Cak Nun dalam pada sebuah kegiatan pemerintahan di Yogyakarta 2 tahun silam (Foto: Caknun.com)
JAKARTA, (ERAKINI) - Menjadi penyair sekaligus budayawan di era sekarang memiliki tantangan tersendiri. Hal ini dipengaruhi oleh menurunnya kesukaan masyarakat terhadap karya sastra dan kepenulisan. Namun tidak dengan sosok penyairEmha Ainun Nadjib atau biasa dikenal Cak Nun.
Dengan penguasaan cabang ilmu agama Islam yang luas, Cak Nun menjadi penyair, budayawan dan pendakwah yang digemari banyak kalangan. Pesan dan tausiyah Cak Nun yang berkaitan dengan sosial keagamaan maupun politik dinilai relevan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Kritiknya juga dianggap mencerdaskan bagi setiap audiensnya.
Tak ayal, pengikut atau jemaahnya masih sangat banyak. Hal ini dapat dilihat dari setiap agenda pengajian atau diistilahkan Cak Nun, Kenduri, yang tidak pernah sepi dari penonton. Jumlahnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan.
Dilansir dari berbagai sumber pada Selasa (4/2/2025), Emha Ainun Nadjib, yang memiliki nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib, adalah salah satu tokoh keagamaan, penyair, dan budayawan yang lahir di Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur pada 27 Mei 1953. Dia adalah putra keempat dari lima belas bersaudara dari pasangan M. A. Lathief dan Halimah. Ayahnya merupakan pemimpin lembaga pendidikan, mulai dari TK hingga SMP.
Meskipun tumbuh di lingkungan yang sangat mendukung pendidikan, Cak Nun memilih untuk bersekolah di sekolah dasar negeri yang terletak di desa tetangga, merasa malu karena ayahnya dikenal sebagai pengelola lembaga pendidikan. Perjalanan pendidikan Cak Nun dimulai di TK dan SD, sebelum melanjutkan ke Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo.
Namun, perjalanannya di pesantren terhenti karena terlibat dalam aksi demonstrasi santri yang menentang para guru, sehingga ia dikeluarkan dari pesantren. Setelah itu, Cak Nun melanjutkan pendidikan di SMP yang dikelola oleh ayahnya hingga mendapat ijazah SMP. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMA Muhammadiyah I Yogyakarta dengan memilih jurusan Paspal.
Setelah tamat dari SMA, Cak Nun melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun, ia hanya bertahan selama empat bulan di perguruan tinggi tersebut, karena pada tahun 1974 ia mengalami musibah di mana ayahnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Cak Nun yang gemar di bidang teater kemudian bertemu dengan Neneng Suryaningsih, seorang penari asal Lampung, yang akhirnya menjadi istrinya. Keduanya dikaruniai seorang anak laki-laki, Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang kelak menjadi personil grup band Letto.
Namun, pernikahan Cak Nun dengan Neneng tidak bertahan lama dan keduanya memutuskan untuk bercerai. Pada tahun 1995, Cak Nun menikah lagi dengan Novia Kolopaking, seorang seniman film, panggung, dan penyanyi. Dari pernikahan ini, Cak Nun dikaruniai empat anak.
Karya Sastra dan Kontribusi Cak Nun dalam Dunia Literasi
Perjalanan Cak Nun di dunia sastra dimulai sejak tahun 1969, ketika ia mulai menulis di usia 16 tahun. Pada tahun 1975, karya-karyanya mulai dibukukan, dengan berbagai jenis tulisan, seperti puisi, cerpen, esai, naskah drama, dan bahkan wawancara.
Cak Nun dikenal sebagai sosok yang banyak berkontribusi melalui tulisan-tulisannya yang mengangkat tema sosial dan budaya.
Selama lebih dari dua dekade, antara tahun 1980 hingga 1990, buku-buku Cak Nun terus diterbitkan dan masih relevan dengan kondisi kehidupan di Indonesia. Karyanya banyak diterbitkan di berbagai media massa.Bahkan, beberapa karya Cak Nun juga terbit dalam kolom atau rubrik di surat kabar seperti Kompas, Republika, dan Sinar Harapan.
Karya-karya Cak Nun ini berfokus pada berbagai isu sosial, politik, dan budaya, serta membahas nilai-nilai kebangsaan yang penting dalam konteks Indonesia.
Selain itu, Cak Nun aktif dalam diskusi sastra dan seni, serta ikut dalam berbagai festival sastra di dalam dan luar negeri, seperti Festival Puisi Asean 1978 dan International Writing Program di Lowa University Amerika Serikat pada 1984.
Selain berkiprah dalam dunia kepenulisan, Cak Nun juga aktif dalam berbagai festival sastra dan lembaga kebudayaan. Ia pernah menjadi redaktur kebudayaan di harian Masa Kini, menjadi pemimpin Teater Dinasti di Yogyakarta, serta terlibat dalam Dewan Kesenian Yogyakarta. Cak Nun juga mendirikan "Komunitas Padhang Mbulan" pada 1995, yang bertujuan membentuk kelompok pengajar untuk memajukan pendidikan dan budaya di Indonesia.
Tak hanya itu, Cak Nun juga aktif dalam berbagai lembaga yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan kebudayaan, seperti Yayasan Pengembangan Masyarakat Al-Muhammady di Jombang dan Yayasan Ababil di Yogyakarta. Perjalanan hidup dan karya-karya Cak Nun telah memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan sastra dan kebudayaan di Indonesia.