Ilustrasi untuk cerita pendek berjudul 'Berani Mendekat, Aku Tendang' karya Mahrus Prihany yang bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI). (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini)
MUNGKIN kau berpikir bahwa seorang yang jago menendang adalah pemain sepak bola seperti Ronaldo atau Messi. Tapi Nurima, perempuan yang terkenal sebagai tukang tendang di seantero komplek perumahan kota kami bukanlah pemain sepak bola. Ia bahkan belum pernah menendang bola. Itulah hebatnya dia, orang-orang telah takut terlebih dahulu padanya bahkan sebelum ia melakukan tendangan.
Nurima, nama sebenarnya, seorang perempuan berumur sekitar empat puluh, adalah ibu beranak dua. Namun biar begitu, parasnya masih terlihat seperti usia tiga puluh saja. Jelasnya, parasnya tampak lebih muda dari usia sebenarnya. Itu bukan karena Nurima rajin berolah raga – terlebih bermain sepak bola – atau pergi ke salon kecantikan. Itu mungkin karena Nurima menjalani hidupnya dengan penuh bahagia meski dalam keadaan sedang mengalami kesusahan secara ekonomi atau segala masalah lainnya.
Ya, ketika banyak orang menjerit dan mengalami kesusahan pada masa sekarang ini akibat harga kebutuhan pokok yang selalu naik seperti beras dan telur sementara pendapatan tidak kunjung bertambah, Nurima tetap hidup damai dan baik-baik saja. Tak pernah terdengar perempuan itu berkeluh kesah atau membicarakan dengan nyinyir persoalan biaya pendidikan anak-anak, kekurangan kebutuhan rumah tangga, atau politik ala emak-emak lainnya. Pembawaan Nurima sungguh santai dan ramah tapi ia akan menjadi sosok seolah penyerang bola yang sangat ditakuti untuk suatu hal.
Satu kalimat yang begitu terkenal dan menakutkan yang membuat nama Nurima melambung adalah, ”Berani mendekat, aku tendang”. Nurima sebenarnya tidak sembarangan mengatakan kalimat sakti itu. Meski jarang mengucapkannya, kalimat itu telah menjadi narasi yang beredar dari mulut ke mulut setiap orang di komplek perumahan ini. Ya, kalimat itu seperti tendangan di kotak penalti dari seorang penyerang mematikan yang pasti akan menghasilkan gol. Tak ada yang mampu menangkis atau menepis tendangan itu.
Nurima pertama kali mengucapkan kalimat itu pada Titi, seorang perempuan cantik dan seksi yang telah memiliki suami bernama Maroji. Oh iya, Titi ini juga nama sebenarnya, untuk sekadar tahu saja, penampilannya bisa membuat lelaki menelan ludah. Titi ini rajin sekali mengikuti senam untuk menjaga keindahan badan. Saat itu Nurima mendatangi rumah Titi dengan baik-baik laiknya seorang tamu. Setelah mengetuk pintu dan tuan rumah membukanya, Nurima lalu berkata singkat tanpa basa-basi. Setelah mengucap kalimat tersebut, tentu Titi terkejut bukan alang kepalang. Ia pun menjawab dengan nyalang.
“Apa maksudmu, Nurima?”
“Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semua.”
“Kau bicara yang jelas ya. Tak ada juntrungannya kau tiba-tiba berkata seperti itu. Kaupikir aku takut padamu,” suara Titi makin mengencang.
Suami Titi yang sedang di belakang pun datang. Maroji terburu emosi, Nurima pun segera pergi dengan meninggalkan satu kalimat itu sebagai pesan yang tak boleh dilupakan.
Peristiwa Nurima mendatangi rumah Titi itu segera menyebar ke seluruh warga. Orang pertama yang mengembuskan cerita itu adalah Maroji sendiri. Lelaki itu seakan tak terima istrinya yang seksi dan cantik itu dipermalukan Nurima. Kedatangan Nurima dengan gaya menyerang seenaknya itu telah mencemari nama baik dan martabatnya. Terlebih Maroji memang merasa tak ada pasal kenapa Nurima bertindak seperti itu.
“Ada apa Nurima kemari, Ti?” Tanya Maroji setelah Nurima pergi ketika itu.
“Aku tak tahulah, Bang.”
“Mengapa dia tiba-tiba menyerang dengan kata tendangan seperti itu?”
“Sudahlah, Bang. Tak perlu dipikirkan. Mungkin perempuan itu sedang stress.”
“Pasti ada sebabnya, Ti. Ada apa sebenarnya?”
“Bang Maroji tidak percaya pada Titi? Apa Abang lebih membenarkan tindakan gila perempuan itu?” Suara Titi tegas seolah marah namun dengan gaya merajuk manja, Maroji menjadi tak berdaya.
“Aku tak terima istriku diperlakukan Nurima seperti itu. Aku akan membalas perbuatannya padamu.”
“Sudahlah, Bang. Lupakan saja. Tak ada guna meladeninya.”
“Tidak bisa. Di mana harga diriku sebagai seorang suami jika diam saja. Apa kata orang-orang nanti jika tahu Maroji tak membela ketika istrinya dihina.” Maroji mulai murka dan Titi akhirnya diam saja, tak mampu lagi mencegahnya.
Maroji kemudian benar-benar beraksi. Tapi tampaknya lelaki yag terkenal sebagai preman pasar itu tak cukup punya nyali membalas serangan Nurima secara frontal. Ia segan pada suami Nurima yang pendiam dan tenang namun memiliki wibawa besar di depan orang-orang. Maroji hanya berani menyebarkan cerita pada warga bahwa Nurima telah mempermalukan dan mengancam istrinya.
Di kios-kios sembako, juga di kios makanan seperti bakso dan mie ayam, di tempat jualan gerobak tukang sayur saat para ART dan IRT berkumpul untuk berbelanja, dan di arisan warga, banyak orang menggaungkan ucapan Nurima dengan bercanda, “Berani mendekat, aku tendang.” Maroji menirukan dan menggemborkan kalimat itu dengan cerita bahwa Nurima telah melakukan teror pada Titi, istrinya.
“Untunglah dia perempuan, jika tidak, aku pasti akan membalas serangannya berlipat-lipat. Kalian tahu kan siapa Maroji.” Sesumbar lelaki itu sambil mengangkat lengan kaosnya ke atas, mempertontonkan tato naga dan kepala singa di kedua lengannya.
Saat orang-orang bertanya pada Maroji atau Titi kenapa Nurima berkata seperti itu, sepasang suami istri itu tak bisa menjawab apa pasalnya. Mereka hanya berkata sepertinya Nurima telah menjadi setengah gila. “Mungkin perempuan itu sedang terobsesi menjadi pemain bola,” tambah Maroji dan Titi.
Beberapa orang memberanikan diri bertanya langsung pada Nurima saat berjumpa di kios atau di gerobak tukang sayur, tapi perempuan itu diam saja. Saat ada orang yang mendesaknya, Nurima hanya berkata, “Ini urusanku.” Nurima tak peduli walau ia telah tahu jika kabar dirinya mendatangi rumah Titi sudah luas beredar.
“Apa kau tak takut jika Maroji melaporkanmu kepada polisi?” tanya seorang tukang kios sembako bernama Bu Rum, pada Nurima.
“Silakan jika berani. Sampaikan pada Maroji agar ia bersikap jantan sebagai lelaki.”
“Kau sebenarnya bertindak di luar batas Nurima. Sungguh tak pantas.”
“Apa Bu Rum tahu alasanku melakukan itu?” Tanya Nurima kembali pada tukang kios.
“Tidak. Itu karena kau tak mengatakannya. Bahkan Maroji sendiri tidak tahu alasanmu melakukan itu.”
“Ya. Aku tak perlu cerita pada siapa-siapa. Ini urusanku. Katakan pada Titi, berani mendekat, aku tendang.” Nurima berkata dan berlalu.
Panji, suami Nurima, mendengar juga berita itu. Tapi ia bersikap santai saja seperti tidak terjadi apa-apa. Orang-orang cukup segan bertanya padanya karena memang lelaki itu tak banyak bicara. Jika ada satu dua orang yang memberanikan diri bertanya padanya, lelaki itu hanya tersenyum sambil berkata. “Tak ada apa-apa”.
“Bukankah tindakan Nurima istri Abang menyerang Titi itu salah, Bang?”
“Kalau istriku bersalah, bukankah Maroji dan Titi bisa melaporkannya,” Panji menjawab singkat.
Suatu hari Maroji membeli sesuatu di kios Bu Rum. Di sana ia melihat Nurima sedang berbelanja, sendirian. Ia tersulut emosi, terlebih tak ada suami Nurima di situ.
“Hai Nurima, kenapa kau menngancam istriku?”
“Tanya saja sendiri pada istrimu.”
“Apa maksudmu? Istriku juga tak tahu apa-apa.”
“Hmmmm ... Urusan seperti ini saja Bang Maroji tidak mampu mengatasinya.”
“Jaga bicaramu ya, Nurima. Jangan membuatku naik pitam.”
“Justru Bang Maroji yang seharusnya menjaga bicara dan sikap. Bertindaklah secara jantan sebagai lelaki dan suami.”
Lelaki itu makin naik pitam mendengar perkataan Nurima, namun perempuan itu bersikap tenang saja. Bu Rum tukang kios mencoba menyabarkan lelaki itu. Tapi ia juga heran dengan sikap tenang Nurima.
“Katakan pada istri Abang, berani mendekat, aku tendang.” Nurima berkata tegas sambil meninggalkan kios.
Begitulah, selama beberapa minggu hingga beberapa bulan cerita Nurima sang penendang berkumandang. Maroji masih saja berkoar-koar. Nurima tetap bersikap tenang, begitu juga Panji sang suami. Pasangan itu makin tampak mesra dan seolah tak terjadi apa-apa. Orang-orang merasa heran juga dibuatnya.
Empat bulan berlalu. Terjadi kegemparan baru. Titi terpergok sedang selingkuh dengan suami Bu Rum, tukang kios itu. Mereka digerebek warga saat sedang berduaan di sebuah kamar kontrakan kosong milik Bu Rum.
Tentu mereka sedang bercumbu. Sungguh, Bu Rum terkejut tak terkira. Ia tak menyangka suaminya bisa berbuat nista. Saat diinterogasi petugas Linmas dan RW, suami Bu Rum menjawab jika ia tak kuasa menahan rayuan Titi. Betapa Bu Rum merasa sakit hati tak terkira. Setelah itu orang-orang menjadi tahu jika Titi pernah berusaha merayu Panji suami Nurima.
Namun, Panji tidak meladeni pesan-pesan Titi yang mengalir seperti deras air kali. Setiap hari Titi mengirim pesan, dan Panji akhirnya memblokir nomor perempuan itu. Nurima membaca pesan-pesan Titi pada Panji. Nurima percaya jika Panji tipikal lelaki setia dan tak mungkin tergoda. Tapi ia tak bisa membiarkan perempuan lain menggoda suaminya. Itulah mengapa ia harus mendatangi Titi.
Titi sendiri, setelah nomor kontaknya diblokir Panji, ia sempat merayu lelaki itu saat bertemu, entah di pasar atau di mana, tapi paling sering berpapasan di jalan saat Panji hendak pergi menuju masjid untuk salat Isya.
Sebenarnya Titi memang sengaja menunggu lelaki itu lewat untuk salat. Panji tak meladeni karena ia juga tahu betapa Nurima adalah istri yang pencemburu selain tentu saja setia dan sosok yang mampu membuat hidupnya bahagia. Tak ada alasan mengkhianatinya.
Panji telah merasa cukup dengan Nurima. Titi lalu putus asa menggodanya. Ia juga merasa bahwa Nurima telah mengetahui semua perbuatannya. Percuma juga melanjutkan aksinya, bisa-bisa Nurima benar-benar menendangnya.
Titi lalu mendekati suami Bu Rum. Tak butuh waktu lama baginya menggoda dan menaklukkan pria itu. Banyak lelaki memang mudah dan tak tahan oleh senyuman perempuan ditambah dengan sedikit seksi penampilan.
Banyak istri juga tak seperti Nurima, mampu menjaga pasangannya dari perempuan penggoda. Titi, saat dinterogasi, mengaku bahwa batinnya sering merasa sepi. Maroji sang suami kurang peduli dan sering asyik dengan urusannya sendiri semisal nongkrong dengan teman-temannya sampai pagi.
Setelah peristiwa itu, para ibu menjadi kompak dan waspada. Seolah dikoordinir, para ibu gencar melakukan kampanye dan gerakan pembersihan rumah tangga. Mereka mulai rajin memeriksa ponsel para suami baik pada percakapan pribadi di aplikasi WA, messenger fesbuk, atau DM pada Instagram.
Sungguh ternyata banyak terdapat skandal di tempat mereka, sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Pria atau suami yang selama ini tampak tenang dan alim ternyata seperti remaja yang baru jatuh cinta dengan kata-kata manja dan mesra.
Pak RT dan Pak RW sibuk dan merasa kewalahan dalam menindaklanjuti laporan warga baik oleh emak-emak atau bapak-bapak. Para bapak dan emak tersebut bisa saling mendapat nomor ponsel dari Grup WA seperti grup arisan, grup RT, RW, desa, dan bahkan grup pengajian.
Ternyata para suami yang merasa diri mereka bersih, ada juga yang tidak terima dengan sikap para istri. Para suami itu juga menjadi sibuk mencari-cari kesalahan istri saat berkomunikasi dengan orang lain, misal pada tukang sayur keliling atau pada tukang tambal ban sepeda motor. Mereka melakukan itu sebenarnya hanya untuk membela diri.
Satu yang pasti, jika Nurima berkata, “Berani mendekat, aku tendang” pada seseorang dan pastinya perempuan, semua orang baik istri atau suami menjadi lebih berhati-hati. Itu berarti akan ada tendangan penalti. Mereka tak ingin peristiwa Titi terjadi lagi.
Lebih dari itu, para istri sekarang lebih menjaga para suami.
Sebaliknya suami juga mulai lebih memberi perhatian pada istri dan tak berani main-main dengan perempuan lain.
Mahrus Prihany,
Lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan Komunikasi Penyiaran Islam di STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI), kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), dan Redpel portal sastra litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa baik cetak maupun online.
Karya yang telah diterbitkan:
- Kumpulan cerpenRaliatri (2016),
- Kumpulan cerpenSeseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019),
- Kumpulan cerpenBidadari dalam Secangkir Kopi (2021),
- Kumpulan cerpenDi Way Kulur, Tak Ada Lagi yang Kucari (2022),
- Kumpulan cerpenLelaki Tua dengan Surga di Bibirnya (2023)