Ilustrasi - BMKG menyampaikan perkembangan terbaru tentang musim kemarau 2025. Wilayah barat dan selatan Indonesia saat ini sudah kering, namun wilayah timur masih berpotensi hujan lebat. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan perkembangan terbaru tentang musimkemarau 2025. Menurut BMKG, wilayah barat dan selatan Indonesia saat ini sudah , namun wilayah timur masih berpotensi lebat.
Sebagaimana dilansir dari laman resmi BMKG tentang Prospek Cuaca Mingguan Periode 6-12 Juni 2025, pemutakhiran awal musimkemarau 2025 menunjukkan pergeseran awal musim yang lebih lambat dibandingkan prediksi Februari, terutama di Jawa serta Bali dan Nusa Tenggara.
“Di Jawa, awal musim bergeser 3–5 dasarian, sementara di Bali dan Nusa Tenggara bergeser 2–4 dasarian, menyebabkan kemarau datang lebih lambat dari normal. Puncak musim kemarau umumnya tetap diprediksi terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2025,” kata BMKG.
BMKG menyampaikan bahwa durasi musim kemarau diperkirakan lebih pendek di sebagian besar wilayah, meskipun sebagian kecil wilayah mengalami durasi lebih panjang dari normal.
Sementara itu, dalam sepekan terakhir hujan dengan intensitas lebat (50-100 mm/hari) hingga sangat lebat (100-150 mm/hari) di beberapa wilayah Indonesia masih relatif tinggi. Tercatat hujan sangat lebat pada tanggal 2 Juni 2025 di Kota Ambon, Maluku (138.1 mm/hari); tanggal 3 Juni 2025 di Kab. Kepulauan Tanimbar, Maluku (123.5 mm/hari) dan Kab. Sintang, Kalimantan Barat (106.4 mm/hari); serta tanggal 4 Juni 2025 di Kab. Maluku Tengah, Maluku (123.6 mm/hari).
“Kondisi atmosfer yang relatif basah masih berpotensi terjadi dalam sepekan ke depan, khususnya di wilayah Indonesia bagian utara dan timur, yang diperkuat oleh dinamika tropis dan topografi di wilayah tersebut,” kata BMKG.
Aktivitas gelombang ekuator seperti Madden–Julian Oscillation (MJO), aktifnya gelombang Kelvin dan Equatorial Rossby, serta bibit siklon tropis 92W meningkatkan peluang terbentuknya awan-awan konvektif di beberapa wilayah.
Di sisi lain, labilitas atmosfer skala lokal, baik dari interaksi angin darat/laut maupun dari faktor geografis lainnya, turut memperkuat proses konvektif di wilayah selatan Indonesia. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat pada siang hingga sore hari yang disertai kilat/petir yang tidak merata dengan waktu singkat.
“Mengingat atmosfer bersifat sangat dinamis, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi, meskipun beberapa wilayah telah memasuki musim kemarau,” imbau BMKG.
BMKG terus menekankan pentingnya memantau informasi cuaca dari sumber resmi secara berkala dan mengambil langkah mitigasi yang diperlukan guna mengantisipasi serta mengurangi dampak risiko bencana hidrometeorologi di wilayah masing-masing.