Acara Takjil Pesantren yang digelar Kementerian Agama (Kemenag). Acara ini dipadukan dengan talkshow serta Ngaji Bareng Santri di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026). (Foto: Kemenag).
JAKARTA, (ERAKINI) - Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui Direktorat Pesantren menggelar kegiatan bertajuk Takjil Pesantren yang dipadukan dengan talkshow serta Ngaji Bareng Santri di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026). Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan bertema “San Trend Ramadhan.”
Acara tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting yang membahas arah dan proyeksi santri di masa mendatang, sekaligus memperkuat peran strategis pesantren dalam pembangunan bangsa.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamarudin Amin, menegaskan bahwa santri perlu memiliki visi belajar yang luas dan terukur. Menurutnya, penguasaan ilmu agama (tafaqquh fiddin) tetap menjadi fondasi utama, tetapi santri juga perlu memahami ilmu ketatanegaraan dan wawasan kebangsaan. “Santri masa kini jika bisa tidak hanya memiliki target tafaqquh fiddin tetapi bisa belajar ketatanageraaan juga sehingga bisa sukses di pos pos strategis,” kata Kamarudin.
Pengasuh PP Al-Tsaqafah KH Said Aqil Siradj dalam kesempatan yang sama menerangkan bahwa pesantren memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang sangat besar, salah satunya melalui khazanah kitab kuning yang menjadi fondasi pembelajaran.
Dijelaskan Kiai Said bahwa konstruksi keilmuan pesantren bertumpu pada tiga pilar utama, yakni bayan ilahi yang bersumber dari wahyu, bayan nabawi yang merujuk pada sunnah, serta bayan aqli yang berkembang melalui ijtihad ulama seperti ijma dan qiyas.
“Pesantren itu kaya, salah satunya karena tradisi kitab kuningnya. Di dalamnya ada bayan ilahi, ada bayan nabawi, dan juga bayan aqli yang melahirkan ijma serta qiyas sebagai metode istinbath hukum,” jelas Kiai Said Aqil.
Sementara itu, Direktur Pesantren Basnang Said menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian “San Trend Ramadhan” yang meliputi Takjil Pesantren, Pesantren di Radio, Ramadhan Insight, Ngaji Bandongan Online, dan berbagai agenda lainnya.
Kegiatan Takjil Ramadan dilaksanakan dengan pendekatan tematik, dan pada pelaksanaan perdananya di PP Al-Tsaqafah Ciganjur mengangkat tema “Dari Pesantren untuk Dunia: Proyeksi Santri Masa Depan.”
Basnang juga menegaskan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar slogan, melainkan arah strategis pembinaan santri ke depan. Ia menekankan pentingnya menghadirkan figur santri yang kuat dalam tradisi, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki komitmen kebangsaan yang kokoh.
“Santri masa depan yang kita proyeksikan adalah santri yang berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren sebagaimana dicontohkan oleh Kiai Said, menguasai khazanah klasik, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan zaman. Santri harus mampu menjaga identitas keislaman dan keindonesiaannya, berwawasan luas, dan tetap berkomitmen untuk Indonesia,” katanya.