama dalam isu yang selama ini menjadi perhatian kebijakan luar negeri Indonesia.
Pada Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto mengangkat Arrmanatha sebagai Wakil Menteri Luar Negeri. Dalam jabatan tersebut, ia antara lain menangani agenda diplomasi multilateral dan mewakili Indonesia dalam sejumlah pertemuan internasional.
Pengalaman sebagai wakil menteri sekaligus diplomat yang pernah bertugas di berbagai forum internasional kini menjadi bekal Arrmanatha untuk memimpin Kementerian Luar Negeri.
Dengan perjalanan karier yang mencakup penugasan bilateral dan multilateral, ia memiliki pengalaman langsung dalam diplomasi antarnegara, perundingan internasional, serta koordinasi dengan berbagai badan di bawah sistem PBB.
Kini, setelah dilantik sebagai Menteri Luar Negeri, Arrmanatha menghadapi tanggung jawab yang lebih luas dalam mengoordinasikan pelaksanaan kebijakan luar negeri Indonesia. Peran tersebut mencakup penguatan hubungan bilateral, diplomasi multilateral, serta upaya memperjuangkan kepentingan nasional di tengah dinamika hubungan internasional.