Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo
S. Sigit Prasojo
Aku pernah menulis surat
dengan tangan yang gemetar,
mengirimnya ke langit
tanpa perangko,
hanya sehelai niat
yang terselip dalam napas.
Tapi tak ada balasan.
Hanya angin
yang datang membawa debu,
seolah Tuhan ingin bilang:
Aku sudah terlalu sering menerima
tanpa sempat membaca.
Maka kutulis surat kedua—
bukan untuk dimengerti,
melainkan untuk ditinggalkan
sebagai bukti bahwa Aku
masih mencoba bicara.
Ponorogo, Juni 2025
Nama Tuhan di Dalam Cangkir
Kutinggalkan nama Tuhan
di dasar cangkir kopi pagi ini,
bersama ampas yang tak sempat larut
ke dalam percakapan.
Mungkin Ia sedang sibuk,
atau mungkin
Ia menunggu
aku belajar menyebut-Nya
tanpa harus menyeduh apapun.
Tapi tetap,
setiap pagi
aku menatap cangkir yang kosong
dan bertanya,
berapa banyak keheningan
yang dibutuhkan
untuk menyalakan sebutir cahaya?
Ponorogo, Juni 2025
Gema yang Bisu
Kusangka gema itu Kau,
Tuhan—
yang memantulkan suaraku
sebagai tanda bahwa Kau dekat.\
Tapi gema tetap gema:
ia hanya aku
yang kembali padaku
dengan suara yang makin retak.
Aku berteriak lebih keras,
tapi jawabannya
malah membuat aku takut
pada diriku sendiri.

















