JAKARTA, (ERAKINI) - Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (FBS UNAS) menggelar Cross Culture Festival sebagai agenda tahunan yang menjadi bagian dari tugas akhir mata kuliah. Kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi diplomasi budaya generasi muda.
Festival yang berlangsung di Aula A Kampus UNAS ini dihadiri sekitar 180 peserta, terdiri atas mahasiswa, pelajar SMA, dan masyarakat umum. Beragam pertunjukan seni ditampilkan, mulai dari English Solo Song, storytelling, baca puisi berbahasa Inggris, hingga pentas drama.
Memasuki area acara, pengunjung disambut pameran artikel kebudayaan serta bazar kuliner lokal, seperti makanan khas Maluku dan sejumlah daerah lain di Indonesia.
Ketua Program Studi Sastra Inggris FBS UNAS, Siti Tuti Alawiyah, mengatakan Cross Culture Festival tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua dan secara khusus diinisiasi oleh Prodi Sastra Inggris.
"Fakultas Bahasa menaungi beberapa program studi, tetapi Cross Culture Festival ini memang khusus diselenggarakan oleh Sastra Inggris. Tahun ini juga dihadiri perwakilan dari Kedutaan Besar Belgia," ujar Tuti, Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan, Cross Culture Festival merupakan kegiatan tahunan yang dirangkai dengan berbagai penampilan seni, seperti drama performance dan tari tradisional. Selain itu, festival ini juga dirangkai dengan talk show lintas budaya.
"Narasumber talk show berasal dari Kementerian Luar Negeri, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), serta founder Perempuan Berbudaya Berkarya Indonesia (PBBI). Kami juga menyertakan perlombaan untuk tingkat SMA dan mahasiswa di lingkungan UNAS,” jelasnya.
Cross Culture Festival sendiri merupakan implementasi dari mata kuliah Cross Culture Understanding dan English for Industries. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa diwajibkan menghasilkan proyek akhir berupa penyelenggaraan sebuah festival.
"Mahasiswa menjadi panitia penyelenggara sepenuhnya. Dosen hanya mendampingi dan memberikan arahan. Pesertanya berasal dari mahasiswa UNAS dan pelajar SMA undangan di sekitar kampus," ungkap Tuti.
Tak hanya pertunjukan dan diskusi, festival ini juga menghadirkan pameran dan bazar UMKM. Mahasiswa sebagai panitia mengundang pelaku UMKM dari Anjungan Maluku Timur serta UMKM di sekitar UNAS untuk memamerkan dan memasarkan produk mereka.
Tuti menambahkan, meskipun skala festival tahun ini lebih nasional dibanding tahun sebelumnya yang berskala internasional, kegiatan ini tetap memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa.
"Melalui kurikulum Outcome Based Education (OBE), kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul di kelas, tetapi juga mampu mengasah keterampilan di luar kelas, seperti manajemen acara, komunikasi, kerja tim, hingga mencari sponsor," tuturnya.
Ia berharap, melalui Cross Culture Festival, mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh sekaligus membangun sensitivitas budaya dan keterampilan profesional yang dibutuhkan di dunia kerja.
"Kita berharap mahasiswa itu tidak hanya pandai di dalam kelas, tapi bagaimana dia mengasah skills itu di luar," jelasnya.
Festival yang mengusung tema Unity in Motion: A Festival of Arts and Culture bertujuan memberikan wawasan lintas budaya kepada mahasiswa dan pelajar SMA. Melalui talk show, peserta diajak memahami cara menjaga identitas budaya lokal dan nasional di tengah arus globalisasi.
"Kegiatan ini memberikan wawasan dan pengetahuan kebudayaan, khususnya kepada mahasiswa bagaimana generasi muda menyikapi perbedaan budaya, membangun jejaring di tengah keberagaman, serta menjaga diplomasi melalui komunikasi dan interaksi yang baik,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi, Han Prayanto, Anggota KEIN, membagikan pengalamannya mengenai budaya dan kehidupan diaspora Indonesia di Jerman serta fenomena budaya Korea (K-pop) dan strategi diplomasi budaya yang membuatnya digemari secara global.
"Fenomena budaya Korea (K-pop) dan Gelombang Korea (Hallyu) adalah contoh sukses diplomasi budaya (soft power) yang terencana, di mana pemerintah Korea Selatan dan industri hiburan bekerja sama untuk mempromosikan budaya mereka secara global. Keberhasilan ini membuat K-pop tidak hanya dikenal, tetapi digemari secara global," katanya.
Selain itu, mantan Duta Besar RI untuk Ekuador periode 2016–2020, Diennaryati Tjokrosuprihatono memaparkan tentang kehidupan diaspora Indonesia di Amerika Latin.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat Ekuador sangat menghargai orang Indonesia karena dikenal ramah, tulus, dan menjunjung tinggi kebersamaan.
"Indonesia adalah bangsa multikultural dengan ribuan etnis dan kekayaan budaya, termasuk kuliner yang telah diakui UNESCO. Ini menjadi kekuatan diplomasi budaya kita,” ujarnya.
Ketua Pelaksana, Ilham Putra Ayanda mengatakan kegiatan tahun ini mengusung tema Unity in Motion: Festival of Arts and Culture. Tema tersebut dipilih untuk merepresentasikan persatuan dalam keberagaman budaya yang hadir dalam festival.
"Tema Unity kami pilih karena peserta dan pengisi acara tidak hanya berasal dari satu latar belakang. Ada mahasiswa dari berbagai suku di Indonesia, juga perwakilan budaya luar seperti Inggris dan Bulgaria, serta dari wilayah Indonesia Timur. Semua berkumpul dalam satu ruang budaya," ujarnya.
Selain pertunjukan seni, festival ini juga menghadirkan pameran (exhibition) dan bazar UMKM. Ide menghadirkan pameran sudah dirancang sejak awal perencanaan acara.
"Kami ingin membuka booth atau exhibition agar pengunjung bisa mengenal lebih dalam budaya Indonesia maupun budaya mancanegara. Ini juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia secara lebih luas,” katanya.
Untuk bazar, panitia membuka kesempatan bagi pelaku UMKM selama dua hari pelaksanaan, yakni pada 21–22 Januari 2026. Total terdapat sekitar 20 UMKM yang berpartisipasi dengan menjajakan berbagai produk kuliner dan kerajinan.
"Karena acara ini cukup besar, kami membuka peluang bagi UMKM untuk ikut meramaikan kegiatan. Selain mendukung ekonomi lokal, bazar ini juga menambah daya tarik festival," ujarnya.