Srikandi alumni SMA Taruna Nusantara kembali menorehkan prestasi membanggakan. Kali ini datang dari Bumi Serambi Mekkah melalui dr Arifatul Khorida, MPH, FISQua. Foto: Ist
Jebolan SMA Taruna Nusantara selama ini dikenal banyak yang sukses berkarier di berbagai bidang, termasuk kesehatan. Baru-baru ini, Arifatul mencatatkan namanya sebagai srikandi pertama SMA Taruna Nusantara yang menduduki posisi tertinggi di RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh.
RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh kini resmi dinakhoda Arifatul Khorida sebagai Pelaksana Harian (Plh) Direktur sejak 26 Agustus 2025. Dokter Arifa sebelumnya menjabat Wakil Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan pengalaman serta rekam jejak yang mumpuni di bidang manajemen rumah sakit, ia dipercaya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan guna memperkuat layanan kesehatan rujukan tertinggi di Aceh.
Dirangkum Erakini, Rabu (10/9/2025), setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Taruna Nusantara, Arifatul melanjutkan pendidikan Sarjana (S1) di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM). Arifatul kemudian melanjutkan S2 Magister Manajemen RS di fakultas dan kampus yang sama.
Arifatul lalu menuntaskan program Doktor Ilmu Kedokteran di FK Universitas Syiah Kuala (USK). Arifatul juga mendapatkan gelar prestisius, yakni FISQua. Dokter Arifa meraih Fellowship dari International Society for Quality in Health Care (ISQua) pada tahun 2020.
FISQua adalah gelar kehormatan dan pengakuan profesional internasional yang diberikan oleh International Society for Quality in Health Care (ISQua) kepada profesional kesehatan yang menunjukkan komitmen dan kontribusi dalam meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan secara global. Program ini memberikan akses ke pelatihan kualitas perawatan kesehatan terbaru, pengembangan jaringan profesional, dan pengakuan internasional melalui sertifikat Fellowship.
Dokter Arifa pertama kali mengenal ISQua saat mengikuti Konferensi Internasional ISQua ke-35 di Kuala Lumpur pada 2018. Saat itu abstraknya berjudul “Succession of Physician Leadership and Talent Management in Public, Private and Military Hospital” diterima, sehingga mendapat kesempatan untuk memberikan presentasi lisan selama 15 menit dalam konferensi tersebut.
Dalam sesi pleno, ia mendengarkan informasi mengenai program pendidikan dari ISQua, yaitu Fellowship dan Sertifikat Spesialis. Dari sana ia sangat tertarik untuk mengikuti Fellowship. Terlebih lagi, pada kesempatan tersebut, sang dosen, Hanevi Djasri, lulus setelah menyelesaikan ISQua Fellowship.
Selama mengikuti fellowship, ia mengaku mendapatkan banyak manfaat, mulai dari modul pembelajaran yang selalu diperbarui, umpan balik yang bermanfaat, hingga dukungan penuh dari tim pendidikan ISQua. Pengetahuan serta keterampilan yang ia peroleh dari program tersebut telah mendukung kariernya di dunia medis.
Perjalanan Karier
Arifatul meniti karier sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul DIY, pada 2006 hingga 2008 sebagai programmer Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Subdin Penyuluhan Kesehatan.
Pada 2009, Arifatul hijrah ke Provinsi Aceh. Ia memulai tugas barunya di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh sebagai Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial (2009- 2014, Kepala Instalasi Rawat Jalan (2016- 2017), dan terakhir Kepala Instalasi Rawat Inap (2017-2019).
Setelah itu Arifatul dipromosikan ke RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh dengan jabatan awal sebagai Kepala Sub Komite Manajemen Risiko (2019-2020). Pada 24 Maret 2020, ia diamanahkan posisi baru sebagai Wakil Direktur Pengembangan SDM RSUD dr Zainoel Abidin, sebelum ditunjuk menjadi Plh Direktur.
Posisi yang diemban Dokter Arifa ini terbilang cukup strategis. Terlebih RSUD dr Zainoel Abidin Aceh kini tengah menjadi sorotan. Pada 7 September 2025 lalu, sejarah baru tercipta di dunia kesehatan Aceh.
Untuk pertama kalinya, tim gabungan RSUD dr Zainoel Abidin Aceh bersama RS Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof Dr dr Mahar Mardjono berhasil melakukan operasi bypass cerebrovascular pada pasien remaja penderita penyakit langka moya moya yang kerap menyebabkan stroke berulang.
Operasi cerebrovascular atau bedah saraf serebrovaskular adalah prosedeur bedah yang dilakukan pada pembuluh darah otak untuk menangani kondisi seperti penyumbatan, aneurisma atau malformasi arteriovenosa. Bedah ini biasa dilakukan pada pasien stroke.
Operasi yang dilakukan selama delapan jam itu bukan hanya sebuah pencapaian klinis, tetapi juga menjadi tonggak sejarah bagi dunia kesehatan di Aceh dan Sumatera. Tindakan kompleks ini menandai pelaksanaan perdana bypass cerebrovascular di RSUDZA sekaligus menjadi yang pertama di Pulau Sumatera.
Dengan keberhasilan ini, Aceh resmi menjadi provinsi ke-7 di Indonesia yang mampu melaksanakan prosedur tersebut, dan menjadi daerah kedua di luar Pulau Jawa yang berhasil melakukannya.
Bahkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melalui video conference menyempatkan menyapa keluarga pasien. Dalam percakapan itu Menkes menyampaikan turut bangga atas keberhasilan ini.
“Selamat kepada teman-teman di RSUZA, selamat kepada dokter yang bertugas di sana. Selamat dan terima kasih kepada Pemerintah Aceh, kepada Pak Sekda atas dukungannya. Teman-teman di RSUZA, terus tingkatkan kapasitasnya, Kemenkes akan terus berbuat dan berbagi sebanyak-banyaknya. Terus layani masyarakat dengan baik,” tandas Menkes
Dokter Arifatul pun menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kesehatan dan RS PON atas dukungan yang mempercepat kemajuan layanan kesehatan di Aceh. “Harapan kami, RSUDZA dapat menjadi rumah sakit rujukan vertikal yang sejajar dengan RS rujukan nasional. Kami sudah memiliki tiga layanan prioritas dengan sertifikasi paripurna, dan enam layanan lainnya segera menyusul,” tandasnya.
Dalam perjalana kariernya, Arifatul juga dikenal aktif berorganisasi. Ia pernah menjabat CEO Forum ASN Kreatif, Inovatif dan Handal (FAKIH), Ketua PW Ikatan Ahli Manajemen dan Administrasi RS seluruh Indonesia (IAMARSI) Aceh, Ketua Div Kesehatan - Kagama Aceh, Konsultan Manajemen Kesehatan-Ikkesindo, dan Wakil Ketua Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) Wilayah Aceh.
Ia juga aktif di Ikatan Alumni Magister Manajemen Rumah Sakit (IKA MMR) UGM, Asosiasi Alumni Beasiswa Amerika - Indonesia (ALPHA-I), dan pernah menjadi Ketua III OSIS SMA Taruna Nusantara.
Pengalamannya 10 tahun bekerja di RSJ Aceh dan 5 tahun sebagai Direksi RSUD dr Zainoel Abidin meneguhkan pengabdiannya pada bidang manajemen rumah sakit. Ditambah pengalaman organisasi yang luas yang dimilikinya sejak di SMA Taruna Nusantara hingga saat ini, memperkaya wawasan dan keterampilannya dalam kepemimpinan.