Esai ‘Sastra Lingkungan: Mencari Harmoni Alam dalam Krisis Global’
Shofwania Trihastuti
DI DUNIA yang semakin berkembang teknologi, kehidupan manusia sering kali terpisah dari alam. Di perkotaan, kebisingan lalu lintas menggantikan kicauan burung dan membuat udara menjadi gelap. Namun, kemajuan ini harus dibayar mahal: merugikan lingkungan. Perubahan iklim, penggundulan hutan, polusi udara, dan lautan yang penuh dengan sampah plastik merupakan ancaman serius. Di sinilah literatur lingkungan hidup dan pendekatan ekologi serta “buku hijau” mulai lebih memperhatikan dan mendengarkan hubungan-hubungan yang terabaikan antara manusia dan lingkungan hidup.
Dalam kritik lingkungan, sastra tidak hanya berfungsi sebagai sumber hiburan, refleksi sosial, tetapi juga sebagai wadah kritik terhadap perilaku manusia terhadap lingkungan. Sastra yang telah lama mendokumentasikan sejarah dan budaya, kini memuat informasi tentang krisis ekologi yang kita hadapi. Anti-lingkungan adalah cara baru dalam memandang alam, tidak hanya sebagai alam, namun sebagai makhluk hidup dan mempengaruhi manusia.
Keberatan terhadap lingkungan muncul sebagai tanggapan terhadap krisis lingkungan. Ibarat sastra yang dulunya ditolak karena ketidakadilan sosial, alam pun menuntut pemikiran serupa. Literatur lingkungan hidup merupakan ruang bagi alam untuk “berbicara” dan bukan sekedar latar belakang konflik manusia. Penulis-penulis populer mulai mengedepankan isu-isu lingkungan, menciptakan karya-karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga sangat menggugah pikiran.
Salah satu contoh terkuat dari tema ini adalah oleh Richard Powers. Buku ini menceritakan kehidupan 9 orang yang terhubung oleh kecintaan mereka pada pohon. Karya ini menunjukkan alam sebagai bagian penting dari ekosistem yang kita hancurkan tanpa kita sadari. Melalui karakternya, Richard menunjukkan bagaimana pepohonan dan hutan mencerminkan tindakan manusia.

















