Esai ‘Politik dan Puisi’
Bandung Mawardi
PADA suatu hari, partai politik mengadakan acara di ruangan. Mereka berkumpul menunaikan misi-misi demokrasi. Peristiwa politik makin sah dengan busana, bendera, logo, dan lain-lain. Mereka sedang dalam suasana serius dalam penentuan sikap-sikap berdemokrasi setelah coblosan dan penetapan hasil pemilu oleh KPU. Politik makin seru menjelang pergantian penguasa. Partai politik itu memerlukan pidato, rapat, deklarasi, atau pengumuman.
Debat-debat bermunculan setelah publik mengetahui dinding di ruangan itu tampak aneh. Di tatapan mata, ada benda "hilang". Dinding biasa menampilkan representasi kekuasaan dengan jejeran: foto presiden, garuda, dan foto wakil presiden. Pada saat peristiwa politik digelar oleh partai politik pemenang pemilu, foto presiden tak ada di dinding. Kecaman dan pembelaan bermunculan dari beragam tokoh. Presiden ikut memberi "jawaban" saat diminta pendapat oleh para wartawan. Kita sempat mengerti bila foto terlalu masalah dalam politik mutakhir di Indonesia.
Kita mendingan mengingat sejarah. Selama puluhan tahun, kita melihat foto Soekarno berdiri di serambi rumah. Ia mengenakan busana necis. Di muka mikrofon, ia membaca teks bersejarah: 17 Agustus 1945. Di dekat Soekarno, kita melihat sosok Mohammad Hatta mengenakan kacamata. Foto itu menentukan babak-babak sejarah Indonesia. Foto bertema "proklamasi" tercipta awal sebelum pembuatan foto resmi Soekarno-Hatta sebagai presiden-wakil presiden Indonesia. Foto-foto bersejarah mengingatkan kita dengan dua nama penting selaku juru potret: Alex Mendur dan Frans Mendur (Intisari, Juni 1971).
Pada masa lalu, foto-foto Soekarno menjelaskan revolusi. Jumlah foto terus bertambah, bermakna sejarah dan politik. Indonesia bersama foto-foto Soekarno tak abadi setelah malapetaka 1965. Situasi politik berubah dan tokoh-tokoh dalam kekuasaan menginginkan "desoekarnoisasi". Dampak paling kentara, foto-foto Soekarno "menghilang" atau berkurang.
Dinding-dinding rumah, kantor, sekolah, dan pelbagai tempat mulai menampilkan foto Soeharto. Foto di samping garuda biasa berganti. Soeharto tetap hadir di dinding atau tembok demi kemapanan kekuasaan. Foto-foto tak sama sesuai pertambahan usia dan periode kekuasaan. Kita lahir dan besar pada masa Orde Baru, terlalu akrab melihat foto-foto Soeharto di dinding. Pengalaman itu bertambah dengan melihat foto di buku, koran, majalah, dan lain-lain.


















