Puisi-Puisi Deska Setia Perdana
Deska Setia Perdana
Delirium arah baca
Cincin di sebungkus makanan ringan,
Aku menyematkan ke jemarimu yang hampa
-aku membaca buku-
kau tulis ilusi, dan aku lampau dalam sihirnya
begitu cinta berdansa denganku,
aku lupa aku gila lalu hening dalam nyata. Hampa
Adalah kelupaan-kelupaan yang tak tertolong
Tentang pahit sumpah yang tak tunai
Aku dan mimpi mulai bersatu pada kesenjangan yang makin lampau
Kau begitu buku, adalah aku yang menyadur abadimu
Aku hening dan siuman dalam kultus yang makin.
Aku lupa.
14.01.2013
Mikraj
Subuh yang Kudus.
kepada embun aku bertukar sunyi.
Sekecup keningku bertapa, tak jua menaruh waham atas segala rupa niskala.
Bukan maksud hamba menghambur kata.
Aku melamun. Halimun.
---
Yang terjadi pada mataku. Pendar Cahaya. Dewi-dewi moksa.
Inikah Langit, doa dan mantra beterbangan. Hinggap dan melayang menuju Surga.
18.12.2014
Pancaka
Unggun api bersama mantra.
Sebut ini bertapa saja.
Kepadamu Surga, aku kirimkan dunia yang bersemoga atasmu.
Nisbih manusia sibuk mencari cara untuk berdoa. Mengukur-ukur cara bersyukur.
Langit itu legit. Sebahlul itu menerka engkau.
17.12.2014
Deska Setia Perdana
Lahir di Pati, Jawa Tengah.
Semasa kuliah aktif di UKM KIAS (Kajian Ilmu Apresiasi Sastra) Universitas PGRI Semarang.
Beberapa Puisinya sudah terbit di beberapa media cetak dan antologi.
Sekarang lebih aktif menjalani proses kreatif bermusik di Biscuittime dan Produser Musik di Menjelma Studio.

















