Ilustrasi - Memasuki pekan ketiga Juni, BMKG menyebut bahwa sejumlah wilayah di Indonesia mengalami perbedaan cuaca yang signifikan, ada yang masih diguyur hujan deras dan ada pula yang sudah kemarau. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa memasuki pekan ketiga Juni, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami perbedaan cuaca yang signifikan di mana ada yang masih diguyur deras dan ada pula yang sudah mengalami musim .
Menurut BMKG, beberapa daerah, seperti Ambon, Banda Neira, Amahai, dan Mozes Kilangin Papua Tengah, masih mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat dalam sepekan terakhir. Sementara itu, daerah lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda pengeringan memasuki musim kemarau. Bahkan di Pos Merigi Nusa Tenggara Barat dan Pos Daieko Nusa Tenggara Timur telah mengalami 33 hari tanpa hujan.
“Perbedaan cuaca yang signifikan ini mencerminkan kompleksitas sistem cuaca tropis di kawasan Maritim Indonesia, yang terbentuk melalui interaksi dinamis antara proses-proses atmosfer berskala lokal–seperti siklus harian darat laut yang memicu proses konveksi lokal, topografi pulau, dan pengaruh global–seperti variabilitas iklim musiman, MJO, serta gelombang tropis seperti equatorial Rossby dan Kelvin,” kata BMKG dilansir dari laman resminya, Selasa (17/6/2025).
BMKG menyebut bahwa salah satu faktor yang memengaruhi cuaca di wilayahIndonesia adalah siklus harian darat-laut. Setiap hari, proses pemanasan permukaan daratan pada siang hari memicu pembentukan awan konvektif, yang menghasilkan hujan pada sore hingga malam.
“Setelah itu, sistem hujan berpindah ke wilayah laut dan kembali aktif pada dini hari. Pola ini terjadi berulang dan menjadi karakteristik khas wilayah tropis maritim seperti Indonesia, terutama di wilayah dengan topografi kompleks seperti Sumatera, Kalimantan, dan Papua,” katanya.
Cuaca selama sepekan mendatang, menurut BMKG, tidak hanya dikendalikan oleh proses lokal dari siklus darat-laut saja. Pada skala yang lebih luas, gelombang atmosfer skala antar musim atau intraseasonal seperti gelombang Rossby equatorial dan Kelvin turut memengaruhi pola hujan di wilayahIndonesia.
Intrusi udara kering dari selatan juga memperkuat ketidakstabilan atmosfer di sebagian wilayahIndonesia, khususnya di pulau Jawa. Peningkatan kecepatan angin permukaan (>25 knot) di Laut Andaman, Laut Banda, Laut Jawa, dan Laut Arafura juga perlu diperhatikan, mengingat dampaknya yang mampu meningkatkan potensi gelombang laut tinggi sehingga dapat mempengaruhi aktivitas pelayaran dan kelautan.
“Melihat kondisi atmosfer yang masih relatif dinamis, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi yang masih ada meskipun beberapa wilayah telah memasuki musim kemarau,” katanya.
BMKG terus menekankan pentingnya untuk memantau informasi cuaca dari sumber resmi secara berkala dan mengambil langkah mitigasi yang diperlukan guna mengantisipasi serta mengurangi dampak risiko bencana hidrometeorologi di wilayah masing-masing.