Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS
Isbedy Stiawan ZS
Seperti hari-hari yang sudah
ruang tamu tetap gerah
hatinya terbuat dari kayu,
batu, pasir serta paku
semakin menawarkan sepi
tak perlu tamu datang
atau penunggu yang pulang, katanya,
lalu mengajakku ke dalam sunyi.
saat lahir, juga kematian,
tak perlu riuh
lalu ruang tamu jadi teman
ia menemaniku berhari-hari
hingga larut, sampai pagi lagi
usia menua
masa lalu muda
temanmu, katanya,
adalah usiausia itu
yang terus beranjak
tiada pasangan
2025
Di Mana Kita Sekarang?
Sudah berapa kunjungan
kita ucapkan salam
saat bertemu
atau sebelum kepergian
lalu kita hitung percakapan
dari hal-hal ringan
sampai pada pertengkaran
sebab salah paham
kau akan merajuk
mencari bungabunga di situ
atau melempar pandang
ke meja yang lain
supaya ada cahaya baru
bukan cuma biru
atau pekat oleh lampu mati
lalu kita meraba-raba
dan bertanya
: di mana kita sekarang?
2025
Nikmati Saja Jejak Gerimis
Ini malam minggu, bisakah kau
temani aku menyusuri irama
masa lalu dalam sentuhan bait
dan musik dari panggung itu?
jemari tangan kita di wajah telepon menari sendiri sendiri -- memahami gerimis yang jatuh, mencoba rona malam yang juga gaduh -- usah sedih,


















