Ini hari Minggu pukul tujuh pagi
dan ia tetap saja akan menemukan melankoli:
uap tipis pestisida mengapung
di udara musim bunga, di antara
sekawanan lebah putus asa
yang berdengung pada putik lembut
bunga-bunga palawija.
“Ada yang baru pulang kampung
dan terlihat canggung di depan
bahasa ibu,” seseorang berkata,
kata-kata yang telah menjadi gema
sepanjang bulak. Dan ia mengira
akan bisa meredamnya, setiap kali
pada Minggu pagi.
Terayap di jalan pematang itu lagi,
di kepalanya rimbun daun jagung
pukul tujuh pagi. Masih hijau berseri
menumbuhkan banyak kata
dari masa kanak,
dari bahasa ibu:
ada tebon,
ada babon,
ada playon.
ada bagian dalam dirinya yang belum bisa
menerima kampung halaman
sebagai kata pulang.
Tapi ia tahu sejak lama dan bisa menerima
—seolah sejak playon—bahwa segar tebon
cukup baik untuk para babon,
cukup berguna sebelum amuk lesus memupus segala
yang tegak berdiri di ladang keluarga,
sebelum seorang blantik bertopi laken
menuntun seekor demi seekor ke pasar sapi,
sebelum sunyi yang papa berdesus
dari masa-masa lumus.
“Ada yang baru datang dari rantau
dan mudah terpukau oleh perkara-perkara
semenjana,” seseorang berkata,
kata-kata yang mendekatkan ingatannya
pada gatal miang bambu, pada getah-gatal
ranum embacang, pada batang menjulang
pohon-pohon sukun, pada mereka yang tekun
berjaga sebelum datang petaka,
sebelum hama dan gulma menjadi kata
yang paling terjangkau algoritma.
Ini hari Minggu pukul tujuh pagi, dan ia
—dengan sepedanya yang tak bisa
menjangkau arah dunia—
bergerak lamban ke bentang ladang:
bersiap menjadi kecil seperti ingatan
pada kata sederhana yang selalu luput
diucapkan, seperti nama-nama
atau peristiwa kuna yang sulit ditemukan
dalam mesin peramban.
Sewaktu di rumah kubah,
begitu dekatnya kita dengan kabut.
Putih dindingnya lebih tahan lama,
dan aku makin berjarak denganmu,
pura-pura tak kenal takut.
Dan waktu menjadi cepat petang.
Kuhirup kopiku dan menatapmu: sebentar lagi, kau akan bisa berburu bintang
Kau bergeming menatap ke ufuk, dan di langit
Tuhan begitu riang melebarkan kubahnya:
jingga nan matang, sesekali cercahnya menyusup
ke hatiku yang tertawan
di sisi lain kaldera ini,
sesekali cercahnya jatuh, jauh ke danau itu
—Segara Anak yang mendekatkan jarak
gigil-hening di antara kita.
Malamnya dinding-dinding berhantu jelaga,
hitam lebih dingin dan kekal.
Sekali waktu di atas tenda itu bintang berkejaran:
pendar cahaya jatuh dan kau
lebih senang menangkapnya dengan angka.
Aku juga teringat paginya,
begitu dekatnya kita dengan dingin.
Saat selimut tebal itu mesti kaubuka
rambut pagimu mengusikku: aroma embun yang semalaman kuperam di pohonan cemara.
Sewaktu di rumah kubah,
dinding-dinding kabut yang tak berjarak,
meliatkan rindu bertahun perjalanan.
Dan kini, dalam-dalam aku menghirupnya,
untuk kemudian melepasnya.
Ini bukan tentang perayaan sebuah kota
yang gemerlapnya menjulang hingga ke langit terang,
yang riuhnya kerap meninggalkan nyeri pada sepi ruang.
Ini tentang bagaimana cara mengingat:
warna-warna berbeda dan menjadi serasi,
suara-suara beragam dan menjadi harmoni,
hari-hari yang sungsang, yang lurus, yang mendung,
yang riang, yang buruk, yang celaka, yang terahmati,
yang hebat, yang kuat, yang berkah, yang indah
di sebuah tlatah.
Ini bukan tentang sebuah pesta
yang ingar-bingar, yang terang kembang api
dan lekas pudar, lekas sunyi, lekas mati
ketika masa berganti.
Ini bukan tentang singgasana atau apa saja
yang membuat siapa saja lebih mudah jumawa
pada mereka yang papa, yang melulu luka,
yang diam sendirian dan dibungkam,
yang berjalan dalam dingin dan butuh
sesekali pelukan, yang melintas-lintas
dan serba terbatas, yang menunggu
membalas sapamu dan tabah berdiam
di tanah Mentaram.
Maka datanglah,
bertandanglah
agar bisa duduk dan berdiri
bersama hatimu yang matang
dan riang.
Maka datanglah,
bertandanglah ke rumah
yang epen gawe.
Sebab semua kebaikan telah diundang
agar tak ada lagi yang canggung
atau merasa kurang beruntung
di depan apa yang bergelimang
dalam dulang.
Agar tak ada lagi mala dan nestapa
yang menari-nari
di atas nare
Ini bukan tentang perayaan sebuah kota,
tapi tentang semuanya dalam diri kita,
dalam diri kota yang menginginkanmu,
yang menerima doa-doamu.
Kota ini menyambutmu dari angkasa yang terbuka:
dari pucuk-pucuk menara kubah, di antara harum dupa,
sesekali aroma hio menyusup di antaranya
ke dada paling lapang siapa saja
—mereka yang bersedia menerima
segala yang bhineka.
Kota ini memberkatimu dengan khusuk-ramah doa:
dengan kumandang azan, dengan lantunan puja
juga nyanyian-nyanyian syukur pada hari-hari
yang mabrur. Kota ini memberkatimu sedari
subuh hingga petang, hingga
pada malam-malam terang.
Dengan tangan dan hati yang terbuka,
kota ini menerimamu:
sebagai pejalan yang singgah,
sebagai yang bermukim,
sebagai tamu yang santun,
sebagai siapa saja yang berani bijak
menjunjung langit di mana bumi sedang kaujejak.
Kota ini adalah Mataram
adalah Metaram
adalah Mentaram
adalah Matta-Aram
adalah tanah yang penuh gairah-kegembiraan
hidup—adalah tlatah yang dibangun dengan
harapan-harapan baik ke masa depan.
Kota ini telah memilihmu untuk berbicara
pada dunia, sesekali melalui sungainya
yang membelah kota—sungai-sungai
yang diam-diam mengalirkan mikroplastik.
Sesekali melalui pantai yang ombaknya kerap
menelan kampung halaman dan mengirimkan kembali
apa saja yang pernah dibuang tidak pada tempatnya,
sesekali lewat gang-gang rapat dan penuh warna,
sesekali lewat mereka yang tidak pandai berujar
dan menutupi nyeri perutnya yang lapar.
Tapi kota ini telah memilikimu
(dan kau memilikinya)
dengan penerimaan yang tulus,
dengan segala bentuknya yang ada.
Dan kau—dengan senang hati—bisa memilih
sebagai manusia yang memanusiakan liyan,
sebagai etintas yang lapang menerima
setiap jengkal perbedaan.
Ia (Mandalika) Tak Butuh Cinta yang Dipertentangkan
Barangkali karena ia
tak butuh cinta yang birahi,
cinta dengan tabiat menguasai,
cinta yang harus berserah
dan bersembah kepada Paduka:
mereka yang datang dengan pundi-pundi
dan sanjungan kepada Sang Putri,
mereka yang datang dengan siasat
lembut penaklukan.
Tapi tak ada yang harus luluh,
sebab hatinya telah jatuh
pada kesetaraan, pada kedamaian,
pada kemakmuran.
Maka ia pun bertitah:
“Wahai para Paduka-pangeran yang mulia,
para Kawula tercinta tak terkecuali siapa,
datanglah pada hari yang telah ditentukan.
Sebab hatiku telah bulat dan jiwaku
tak lagi ragu…”
Maka pada bulan kesepuluh
berduyunlah mereka sejak subuh.
Mereka yang datang dari Sawing,
dari Lipur, juga Sekar Kuning
—mereka yang menunggu dengan dada berdebar,
dengan pertanyaan-pertanyaan berkisar.
Barangkali ia tak butuh cinta
yang dipertentangkan. Maka ia
berdiri di batu itu—ia berdiri di ambang
tanpa rasa bimbang pada asmara
yang kepalang batu tertuju padanya.
Dan ia pun mulai berkata:
“…. Aku tak memilih salah satu.
Aku (Mandalika) milik kalian semua,
milik kesetaraan, milik kedamaian,
milik kemakmuran.”
Maka lesaplah ia
ke lubuk samudra.
Dan mereka yang ditinggalkan
bersambut sedu sedan
hingga nyale—warna warni
jelmaan Putri—tiba
sebelum cahaya pagi,
tiba dengan kabar-kabar baik:
sejenis kegembiraan,
semacam harapan
dari paras lautan.
Kolomayan, 9 Februari 2025
Tjak S. Parlan,
Menulis cerita pendek, esai, resensi, feature perjalanan dan novel. Sejumlah bukunya telah terbit, antara lain Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017; Kumpulan Cerita Pendek), Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019; Feature Perjalanan), Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020; Kumpulan Cerita Pendek), Cinta Tak Pernah Fanatik (Rua Aksara, 2021; Kumpulan Puisi—masuk 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-21). Buku terbarunya Sagu Masih Jauh di Hulu (Diva Press, 2025; Kumpulan Puisi).