Ilustrasi untuk cerpen berjudul Empat Bulan setelah Pemilu karya Zaenal Radar T. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini)
AKU memasuki ruangan berukuran 4 x 6 meter. Ruangan sejuk berpendingin ini dilengkapi ranjang empuk, dua buah sofa dengan meja kotak bertaplak motif, dan atasnya diberi pot bunga. Sebuah lemari dan gantungan baju berada di salah satu sudut. Di sebelahnya terdapat sebuah kamar mandi, lengkap kaca hias dan toilet duduk. Seorang berbaju putih menyuruh aku menganggap ruangan ini sebagai kamarku sendiri.
Entah berapa lama aku akan berada di ruangan ini. Sebenarnya aku tak merasa betah berada di sini. Tetapi lebih tak betah lagi berada di luar sana. Masih lekat dalam ingatan, sejak sepuluh bulan lalu, aku harus keluar masuk kampung bersama dengan atasanku, Pak Sobri, bertemu dengan banyak orang. Dan sekarang barulah kusadari. Ada begitu banyak kebohongan, kemunafikan, dan hal-hal yang menjijikan.
Harusnya hari ini aku bukan berada di ruangan ini. Mestinya aku berada di Senayan bersama dengan Pak Sobri, di sebuah ruang Gedung Wakil Rakyat, sebagai asistennya, sebutannya staff ahli. Kata Pak Sobri, kalau dia jadi anggota dewan, aku akan dijadikan staf ahlinya. Tetapi karena suaranya sedikit dalam pemilu, rasanya semua impian itu jadi berantakan. Aku benar-benar tidak menyangka bila akhirnya seperti ini.
Sejak penghitungan suara di tempat-tempat pemungutan suara diumumkan, dan suara Pak Sobri cuma segelintir saja, tubuhku terasa kaku. Persendian begitu kelu. Darah seperti tak lancar mengalir. Kepala panas dan kaki menjadi dingin. Ingatan selalu terbayang pada janji-janji banyak orang yang membohongiku. Para tim sukses yang sepakat kita sebuat sebagai timses.
“Tenang Pak. Saya sudah mengamankan suara Pak Sobri,” ujar salah satu timses.
“Dari lima belas TPS yang ada di daerah ini, suara Pak Sobri penuh di 10 TPS!” kata timses yang lainnya.
“Saya punya masa sepuluh ribu orang. Dan akan saya berikan semuanya buat Pak Sobri,” kata timses yang lainnya lagi.
Masih banyak lagi cara-cara orang yang kutemui, yang pada akhirnya harus kuberikan imbalan, dan akhirnya harus berakhir seperti ini. Waktu itu tentu saja aku hanya memberikan saja. Uangnya dari kantung Pak Sobri. Harapan-harapan yang mereka janjikan harus kami tebus dengan uang. Dan ini akan memberikan kesempatan agar Pak Sobri menjadi bagian dari wakil rakyat di Senayan. Tapi nyatanya, dia harus menerima kekalahan.
Di tempat pemungutan suara depan rumahku, Pak Sobri hanya mendapatkan delapan suara saja, dari dua ratus lebih orang yang memiliki hak pilih. Sudah kutaksir-taksir, siapa delapan suara itu. Aku, istriku, dua keponakan, dua kakak perempuanku, dan satu kakak ipar, dan satu adikku yang baru pertama kali mencoblos. Setelah kuberikan uang dua ratus lima puluh ribu, adiku bersumpah kalau dia memilih Drs Sobri, dari partai anu. Adikku lupa nama partainya, tapi dia ingat nama dan gelarnya. Dan entah kenapa orang-orang yang kuberikan uang, baik secara langsung maupun lewat timses, ogah memilih Pak Sobri. Aku tidak tahu apa sebabnya. Mungkin uang yang kuberikan kalah besar dibanding timses caleg lainnya. Mungkin.
Menurut cerita Pak Sobri, kira-kira satu setengah tahun lalu, Pak Sobri ditawari seorang rekan satu kampus untuk menjadi anggota calon legislatif sebuah partai baru. Tidak seperti partai lainnya, yang katanya harus mengeluarkan biaya untuk berada di nomor urut satu, Pak Sobri tak perlu repot-repot mengeluarkan uang. Pak Sobri langsung jadi caleg nomor satu! Tetapi untuk biaya kampanye, biaya atribut seperti kaos, bendera, baliho, stiker dan lainnya ternyata seluruhnya menjadi tanggungan Pak Sobri.
Tiga bulan sebelum masa pemilihan umum berlangsung, kampanye pun boleh dilakukan di daerah pemilihan. Daerah pemilihan Pak Sobri meliputi dua kotamadya dan satu kabupaten, yang terdiri dari puluhan kecamatan, ratusan desa dan ribuan RT. Kalau saja setiap hari Pak Sobri harus memperkenalkan diri pada sebuah RT, yang kami sebut sebagai sosialisasi, tak akan terpenuhi dalam waktu tiga bulan. Maka harus dicari lain yang lebih efektif.
Selama memperkenalkan diri, berbagai jenis sifat manusia kami temukan. Umumnya mereka menuntut banyak dari calon wakil rakyat seperti Pak Sobri. Ada yang minta karpet mushola, dana pembangunan masjid, speaker ibu-ibu PKK, perbaikan lapangan bola, kerudung pengajian, semen atau pasir untuk perbaikan jalan, dan banyak lagi. Heran sekali aku. Mereka menganggap Pak Sobri orang yang bertanggung jawab atas segala kebutuhan mereka. Setiap kali berkunjung ke sebuah wilayah, selalu ada yang harus dikeluarkan.
Tetapi kata Pak Sobri, tak mengapa hal itu dia lakukan. Sebab bila nanti dia menjadi anggota wakil rakyat di Senayan, semua pasti akan kembali. Katanya, itu sudah pasti! Salah satu bekas kakak kelas Pak Sobri di kampus, yang saat ini menjadi anggota dewan, hidupnya benar-benar berubah. Pak Sobri bercerita: Dia masih ingat benar. Pada zaman kuliah dulu kakak kelasnya itu tak mampu mengontrak tempat tinggal. Makan seadanya. Tidur pun sering di teras masjid. Tetapi sekarang ini, setelah menjabat sebagai wakil rakyat, semua benar-benar berubah. Mobilnya empat. Rumah lebih dari lima. Sering melancong ke luar negeri. Bahkan kabarnya, dia punya istri tiga.
Setiap kali merasakan kejenuhan dan berbagai tekanan, yang selalu Pak Sobri ceritakan adalah nasib bekas kakak kelas yang jadi anggota dewan itu. Sehingga setiap kali mengeluarkan biaya untuk ini itu, dia selalu berharap bahwa semua akan kembali.
Namun yang sekarang terjadi, benar-benar jauh dari harapan. Di kecamatanku saja, Pak Sobri hanya mendapatkan kurang dari seribu suara. Sungguh jauh dari target, yakni minimal dua ratus lima puluh ribu suara yang semestinya dia dapatkan. Kemana suara-suara yang dijanjikan oleh tim suksesnya itu. Kemana?? Paling tidak, untuk di lingkungan tempat tinggalku, aku berharap meraih suara mayoritas. Kenyataannya, Pak Sobri tetap kalah telak.
“Salahnya bapak. Kenapa bapak tak mengusulkan Pak Sobri serangan fajar!” ujar seorang warga, yang tinggal beberapa langkah dari rumahku.
“Maksud kamu apa?”
“Tim sukses partai lain menyebar duit sebelum hari pemilihan.”
Aku terdiam sesaat. Aku bingung. Apakah tetanggaku ini lupa, kalau aku pernah membantu warga disekitarku dengan macam-macam bantuan. Dan aku bukannya belum pernah memberikannya amplop berisi uang. Memangnya harus berapa kali? Sehingga dia menuntut serangan fajar. Para tetangga tidak pernah menyadari bila Pak Sobri sudah kehabisan uang. Dua buah mobilnya sudah dijual. Tabungan amblas. Perhiasan sirna. Perusahaan pontang panting karena uangnya dipakai buat kampanye. Bahkan barang-barang berharga sudah digadaikan, termasuk rumah yang menjadi tempat tinggal keluarganya.
“Biar saja partai lain menyebar uang. Pak Sobri tidak mau!”
“Kenapa Pak? Rakyat kita tuh rakyat pelupa!”
“Maksud kamu apa?”
“Meski Cuma pakai uang dua puluh ribu, mereka mau menerima dan membela menusuk caleg yang memberikan uang. Mereka lupa kalau selama lima tahun masa kepemimpin, sang penguasa itu lupa kepada rakyat.”
“Jadi menurutmu Pak Sobri harus bagaimana?”
“Dia juga harus menyebar uang buat warga!”
“Loh, yang kemarin-kemarin itu?”
“Maksudnya serangan fajar! Yang kemarin itu sudah dilupakan, karena ada serangan terakhir.”
Akhirnya kuusulkan kepada Pak Sobri tentang serangan fajar itu. Keesokan harinya, Pak Sobri mendapat kesempatan meminjam uang kepada rentenir. Mereka menyiapkan dua ratus lima puluh juta. Sebagai jaminan, mereka menginginkan mobil terakhir Pak Sobri, mobil satu-satunya yang masih tersisa. Aku mendapatkan tugas memberikan dua puluh ribu per-kepala, agar setidaknya Pak Sobri mampu mendapatkan suara mayoritas. Untuk orang terdekat dan kerabat, termasuk istri dan familiku sendiri, seperti yang pernah kubilang tadi, seorang mendapat dua ratus lima puluh ribu.
Aku membaringkan tubuh di ranjang. Tetapi mata ini sulit kupejamkan. Aku tak menyangka bila aku berada di ruangan ini. Aku harus istirahat di Rumah Sakit Jiwa ini. Padahal aku tidak gila. Tapi mau bagaimana. Aku harus mengambil jalan ini, karena pikiranku buntu.
Aku tak mampu bertemu dengan Pak Sobri. Aku takut. Mendengar namanya disebut saja, badanku panas dingin. Apalagi saat mendengar kekalahannya di semua tempat pemungutan suara. Aku semakin tersudut. Maklumlah, aku yang bertanggung jawab atas suara Pak Sobri. Karena akulah orang kepercayaannya.
Akhirnya, aku hanya menatap langit-langit kamar sambil mengingat-ingat apa yang telah terjadi...
Menjelang hari pemilihan umum. Ibuku sakit keras. Ia dibawa ke rumah sakit dan harus mengalami operasi. Pada saat bersamaan, adikku mendapatkan kecelakaan hingga kakinya harus diamputasi. Aku bingung harus bagaimana. Ayah dan adikku harus segera ditolong. Keduanya membutuhkan banyak uang.
Aku mengalami kebuntuan. Kepalaku tak bisa berfikir. Meski aku memegang uang dua ratus lima puluh juta, aku tak berani menggunakannya. Sebab uang itu milik Pak Sobri. Tetapi karena keadaan yang mendesak, uang itu kupakai untuk biaya operasi ibuku, dan juga biaya rumah sakit adiku serta korban akibat kecelakaan yang disebabkan olehnya.
Yang harus kubayarkan untuk biaya berobat ibu dan adiku, jumlahnya dua ratus juta lebih sedikit! Habis sudah uang Pak Sobri yang dititipkan kepadaku, hanya tersisa sekitar lima puluh juta. Urusan Pak Sobri biarlah kutanggung belakangan. Yang penting aku bisa menyelamatkan nyawa Ibu dan adikku. Sisanya baru kubagi-bagi.
Aku bersyukur saat ini keduanya sudah lebih baik. Berbeda dengan keadaanku. Meski tubuh ini segar bugar, pikiranku pusing tujuh belas keliling. Benar-benar sial. Pak Sobri yang gagal jadi anggota dewan, malah aku yang masuk RSJ.
Aku mendapat telpon. Katanya pak Sobri akan menjenguku. Dadaku mendadak panas. Jantung rasanya mau copot. Aku takut bertemu Pak Sobri. Perasaan bersalah ini tak bisa kututup-tutupi. Aku takut Pak Sobri menanyakan kemana uang serangan fajar yang telah dia berikan kepadaku. Aku mau jawab apa.
“Kalau serangan fajar itu kamu lakukan, suaraku nggak separah ini!”
“Ini semua salah kamu! Kamu telah merampas hak saya menjadi anggota dewan!”
“Aku menyesal telah menjadikan kamu tangan kananku!”
“Cepat kembalikan uang itu, atau saya akan melaporkannya ke polisi!”
Kata-kata ini keluar masuk pikiranku. Kata-kata yang mungkin saja diucapkan Pak Sobri saat bertemu denganku di ruangan ini. Apa yang harus kulakukan. Sudah pasti aku harus pura-pura gila! Pura-pura sinting! Pura-pura stress.
“Kamu bukan caleg, kenapa kamu yang stress?”
“Yang pantas gila itu caleg, bukan tim sukses seperti kamu!”
“Dasar orang aneh!!”
Itulah kalimat penutup yang mungkin akan diucapkan Pak Sobri.
Aku tersentak saat seseorang memasuki ruangan. Dia mengatakan, bahwa seseorang yang bernama Pak Sobri datang menjenguk. Bagai disambar gledek, aku langsung melompat dan mengacak-acak rambutku. Aku harus terlihat kacau di depan Pak Sobri! Aku harus meyakinkan diri Pak Sobri, bahwa aku sudah gila.
Beberapa saat kemudian, Pak Sobri datang. Melihat wajah Pak Sobri, aku berubah pikiran. Rasanya aku tak tega mengelabuinya. Aku tak mampu membohonginya. Pak Sobri orang baik. Dia sudah banyak menolongku, menolong keluargaku, menolong anak dan istriku. Tapi aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Aku benar-benar manusia yang tidak tahu balas budi. Manusia tidak tahu diuntung!
Pak Sobri tersenyum kepadaku.
“Kamu kenapa...?”
“Saya... saya nggak tahu, Pak Sobri...”
“Releeeeksss...”
“Bagaimana bisa releks, pak... Saya memikirkan suara bapak. Saya sangat kecewa bapak kalah di daerah saya!”
“Sudahlah... tenang. Kamu nggak usah memikirkan itu.”
“Tapi saya benar-benar kecewa pak... saya kecewa... hiks...” Aku menangis.
Aku merengek bagai anak kecil di depan orangtuanya karena suatu kesalahan fatal. Pak Sobri mengelus-elus punggungku, seperti seorang ayah yang tengah menenangkan anaknya.
“Tenaang... kamu nggak usah menangis begitu...”
“Saya nggak terima kekalahan bapak... nggak terimaaaaaaa!!!”
“Pssstttt.....”
“Nggak terimaaaaaa!!!”
Aku pun meronta-ronta mirip orang kesurupuan. Entah setan dari mana yang membuat aku seperti ini. Akhirnya seorang dokter datang dan langsung memberikan obat penenang melalui jarum suntik. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Aku tersadar keesokan harinya, saat istriku datang menjenguk.
“Bapak ini gimana, Pak Sobri dan orang-orang berpesta, bapak malah masuk rumah sakit jiwa,” ucap istriku. Aku kaget, mataku langsung mendelik.
“Maksud kamu apa?”
“Pak Sobri kan sudah dimumkan kalau dia berhasil jadi anggota dewan. Suaranya menang waktu diumumkan KPU. Sidang plenonya kemarin, dan beliau resmi ditetapkan sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat!”
“Masak sih? Perasaan dia kalah disemua tempat pemilihan suara, kenapa bisa menang?!”
“Ya mana aka taaaahu!”
Aku bingung mendengar ucapan istriku. Aku baru yakin ketika salah seorang temanku mengabarkan beberapa saat setelah istriku pamit pulang, bahwa Pak Sobri bakalan jadi anggota dewan karena meraih suara melimpah.
“Aneh!” kataku.
“Aneh tapi nyata. Itulah yang terjadi,” ujar temanku sambil memandangiku dengan raut wajah khawatir.
“Kalau Pak Sobri benar-benar jadi anggota dewan, siapa yang akan menjadi staf ahlinya?”
“Yang jelas, dia orang yang waras dan mampu mendampinginya. Bukan orang gila macam kamu.”
Aku terdiam mendengar kata-kata temanku. Dadaku nyeri seperti ditusuk-tusuk belati.
Tangerang Selatan, 2024
Zaenal Radar T,
Lahir di Tangerang, 07 Desember 1973. Selain menulis cerita pendek, menulis skenario film dan serial televisi. Menetap di Tangerang Selatan.
Buku kumpulan cerpennya:
- Harga Kematian (2003), - Airmata Laki-laki (2004), - Si Markum (2017).