Kampanye No Book On a Dead Planet, No Education On a Dead Planet, No Music On a Dead Planet hingga No Cake and Party On a Dead Planet mulai ramai digaungkan di media sosial. Selain sebagai bentuk kampanye, campaign ini juga bertujuan memberiikan gambaran, bahwa jika krisis iklim makin buruk, maka kehidupan yang lebih baik—untuk sekarang, bahkan di masa yang akan datang—hanyalah ilusi. Tidak ada pesta, tidak ada makanan enak, tidak ada tidur yang nyenyak, bahkan tidak ada ‘kabahagiaan’ dan ‘kemerdekaan’ di atas planet yang sekarat. Krisis Iklim yang berkamuflase menjadi krisis paralel yang berkepanjangan—krisis air, krisis kesehatan, krisis keadilan, krisis ekonomi, meningkatnya ketimpangan, maraknya ketidasetaraan, dan lain sebaginya—akan makin kompleks bahkan di luar yang telah diprediksikan.
Adanya climate denial—cerita-cerita lama bahwa krisis iklim tidaklah nyata—menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk melihat kenyataan yang sebenarnya dengan jelas. Belum lagi dengan Greenwashing—skema yang dibuat oleh perusahaan bahan bakar fosil dan lainnya untuk menggambarkan diri mereka sebagai pihak yang berpihak pada lingkungan sementara mereka melanjutkan penghancuran yang menguntungkan bagi mereka—kini juga kian merajalela. Lebih sulit untuk mengenali teman palsu dari pada musuh yang jujur. Serta, solusi palsu mereka, taktik menunda transisi ke industri hijau, janji-janji kosong, cukup membingungkan, khususnya bagi orang-orang awam.
Untuk dapat mengajak orang-orang sadar dan mulai mengakhiri kebiasaan hidup yang komsumtif—yang dilakukan oleh sebagian kecil orang, namun memiliki konsekuensi bagi semua orang—berarti mengajak dan melakukan perubahan dalam cara pandang banyak hal; alam, keadilan, waktu, kekayaan, kekuasaan, pembangunan, nilai yang dianggap baik, apa yang penting dan bagaimana cara agar perubahan itu terjadi. Seperti yang ditulis oleh jurnalis iklim Mary Heglar, kami tidak kekurangan inovasi, bahwa solusi untuk krisis iklim sudah ada dan disediakan oleh alam. “Kami punya banyak ide untuk panel surya dan microgrid. Kami punya semua solusi dari krisis ilim. Meskipun kami memiliki semua bagian ini, kami tidak memiliki gambaran tentang bagaimana mereka bersatu untuk membangun dunia baru. Sudah terlalu lama, perjuangan iklim terbatas pada ilmuwan dan pakar. Saat saya menyurvei lapangan, jelas bahwa yang sangat kami butuhkan adalah lebih banyak seniman dan penulis.”
Senada dengan Heglar, Prof. Mattew dan peneliti di Yale Program on Climate Change Communication juga menyebutkan bahwa, perlu adanya aliran narasi iklim yang konstan. Maksudnya, untuk dapat memberikan pengetahuan mengenai iklim dan kehidupan yang lebih baik, perlu adanya narasi-nraasi iklim yang beragam. Mattew menekankan, bila perlu semua penulis, pembuat film, dan pekerja budaya dapat memasukkan pesan iklim dalam narasi mereka.
Kolumnis theguardian.com, Rebecca Solnit ikut menguatkan pernyataan tersebut. Ia menulis artikel panjang, perihal krisis iklim juga bagian dari storytelling crisis. Kita terkurung oleh cerita-cerita yang menghalangi kita untuk melihat, atau percaya, atau bertindak berdasarkan kemungkinan perubahan iklim. Seperti peta usang, hingga menemui jalan buntu, dan berakhir pada kebingungan. Solnit menekankan, bahwa kita perlu lebih banyak lagi cerita-cerita iklim, narasi-narasi iklim. Salah satunya melalui climate fiction—atau fiksi iklim(?), saya sendiri belum menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia.
Buku Antologi CerpenKisah Ganjil Pelaut dan Kisah-Kisah Lainnya merupakan salah satu buku fiksi iklim tersebut. Buku ini memuat sebelas cerpen karya sebelas penulis terpilih dalam lomba menulis cerpen nasional pada Pekan Climate Fiction 2021 yang dihelat oleh Bukit Buku, bekerja sama dengan WALHI Jawa Tengah dan Bersihkan Indonesia, serta diterbitkan oleh Rua Aksara (2022). Dan bagi saya, buku ini akan terus relevan ketika membicarakan kerusakan alam dan krisis lingkungan di abad penuh limpahan kasak-kusuk ini.
Sekilas, barangkali membaca fiksi iklim seperti melakukan ekspedisi menuju kehancuran, jurnalis iklim Diego Arguedas Ortiz menyebutnya sebagai distopia—cerita-cerita yang menyeramkan. Tapi, kamu salah, jika berharap menemukan semacam cerita-cerita siksa kubur dan siksa neraka saat kita masih bocil, sehingga entah bagaimana ada dorongan pada diri untuk hidup lebih beribadat.
Bisa kita lihat pada cerita Alim Berbicara tetapi Pandangannya Kosong karya Robyyan Abel Ramdhon. Di situ, penulis menceritakan mengenai nelayan yang terpaksa (atau dipaksa?) menyewakan lahannya untuk penambangan pasir. Memang, awalnya Alim dan warga yang lain merasa diuntungkan, namun setelah jalanan rusak karena sering dilewati kendaraan berat untuk menambang, tanaman hasil berkebun kotor karena debu pasir, dan uang sewa sering melambat, Alim menjadi ragu atas kebermanfaatan tambang. Alim dan warga kemudian mencoba berbicara, kemudian melawan, yang tidak menghasilkan apapun selain menerima penyiksaan dan kekerasan dari aparat. Dan cerita kemudian ditutup begitu saja.
Cerita-cerita yang terhimpun dalam buku ini, ditulis tidak semata-mata ingin menceramahi kita, atau penulis berniat untuk berdakwah. Jika kamu tidak pecaya, maka kamu bisa melihat pada cerpen Kemana Perginya Ikan-Ikan? Karya Mazdar Zainal. Karakternya dibangun berdasarkan hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita, dan bagaimana pembaca akan dituntun secara perlahan untuk kembali mempertanyakan tentang arti sungai, fungsi sungai yang kini dianggap sebagai tempat sampah, ikan-ikan yang kini makin sulit didapat, krisis air bersih, banjir, dan bagaimana kita mengeksploitasi alam.
Buku ini juga menjelaskan secara implisit, bila krisis iklim tidak hanya berdampak pada sesuatu hal yang besar saja, tapi juga sangat berdampak pada sesuatu yang sangat personal; cinta. Lihat saja pada cerpen Cinta dan Mata Air karya Khoirun Nisak, yang menceritakan bagaimana kekeringan dapat menyeret ke dalam berbagai masalah yang kompleks hingga pada masalah-masalah individual. Penulis membangun karakter tiap karakter dalam cerita, yang melewati fase krisis kehidupan akibat suber daya alam yang tidak layak, hingga ada yang mati bunuh diri. Kemudian, pada cerpen yang dijadikan judul buku ini, Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya, karya Dewanto Amin Sadono. Cerpen yang mengingatkan kita, betapa orang-orang miskin dan termarginalkan tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak punya apa-apa di tengah banjir rob karena proyek industri yang menguntungkan orang-orang tertentu saja. Dan betapa perlunya sinergi untuk melawan krisis iklim, tidak hanya oleh kita, namun yang lebih penting, oleh pemerintah yang memiliki sumber daya, dana, kekuatan serta wewenang kebijakan.
Seperti yang dikatakan oleh Solnit, Apa itu krisis iklim, apa yang bisa kita lakukan, dan dunia seperti apa yang bisa kita miliki adalah tentang cerita apa yang kita ceritakan dan cerita siapa yang didengar. Selama ini, krisis iklim adalah cerita yang sebagian besar didengar oleh telinga yang acuh tak acuh ketika pertama kali dibahas di media arus utama lebih dari 30 tahun yang lalu. Ini memang masalah yang sulit untuk dipahami, tidak terlihat, dengan banyak penyebab dan dampak, namun, solusinya juga tersebar di mana-mana. Bermacam-macam. Dengan demikian, perlu adanya narasi-narasi dan cerita-cerita iklim yang lain, lebih banyak, lebih bervariasi, agar mampu menggerakkan ide, dan tindakan kita. Penyelenggara visioner Adrienne Maree Brown belum lama ini menulis bahwa perlunya ada unsur fiksi ilmiah dalam aksi iklim: “Kita sedang membentuk masa depan yang kita rindukan dan belum kita alami. Saya percaya bahwa kita berada dalam pertarungan imajinasi.”
Selain itu, buku ini juga mengungkap siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kekacauan iklim. Sangat populer jika kerusakan iklim adalah tanggung jawab kita semua, padahal jika kita lihat laporan Oxfam, selama 25 tahun terakhir, dampak karbon dari 1% teratas manusia terkaya—pemilik modal, penguasa pabrik-pabrik bahan bakar fosil—adalah dua kali lipat dari 50% terbawah. Ini selaras dengan pernyataan Dwi Cipta—penulis dan penerjemah, sebagai salah satu juri dalam lomba menulis cerpen nasional Pekan Climate Fiction 2021 ini, kerusakan alam bukan dosa besar kita semua, tapi dosa segelintir orang yang dampaknya ke banyak orang, yang bahkan tidak melakukan apa-apa.
Kita bisa lihat pada cerpen Di Kaligawe Orang Mati Terendam Lumpur, karya Dimas Fakhri. Cerpen itu menceritakan tentang Seto yang harus kehilangan istrinya, karena banjir, dan lima tahun kemudian, banjir rob datang lagi, namun tidak hanya mengincar yang bernyawa, namun juga kompleks pemakaman orang-orang mati. Beberapa fakta-fakta tentang sebab-akibat banjir seperti pembangunan perumahan yang berimbas berkurangnya resapan air, kegiatan industri di sepanjang wilayah desa, alih fungsi lahan dengan eksploitasi berlebihan, dan lain sebagainya dijelaskan dalam cerpen ini. Perasaan kesal warga desa terhadap pengembang perumahan, pemilik industri, juga pemerintah setempat—yang gagal membuat kebijakan agar banjir tidak datang—juga sempat disorot oleh penulis.
Kita semua memang ‘bertanggung jawab’ atas krisis iklim yang terjadi. Namun bukan berarti, kita terlalu fokus pada kontribusi individu. Rebecca Solbit menegaskan, para pemegang industri bahan bakar fosil menyukai narasi tanggung jawab pribadi sebagai cara untuk membuat kita terus memeriksa diri sendiri dan satu sama lain, bukan mereka (orang-orang yang melakukan banyak perusakan demi keuntungan sendiri). Dalam hal ini, kita memerlukan perubahan sistem. Salah satu tujuan perubahan sistem adalah menggantikan kebajikan individu menjadi aksi kolektif yang berwujud kebijakan dan regulasi.
Dan bagi kamu yang ingin belajar mengenai hal itu, barangkali buku ini dapat menjadi pintu masuk. Nantinya akan kita temukan bagaimana karakter dalam tiap cerita berupaya mengatasi situasi-situasi sulit dengan berbagai macam cara yang bakal membuat kita tersedak, atau lebih tepat lagi menertawakan keadaan—sebagai puncak dari kesedihan—dengan ganjil, mengetuk pintu hatimu, membangunkan rasa simpati dan empatimu yang lama terlelap, dan membangun kepedulian. Jika nalar kita bekerja dengan baik, cerita-cerita ini dapat membawa kita pada perenungan-perenungan, dan secara reflektif menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dari perilaku adikuasa kita terhadap alam. Bahwa kita meski segera bertindak, agar keadaan tidak makin memburuk, agar ekspedisi dalam kehancuran hanya imajinasi yang tidak akan menjadi nyata.
Isti adalah salah satu pendiri dan pengurus Bukit Buku (Campaigning Climate Crisis via Fiction), sebuah Festival Buku yang awalnya merupakan rangkaian dari Festival Bukit Jatiwayang II bersama Kolektif Hysteria dengan menggandeng beberapa komunitas dan penerbit. Kegiatan ini pada dasarnya sebuah bazar buku yang berada di tengah-tengah kampung sebagai wujud mendekatkan buku dengan pembaca. Adanya covid-19 menjadikan Bukit Buku beralih secara daring per Juli 2020, dan dalam pengorganisasiannya menjadi Klub Membaca yang fokus pada kampanye krisis iklim melalui cerita fiksi. Pada tahun 2018 dia mulai terlibat di berbagai kegiatan festival buku, pentas seni, riset kebudayaan, juga redaktur dalam sebuah zine. Sekarang, ia juga pengajar di salah satu sekolah dan tengah menyelesaikan pendidikan profesi guru. Instagram @istiqbalul_f.asteja