PADA 1 Oktober 2024, Taufiq Ismail menerima Anugerah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Acara di Brunei Darussalam itu makin mengukuhkan peran dan persembahan Taufiq Ismail dalam kesusastraan di Indonesia (Asia Tenggara). Taufiq Ismail mengungkap perasaan atas Anugerah Mastera: “Puisi adalah hati nurani. Puisi adalah cinta semesta yang menyala di dada.” Ia lega dengan tahun-tahun pengabdian bahasa dan sastra di Indonesia.
Pemberiaan anugerah itu berbarengan ingatan kita atas peran Taufiq Ismail dalam arus sastra, politik, dan dakwah. Di Indonesia, setiap tanggal 30 September dan 1 Oktober, ingatan sejarah bermunculan dengan beragam pengertian. Masa lalu itu memiliki tokoh lantang berseru melalui puisi. Ia bernama Taufiq Ismail. Kita telanjur mengenai Taufiq Ismail di sekitar 1965 tapi terlambat mengetahui hasrat berdakwah dengan sastra.
Taufiq Ismail mengatakan: “Seni itu haruslah mengingatkan orang kepada Sang Khalik. Fungsi kepenyairan saya harus sesuai dengan nilai estetika seperti itu – membuat orang jadi ingat kepada Allah.” Penjelasan sederhana dimuat di jurnal Prisma (1984) berjudul besar “Arah Baru Islam: Suara Angkatan Muda”.
Pada masa 1980-an, Taufiq Ismail makin dihormati dan berpengaruh di Indonesia, terutama di kancah sastra. Ia moncer berlatar situasi Indonesia masa 1960-an. Puisi-puisi digubah mengesankan perlawanan. Ia menggubah puisi sebagai rekaman zaman. Malapetaka 1965 menjadi titik penting arah berseni Taufiq Ismail saat sadar arus dakwah dan gejolak politik. Ia sudah menggubah puisi sejak masa 1950-an.
“Kesenian saya, ya, adalah zikir,” kata Taufiq Ismail. Ia memilih diksi zikir. Kita menduga sekian orang memilih diksi dakwah, doa, Islam, iman, tauhid, religi, atau agama. Setiap pilihan diksi berbeda (kadar) konsekuensi. Taufiq Ismail memiliki pertimbangan serius saat mengatakan itu “sastra zikir”. Ia menempuhi jalan panjang sastra, memilih tekun menulis puisi, selain esai dan menerjemahkan beragam buku.
Taufiq Ismail mula-mula mengungkapkan pengalaman dan pendapat tentang seni, tak lekas mengurusi puisi. Kemampuan membuat kalimat menjelaskan tentu mengacu pengalaman dan ikhtiar puluhan tahun. Ia sampai ketetapan: “Bagi saya dan kesenian saya – dalam hal ini tentunya kesusastraan – standar estetika terpokok ialah ‘mengingatkan orang kepada Pencipta Alam Semesta’.” Kita menduga kesengajaan menggubah sastra untuk berdakwah. Ia memang tak lugas mengungkap masalah dakwah.
Kita bergerak ke buku berjudul Wawasan Al Quran (1996) susunan Quraish Shihab, berharap menemukan penjelasan mengaitkan seni, Tuhan, agama. Kita belum mengetahui Quraish Shihab tampil sebagai penggubah puisi, pembuat lukisan, atau pemain musik. Ia memiliki pengalaman menikmati seni meski bukan seniman. ‘
Quraish Shihab memberi alinea mudah dimengerti: “Seni adalah keindahan. Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apapun jenis keindahan. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia, atau fitrah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hambanya.” Perkara keindahan terdapat dan terjelaskan dalam kitab suci.
Di sejarah peradaban Islam di pelbagai negeri, masalah seni dan agama sering menimbulkan debat-debat. Seni dan Tuhan pun tak rampung diulas mengacu beragam dalil-dalil. Di Indonesia, debat-debat itu turut merepotkan bagi sejarah dan perkembangan seni (sastra). Dakwah terselenggara sejak ratusan tahun lalu mengangkut perdebatan sulit rampung berurusan seni.
Pelbagai tafsir diajukan untuk menempatkan faedah dan hikmah seni dalam pengalaman menjadi muslim. Seni ada dalam babak-babak dakwah Islam di pelbagai negeri dan benua. Quraish Shihab memilih berbagi simpulan ringkas: “Al Quran sangat menghargai segala kreasi manusia, termasuk kreasi manusia yang lahir dari penghayatan rasa manusia terhadap seluruh wujud ini, selama kreasi tersebut sejalan dengan fitrah kesucian jiwa manusia.”
Kita menggunakan penjelasan-penjelasan sederhana dan ringkas Quraish Shihab dalam memahami maksud-maksud Taufiq Ismail menekuni sastra. Ia menggubah puisi-puisi kadang berlanjut menjadi lagu. Konon, orang-orang saat membaca puisi atau menikmati puisi merasa ingat Tuhan. Persembahan seni itu kesadaran dan keinsafan untuk ingat kepada Tuhan.
Di kesusastraan Indonesia, Taufiq Ismail sering dimunculkan dalam buku-buku pelajaran sastra dan ulasan sastra sebagai pengarang berani melawan. Ia berada dalam latar sastra perlawanan. Puisi-puisi mengandung protes, kritik, dan gugatan. Dulu, puisi-puisi itu terbaca “politis” meski mudah berubah corak dan pamrih saat mengajukan puisi-puisi pada masa Orde Baru. Taufiq Ismail memang berani melawan tapi tekun memberi puisi-puisi mengingatkan Tuhan.
Pada 1965, ia menggubah puisi tak terkenal atau jarang menjadi pilihan dalam pengajaran sastra. Puisi berjudul “Nasehat-Nasehat Kecil Orangtua Kepada Anaknya Berangkat Dewasa.” Judul gamblang agak susah membuat orang terpikat menikmati puisi. Sejak judul, nasihat itu memastikan ada suguhan dalil-dalil untuk konklusi tanpa perlu bantahan panjang.
Taufiq Ismail menulis: Jika adalah yang harus kau lakukan/ Ialah menyampaikan kebenaran/ Jika adalah yang tak bisa diperjualbelikan/ Ialah yang bernama keyakinan/ Jika adalah yang harus kau tumbangkan/ Ialah segala pohon-pohon kezaliman/ Jika adalah orang yang harus kau agungkan/ Ialah hanya Rasul Tuhan/ Jika adalah kesempatan memilih mati/ Ialah syahid di jalan Ilahi.
Kita mungkin mengira puisi digubah penceramah ingin meminta perhatian umat. Orang agak meragu bila puisi “gamblang” itu gubahan tokoh tenar dalam kesusastraan Indonesia. Puisi memang gubahan Taufiq Ismail, pembuktian bahwa ia menganut “sastra zikir”, sastra mengajak orang ingat kepada Tuhan.
Pengalaman dan gubahan puisi perlahan memastikan ada kepentingan berdakwah. Taufiq Ismail mungkin mengelak bila mengusung atau membesarkan “sastra dakwah”. Ia bukan pendakwah seperti bapak. Di Pekalongan, orang-orang mengenali bapak Taufiq Ismail berdakwah di pelbagai situasi zaman.
Taufiq Ismail itu anak pendakwah, tumbuh dalam keluarga mementingkan dakwah. Pada saat dewasa, Taufiq Ismail bukan menjadi pendakwah di masjid atau pelbagai tempat dengan berdiri di mimbar. Ia memilih menulis puisi. Ia pun redaktur, pengajar, dan bekerja di perusahaan.
Di arus dakwah Indonesia, Taufiq Ismail biasa diingat bersama Bimbo. Publik mengingat lagu-lagu “berdakwah” biasa dinikmati saat bulan puasa atau hari-hari besar Islam. Taufiq Ismail berperan sebagai pembuat lirik. Orang-orang mungkin cepat mengingat Bimbo ketimbang Taufiq Ismail. Sastra dan musik bergerak bareng dalam dakwah.
Taufiq Ismail tak mau repot membicarakan dakwah. Ia memilih memberi kiasan untuk seniman. Kita simak: “Seniman itu bagaikan juru masak. Dan seorang juru masak mustahil dapat menguasai semua menu. Dia dengan menunya, punya ‘warung’ sendiri, dan punya publiknya sendiri.”
Kita kembali lagi sejenak memikirkan “sastra zikir”. Kita membuka Al Matsurat (2015) susunan Abu Bakar Al Thurthusyi Al Andalusi. Kitab klasik telat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kita mengutip: “Sejumlah ulama berpendapat bahwa berzikir kepada Allah, menghaturkan pujian kepada-Nya, dan menyucikan-Nya itu jauh lebih utama dan lebih tepat terpenuhinya sebuah permohonan ketimbang berdoa.” Penjelasan dari kitab terbit ratusan tahun lalu bukan mengenai sastra tapi zikir. Di situ, kita dipahamkan perbedaan zikir dan doa. Kita berpikiran puisi-puisi gubahan Taufiq Ismail mengarah zikir, bukan doa. Di sastra Indonesia, ribuan puisi dijuduli doa atau mengenai doa sudah ditulis meski tak mengharuskan pemunculan “sastra doa”.
Penjelasan atau pengakuan Taufiq Ismail mengenai “sastra zikir” mungkin untuk diri, bukan diajukan sebagai sejenis gerakan atau sikap dianut sekian orang dalam perkembangan sastra Indonesia. Kita membaca puisi-puisi gubahan Taufiq Ismail kental mengandung pesan-pesan agama. Puluhan tahun menggubah puisi, ia agak sulit ditampilkan di barisan depan sastra berselera keagamaan. Ia pun makin sulit dimengerti dalam kaitan sastra dan pesantren. Taufiq Ismail mengalami episode-episode pendidikan umum. Ia berasal dari keluarga pendakwah, tak ada jalur membentuk biografi keislaman melalui institusi pendidikan agama atau pesantren. Taufiq Ismail menguatkan “dakwah” melalui puisi.
Pada 1982, Taufiq Ismail hadir dalam Temu Sastra 82 diadakan Dewan Kesenian Jakarta. Tulisan disampaikan dalam acara turut terbit dalam buku berjudul Dua Puluh Sastrawan Bicara (1983). Di situ, kita membaca penjelasan dan pengalaman Taufiq Ismail sebelum mengucap sastra dan zikir di jurnal Prisma (1984).
Tulisan disodorkan Taufiq Ismail agak kocak dan sedikit ada renungan. Kita berhadapan dengan keisengan dan keseriusan. Pada bagian akhir, ada salinan wawancara murid SMA dengan Taufiq Ismail. Murid SMA itu mengatakan: “Apa tujuan kesenian Anda?” Taufiq Ismail menjawab: “Sujud kepada-Nya”.
Babak setelah malapetaka 1965 makin menempatkan Taufiq Ismail di jalan puisi tak melulu protes dan berurusan politik. Pada masa 1980-an, ia telah gamblang mengucap dua hal penting dalam bersastra: zikir dan sujud. Begitu.
Bandung Mawardi,
Esais dan pedagang buku bekas asal Karanganyar, Jawa Tengah.