Esai Sastra ‘Pengarang dan Fiksi Sejarah’
Risen Dhawuh Abdullah
SALAH SATU inspirasi yang dapat digunakan sebagai titik tolak untuk menuliskan karya sastra adalah peristiwa sejarah. Muncul anggapan bahwa tema sejarah adalah tema yang “seksi”. Anggapan itu masuk akal jika melihat kenyataan intensitas pengarang yang menuliskan tema tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan tema-tema lain. Salah satu alasan yang membuat hal ini terjadi, karena pengarang mendapat pekerjaan “tambahan” yaitu, meriset apa yang akan ia tuliskan.
Kerja yang seperti ini dilakukan karena pengarang tidak bersentuhan langsung dengan peristiwa, dalam artian pengarang juga tidak mempunyai modal pengetahuan terkait apa yang akan dituliskan. Maka riset sebagai salah satu cara pengarang untuk mengetahui hal tersebut sehingga ia dapat membayangkan yang dituliskan. Misalnya, seorang pengarang yang ingin menggambarkan suasana istana, ruangan-ruangan istana, properti-properti yang ada di dalamnya dan kehidupan sehari-hari pada konteks kerajaan Majapahit abad ke-14.
Tanpa modal pengetahuan akan itu semua, pengarang akan sulit menuliskan. Dengan riset, sejatinya pengarang juga sedang dalam usaha memberikan “nyawa” pada tulisannya. Penggambaran seorang raja ketika sedang berada di dalam istana, hanya menyertakan kata “istana” semata, rasanya menjadi hambar. Ketika menghadirkan “pengetahuan” lain tentunya memberi kemungkinan suasana menjadi lebih hidup. Kerja-kerja yang demikianlah, kemudian dianggap memakan waktu.
Terkait pengarang yang menuliskan tema sejarah, ada fenomena yang cukup menarik perhatian saya. Tidak lain adalah klaim yang dilakukan pengarang terhadap aktivitasnya menuliskan persoalan sejarah. Adalah Gigrey atau Giselle Rahman yang menulis novel Mada (2023) dan Mahajana (2024). Ada pernyataan dari Gigrey yang cukup aneh bagi saya, sehingga esai ini dituliskan. Lewat akun instagramnya @gisellerahman, secara terang-terangan ia menjelaskan mengenai prosesnya menulis novel. Hal itu bisa diketahui pada postingan feed-nya pada 5 Januari 2024. Isinya sebagai berikut:
“Untuk riset Mahajana sebenarnya nggak sebanyak Mada. Di Mada, aku harus berkunjung ke beberapa museum, perpustakaan, mencari segala hal literasi tentang Majapahit dan hal yang jarang diungkap. Namun di Mahajana, mengingat proporsi bagian masa lalunya cukup singkat, jadi yang diriset hanya beberapa nama, hubungan kekeluargaan, dan latarnya melalui jurnal online atau informasi yang ada di internet. Sementara, waktu kunjungan ke Museum Ullen Sentalu, itu menginspirasi aku di bagian Sachi mengingat kembali kehidupan masa lalunya sebagai Sudewi.”
Tidak berhenti sampai di situ, Gigrey juga dalam postingannya pada 6 November 2023, mengajukan pertanyaan dalam feed instagramnya, terkait apakah bisa belajar sejarah dari cerita fiksi? Untuk lebih jelasnya, berikut perkataannya yang diambil dari akun instagramnya:
“Belajar sejarah dari cerita fiksi, emang bisa?”
Pertanyaan tersebut kemudian ia jawab sendiri, bahwa belajar sejarah dari cerita fiksi memang bisa dilakukan. Jawabannya diperkuat oleh respon-respon dari pembaca (bookstagram) yang mendukung hal itu. Di dalam novelnya yang berjudul Mada (2023), Gigrey juga memberikan penafian, yang lagi-lagi bagi saya juga terasa aneh. Adapun penafiannya sebagai berikut:
“Kisah di novel ini merupakan pengembangan cerita dari sejarah yang sudah ada. Bila ada kesamaan atau perbedaan cerita dari kisah aslinya, murni merupakan pengembangan fiksi dari penulisnya.”
Lewat esai ini, saya akan mencoba menunjukkan masalah yang mungkin bisa muncul. Sebelumnya memperlihatkan, agaknya saya perlu menjelaskan terlebih dahulu perbedaan antara dunia “fiksi” dan dunia “nyata”, sebab ini akan digunakan sebagai titik pijak.
Pada dasarnya fiksi dan nonfiksi sama-sama mengandung apa yang disebut sebagai “dunia cerita”. Perbedaannya terletak pada referen. Apabila nonfiksi referennya mengacu pada dunia nyata, sementara dunia fiksi tidak mempunyai referen. Marie-Laure Ryan (2014: 34) menyarankan untuk membuktikan hal tersebut, perlunya komponen triadik, yaitu objek material (penanda), makna (petanda), dan referen.
Teks (cerita) baik fiksi maupun nonfiksi merupakan objek material, dunia cerita adalah maknanya. Sementara dalam kasus nonfiksi, dunia nyata merupakan referennya. Sementara dunia fiksi tidak punya referen. Dalam kasus nonfiksi, karena banyak cerita—dikonfirmasi—berbeda dari dunia nyata, maka benar atau tidak, sesuai atau tidak, pembaca atau penerima cerita yang harus memutuskan sendiri terkait kebenarannya. Dikarenakan dunia fiksi tidak mempunyai referen, maka cerita fiksi otomatis benar dalam dunia yang diceritakan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Walton (1993: 74) sebagai berikut:
"Ketika kita menyebut sebuah karya sastra sebagai karya fiksi, yang kita maksudkan tidak lebih dari karakter-karakternya tidak dapat diidentifikasikan dengan orang-orang yang pernah hidup dalam kehidupan nyata, atau kejadian-kejadiannya dengan kejadian-kejadian tertentu yang benar-benar terjadi."
Dalam hal ini perbedaannya cukup jelas, yaitu terletak pada referen. Apabila seorang pengarang menulis novel dan di dalam digambarkan Menara Eiffel. Apa yang digambarkan dalam cerita tersebut, sejatinya tidak pernah ada. Menara Eiffel yang dimaksud bukan mengacu pada menara yang asli atau nyata. Nama Eiffel dalam hal ini hanya dipinjam atau sebagai pijakan si pengarang untuk menulis karya sastra. Kita tidak pernah dapat benar-benar “menyentuh” Menara Eiffel yang ada di dunia fiksi tersebut.
Lalu apa bedanya antara dunia fiksi dengan dunia nyata? Berpijak dari penjelasan sebelumnya, dunia nyata adalah dunia di mana kita hidup, dunia sehari-hari, dunia yang kita pijak, dunia yang dapat dirasakan oleh indera-indera manusia. Dan tentunya dunia yang mempunyai referen. Ketika ada seseorang menyuruh kita mengambil meja, kita benar-benar rill dapat menyentuhnya. Itulah dunia nyata.
Masalah yang Berangkat dari Fenomena
Setelah mengetahui perbedaan dunia fiksi dan dunia nyata, maka dapat ditemukan masalah-masalah yang timbul atas fenomena (apa yang dilakukan oleh Gigrey dalam akun instagramnya) yang ada. Ini menjadi celaka, ketika karya sastra digunakan sebagai rujukan belajar sejarah, sebagaimana yang dikatakan Gigrey. Bagaimana mungkin kita belajar pada sesuatu yang tidak ada? Atau bagaimana mungkin kita belajar pada sesuatu yang ada dan benar dalam dunia khayalan semata? Mungkin pertanyaan ini akan dibantah oleh Gigrey, tapi apa yang saya tulis memang sengaja dan bermaksud menceritakan kisah sejarah? Dalam hal ini, sekalipun menceritakan ulang sejarah ke dalam karya sastra, bukan berarti hal tersebut sebagai sesuatu yang ada—dari sini muncul juga pertanyaan, kenapa harus membaca karya yang bertema sejarah untuk mengetahui sejarah, jika sumber sejarah lebih dapat dipercaya?
Fakta-fakta (nama tokoh, tempat, dan lain sebaginya) sejarah hanya dijadikan pijakan, titik berangkat untuk menuliskan. Pernyataan Gigrey yang demikian, mempunyai kesan seakan mengadakan sesuatu “yang tidak ada”. Toh, apakah dirinya bisa menjamin, bahwa riset yang dilakukan tidak salah data, jika ia bersikeras cerita fiksi dapat digunakan untuk belajar sejarah?—ini semakin pelik ketika dihadapkan pada persoalan “keakuratan” sejarah.
Secara tersirat, orang bisa menghakimi pernyataan Gigrey, sebagai isyarat kalau tulisannya merupakan catatan sejarah, sehingga ada kesan menggeser catatan yang sudah ada. Sementara itu penafiannya dalam novel Mada (2023) juga bermasalah. Gigrey mengatakan kalau kisah dalam novel tersebut merupakan pengembangan cerita dari sejarah yang sudah ada.
Apa yang ditulis oleh Gigrey merupakan karya sastra yang tidak lain fiksi, itu berarti tidak ada dalam kenyataan. Sedangkan pada pernyataannya ada kata “pengembangan”. Dari sini tidak salah rasanya jika ada orang yang menyimpulkan Gigrey menganggap cerita sejarah yang ada, merupakan fiksi. Karena apa yang ditulisnya fiksi, dan ia hanya mengembangkan dari cerita yang ada.
Lagi pula dalam pernyataannya, ada kesan Gigrey terbebani dengan riset—makanya ia melakukan penafian. Ia mengatakan, “Bila ada kesamaan atau perbedaan cerita dari kisah aslinya, murni merupakan pengembangan fiksi dari penulisnya.” Pernyataan tersebut terasa aneh. Jika ada “kesamaan” (sesuai pernyataannya) bukankah dapat digunakan untuk belajar sejarah? Lalu mengapa harus mengatakan pengembangan fiksi dari penulisnya? Jika ada “perbedaan”, berarti karya sastranya tidak dapat dijadikan sebagai sumber untuk belajar. Mengapa menulis karya sastra harus ada penafian, bahkan terkesan seperti permintaan maaf?
Dalam hal ini tentunya, bukan berarti saya menganggap kegiatan “riset” untuk menuliskan karya sastra (sejarah), merupakan sebuah kesalahan. Sama sekali tidak. Hanya saja, ketika itu dikatakan atau ditujukan ke publik, apa pedulinya publik terhadapnya? Saya kira riset biarlah urusan dapur si pengarang, pembaca tidak perlu tahu.
Pernyataan Gigrey soal riset akan mentah jika dihadapkan pada pembaca yang lebih menyukai menempatkan karyanya sebagai fiksi, sefiksi-fiksinya, tanpa terbebani pemaknaan yang merujuk pada kenyataan. Dalam hal ini, saya menjadi setuju pernyataan Barthes (1979) dalam esainya From Work to Text, jika teks merupakan anak dari seorang ayah yang tidak lain pengarang. Maka ketika membaca teks, tak perlu tanda tangan seorang ayah. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa teks merupakan sesuatu yang sudah lepas dari pengarang.
Bantul, 2024
Risen Dhawuh Abdullah,
Lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM angkatan 2023. Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat IG @risendhawuhabdullah.
Rujukan Esai:
- Barthes, R. (1979). From Work to Text. In J. V. Harari (Ed.), Textual Strategies Perspectives In Post-Structuralist Criticism. Cornell University Press,
- Gigrey (2023). Mada (Cet 6). PT Akad Media Cakrawala,
- Gigrey. (2024). Mahajana (Cet 1). PT Akad Media Cakrawala,
- Ryan, M.-L. (2014). Story/Worlds/Media: Tuning the Instruments of a Media- Conscious Narratology. In M.-L. Ryan & J.-N. Thon (Eds.), Storyworlds across Media Toward a Media- Conscious Narratology. University of Nebraska Press,
- Walton, K. L. (1993). Mimesis as make-believe: On the foundations of the representational arts. Harvard University Press.

















