Pameran tunggal seniman Magelang, Easting Medi bertajuk 'Light from Within the Hill' di Galeri Jannan Andara, Depok, Jawa Barat pada 16-31 Desember 2025. (Foto: Dok Pribadi)
DEPOK, (ERAKINI) - Di tengah derasnya arus teknologi dan budaya serba cepat, seorang seniman asal memilih berjalan ke arah sebaliknya. Melalui bertajuk ‘’, menghadirkan praktik seni yang nyaris terlupakan: melukis dengan kesabaran, ketelitian, dan bahan-bahan alami berupa rempah-rempah serta empon-empon sebagai bahasa utama karya.
Digelar di Galeri Jannan Andara, Depok, Jawa Barat pada 16-31 Desember 2025, pameran ini bukan sekadar ajang visual, melainkan ruang refleksi. Easting Medi menantang cara pandang masyarakat modern yang cenderung mengabaikan proses demi hasil instan. Menurutnya, nilai sejati sebuah karya justru lahir dari perjalanan panjang yang penuh kesabaran dan ketekunan, nilai yang kini makin jarang dihargai.
“Lewat pameran ini, saya ingin orang kembali melihat proses kesabaran. Bahwa setiap tahapan, setiap penantian, akan melahirkan makna dan nilai yang berbeda,” ujar Easting Medi kepada Erakini, Rabu (17/12/2025).
Adapun ‘Light from Within the Hill’ berangkat dari ingatan masa kecil Easting Medi pada era 1980-an di kawasan Candi Borobudur yang kala itu masih asri dan alami. Aktivitas anak-anak desa menjadi narasi utama dalam karya-karyanya: mencari kayu bakar, belajar bersepeda dengan sepeda kebo milik orang dewasa, bermain di sungai dengan batang pisang, memanjat pohon jambu, hingga membantu orang tua memanen padi di sawah.
Lingkungan Borobudur yang masih hijau, jalanan berkerikil dan berlumpur, serta pepohonan rindang menjadi romantika yang membekas kuat. Tak heran jika Candi Borobudur menjadi sumber inspirasi utama, sebagaimana pernah menginspirasi maestro seni Indonesia seperti Affandi.
Perjalanan Easting Medi: Dari Pengasong ke Pelopor Seni Empon-Empon
Lahir dan besar di lingkungan Borobudur, Easting Medi telah akrab dengan dunia visual sejak kecil. Sejak kelas 3 SD ia gemar menggambar, lalu saat SMP mulai mengasah kemandirian dengan berjualan souvenir sebagai pengasong. Ia membuat gantungan kunci dari batang pinus kering, dihias gambar stupa Borobudur dengan teknik bakar menggunakan solder.
Perjalanan kreatifnya berlanjut dengan melukis di kaca bekas menggunakan cat poster, menciptakan karya bertema Borobudur untuk kenang-kenangan, ulang tahun, hingga pernikahan. Puluhan tahun berlalu, ia mengeksplorasi berbagai medium, mulai dari teknik bakar di kayu, cat air, cat minyak, hingga akrilik.
Titik balik terjadi saat pandemi Covid-19. Terbatasnya mobilitas dan ketiadaan dana untuk membeli cat memaksanya mencari alternatif di sekitar rumah. Dari situlah ia menemukan kembali empon-empon, bahan jamu tradisional seperti kunyit, temulawak, temu giring, temu ireng, temu mangga, dlingo-bengle, kencur, dan jahe, yang kemudian diolah menjadi pewarna lukisan.
Pada tahun 2020, karya lukisan berbasis pewarna empon-empon Easting Medi resmi tercatat di Lembaga Prestasi Indonesia–Dunia sebagai pelopor seni lukis empon-empon di Indonesia. Untuk memperkuat warna, ia menggunakan teknik finishing unik: membakar lukisan yang telah jadi dengan incense atau dupa, sebuah proses yang ia sebut sebagai “pembakaran warna kunyit di atas kanvas”.
Praktik ini bukan sekadar eksperimen artistik, melainkan upaya menghidupkan kembali kearifan leluhur. Empon-empon sejak lama digunakan untuk kesehatan dan pengobatan tradisional, bahkan jejaknya terpahat pada relief Karmawibangga di Candi Borobudur, termasuk tradisi jahe bakar dan kunyit bakar yang dikenal sejak masa lampau.
Melalui ‘Light from Within the Hill’, Easting Medi menghadirkan seni sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia mengajak publik menengok kembali akar budaya, menghargai proses, serta meresapi bahwa di balik kesederhanaan rempah-rempah, tersimpan cahaya pengetahuan, kesabaran, dan kearifan yang lahir dari bukit Borobudur.