Search

Distingsi Program Studi Dinilai Kunci Keberlangsungan PTKIN

JAKARTA, (ERAKINI) - Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN 2026 Prof Abdul Aziz menilai distingsi atau keunikan program studi menjadi kunci keberlangsungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di masa mendatang.

Menurut Abdul Aziz, meskipun program studi yang tergabung dalam PMB PTKIN relatif terbatas, sekitar 85 jenis, hampir seluruh PTKIN memiliki program studi yang serupa. Kondisi tersebut kini semakin menantang dengan hadirnya sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang juga membuka program studi keagamaan.

“Tantangan utama PTKIN adalah bagaimana menjelaskan perbedaan substantif antarprogram studi sejenis kepada masyarakat. Di sinilah peran Ketua dan Wakil Ketua Program Studi menjadi sangat krusial,” ujar Abdul Aziz dalam Sharing Session Penguatan Distingsi Program Studi yang digelar Panitia Nasional PMB PTKIN 2026, Selasa (28/1/2026).

Ia menegaskan, Ketua dan Wakil Ketua Program Studi merupakan pihak yang paling memahami keunikan program studi PTKIN sekaligus menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan eksistensi institusi di ruang publik.

Abdul Aziz juga menyoroti besarnya potensi PTKIN yang bersumber dari ekosistem madrasah, pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), hingga Mu’allimin. Potensi tersebut, kata dia, perlu dikelola secara terarah agar PTKIN tidak kehilangan calon mahasiswa potensial.

Sementara itu, anggota Kelompok Kerja Penjaminan Mutu PMB PTKIN Prof H Zulfahmi Alwi mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir muncul indikasi penurunan minat pendaftar PTKIN. Komposisi pendaftar pun mengalami pergeseran, dengan dominasi lulusan SMA, sementara lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) justru menunjukkan kecenderungan menurun.

“Keputusan memilih perguruan tinggi sepenuhnya berada di tangan peserta didik. Pertanyaannya, apakah PTKIN sudah cukup meyakinkan dalam membangun minat, kepercayaan, dan keberanian mereka?” kata Zulfahmi.

Dia mengajak seluruh program studi melakukan refleksi internal melalui peneguhan identitas dan kebanggaan kelembagaan, penguatan etos kerja berbasis amanah, relevansi historis dengan cita-cita pendiri PTKIN, serta penguatan integritas akademik yang tercermin dalam kurikulum dan proses pembelajaran.

Selain itu, ia menekankan pentingnya keselarasan strategi program studi dengan visi universitas serta penerapan budaya mutu dan disiplin proses secara nyata, tidak semata-mata untuk memenuhi tuntutan administratif akreditasi.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI Prof Sahiron menjelaskan, terdapat tiga pendekatan integrasi yang dapat dikembangkan, yakni integrasi metodologis, integrasi substantif, dan integrasi spiritual-etis. Ketiganya dinilai mampu membentuk karakter akademik sekaligus memperkuat daya saing program studi PTKIN.

Kegiatan Sharing Session Penguatan Distingsi Prodi PMB PTKIN 2026 ditutup dengan diskusi interaktif yang menjadi ruang pertukaran gagasan dan praktik baik antarketua program studi dari berbagai PTKIN di Indonesia.

Sebagai informasi, kegiatan ini diikuti Panitia Pusat PMB PTKIN 2026 serta seluruh Ketua Program Studi jenjang sarjana (S1) PTKIN se-Indonesia. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi nasional untuk merespons tantangan pendidikan tinggi, khususnya tren penurunan jumlah pendaftar PTKIN dan meningkatnya persaingan program studi serumpun, baik di lingkungan PTKIN maupun dengan PTN.