Esai Sastra ‘Joko Pinurbo dan Pesona Magis Bahasa’
M. Rifdal Ais Annafis
SAYA pernah membayangkan –seperti dalam dugaan awal mengenai Joko Pinurbo– seorang pakar barangkali menjumpai kehendak ini: selalu mengemban sebuah kewajiban. Dalam benak saya (di situlah sebagai bentuk pijakan awal) berhambur ingatan mengenai Suu Kyi. Pemimpin yang oleh Goenawan Mohamad diibaratkan sebagai pemegang “obor”. Ia, yang sering was-was dan berhati jernih memimpin oposisi hak asasi manusia di Myanmar. Dan seperti simbol tokoh politik di negeri manapun, berkehendak kuat.
“Pesona” Suu Kyi bukan hanya terletak ketika ia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991, atau rasa terhanyut dan takjub sebab mendiang ayahnya, Aung San yang lahir dari trah masyarakat kelas tiga, bermetamorfosa menjadi tokoh pergerakan nasional, Bapak militer, dan dielu-elukan sebagai pahlawan.
Ada gemerlap “lain” dalam pandangan saya: kehendak kuat tentang rasa iba kepada wilayah tetorial yang melahirkannya.
Suu Kyi, yang pada akhirnya jatuh cinta dan menikahi seorang Inggris, menulis surat dengan penekanan penuh kepada Michael, calon suaminya. Dan kutipannya begini, “…Kalau bangsaku memerlukan aku,” saya bayangkan ia menulis dengan perasaan sendu atau haru, “kau harus menolongku untuk menjalankan kewajibanku bagi mereka…”
Sikap Suu Kyi, terutama yang tergambar dari kutipan tersebut, bagi saya, tumbuh dan rimbun kemudian menjadi hasrat kuat. Sikap demikian dapat kita temukan juga pada pribadi maupun jiwa Joko Pinurbo.
“Kewajiban” dalam kutipan surat Suu Kyi, menyadarkan saya betapa seorang “pakar” dalam dimensi manapun, memanggul kehendak dan kewajiban yang tergambar dalam upaya untuk ‘menyenangkan’ wilayah teritorial yang melahirkannya. Jika Suu Kyi memperjuangkan tanah kelahiran dalam artian harfiah, sebagaimana mestinya, maka Joko Pinurbo berupaya keras ‘menyenangkan’ wilayah teritorial yang lebih intim, yakni bahasa Indonesia.
Penciptaan dan Kreativitas


















