Madrasah Reform Siapkan Guru MI di Daerah 3T Maluku Utara Melek Pembelajaran Inovatif, Efektif, dan Kolaboratif
Thomas Pulungan






Kali ini Madrasah Reform menyasar guru-guru madrasah dan kepala sekolah di daerah 3T Provinsi Maluku Utara. Salah satu kelas pelatihan adalah untuk guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dalam Kelas MI Literasi ini para peserta mendapatkan materi atau modul bagaimana melakukan inovasi pembelajaran, pembelajaran yang efektif dan bermakna, serta pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen.
Melalui pelatihan ini guru-guru MI di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) diharapkan melek atau memahami model-model pembelajaran yang inovatif, efektif, dan berdiferensiasi sesuai dengan Kurikulum Merdeka Madrasah.
Pelatihan ini berlangsung sejak 13-17 Agustus 2024 yang digelar di Hotel Bela Ternate. Fasilitator/Instruktur Pelatihan dari Universitas Wahid Hasyim Semarang, Fitria Martanti, mengatakan, tujuan pelatihan ini adalah mendorong guru-guru MI dapat memahami maksud dan tujuan inovasi dan kolaborasi. Peserta juga diharapkan dapat memahami konsep PDIA (Problem Driven Iterative Adaptation) atau merancang pembelajaran berbasis masalah.
Fitria mengatakan bahwa konsep Kurikulum Merdeka Madrasah masih menjadi tantangan bagi guru-guru MI di daerah 3T. Bahkan, umumnya peserta pelatihan baru mendengar dan mengetahui konsep-konsep pembelajaran Kurikulum Merdeka Madrasah.
"Pemahaman awal mereka, seperti Capaian Pembelajaran (CP), itu memang pada baru tahu. Jadi, kami (Fasilitator) harus memberikan pemahaman materi, konsep-konsep dari yang paling dasar dulu," ujar Instruktur Nasional Program PKB Guru dan Tendik Kementerian Agama RI ini, di Ternate, Kamis (15/8/2024).
Berdasarkan hasil analisa para Tim Fasilitator, tingkat pengetahuan para guru MI memang benar-benar masih sangat dasar. Seperti pembelajaran berdiferensiasi, para peserta juga benar-benar baru mengetahuinya. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi diri sesuai dengan kesiapan belajar dan minat.
Melalui Kelas Literasi ini, Fitria dan tim membekali para guru MI mampu menganalisis karakteristik peserta didik, memahami CP, merumuskan tujuan pembelajaran (TP), serta merancang pembelajaran berdiferensiasi.
Dengan beberapa metode yang diterapkan selama pelatihan ini, para guru MI secara perlahan mulai memahami bagaimana menciptakan pembelajaran inovatif dalam kolaboratif. Begitu juga menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna, serta pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen, meskipun untuk pengembangan yang lebih luas masih butuh waktu.
Fitria yang sudah terlibat dalam program MEQR di beberapa daerah, seperti Papua, Batam, dan Pontianak, melihat pemahaman guru-guru MI di daerah 3T tentang Kurikulum Merdeka Madrasah memang hampir sama. Untuk itu, S2 lulusan Universitas Negeri Semarang ini meminta para guru-guru yang berkesempatan mengikuti pelatihan dapat menularkan praktik baik yang didapat kepada guru-guru madrasah lainnya, sehingga memberikan dampak yang lebih luas lagi.
Kegiatan ini merupakan salah satu komponen dari program Madrasah Education Quality Reform, yakni Program Komponen 3 (perluasan akses). Asisten Program Komponen 3 Project Management Unit (PMU) REP-MEQR Adib Zaenal Fanani, mengatakan, pelatihan Guru dan Kepala Madrasah di Daerah 3T Provinsi Maluku Utara ini merupakan angkatan ke-6. Sebelumnya pelatihan serupa sudah dilaksanakan di Batam, Palembang, Pontianak, Kupang, dan Aceh.
Pelatihan angkatan ke-6 ini diikuti sebanyak 120 peserta yang difokuskan pada 3 kepulauan, yaitu Kepulauan Sula, Pulau Morotai, dan Pulau Taliabu. Dalam kegiatan ini terdapat 4 kelompok/kelas pelatihan, yakni MI Literasi, MTs Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), MA Bahasa Inggris, dan Kelas Kepala Madrasah.
