Ilustrasi untuk cerpen berjudul 'Kanjeng Ratu Mangku Manuk Pitu' kiriman A. Muttaqin. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini)
SEPANJANG sejarah umat manusia, sejak Adam sampai sekarang, mungkin tak ada perempuan yang demikian gandrung kepada burung melebihi Siti Tilis.
Bagi warga kampung kami, minat Siti Tilis ini tentu tergolong ganjil. Saat usia Siti masih bocah, tatkala teman-teman sepermainannya bermain boneka atau dakon, Siti malah keluyuran ke sawah dan kebun untuk berlatih memanjat pohon. Tak heran jika Siti mengenal berbagai jenis pohon dengan baik. Termasuk rintangan yang menghadangnya saat memanjat.
Siti juga hapal betul teknik memanjat berbagai pohon, misalnya pohon mahoni, pohon trembesi, pohon mangga, pohon juwet, pohon sawo, sampai pohon jambu klutuk yang terkenal licin. Berkat ketekunannya memanjat pohon, tak ada bocah di kampung kami yang bisa menandingi Siti, termasuk bocah lelaki paling cekatan sekalipun.
Tentu ketekunan Siti ini bukan tanpa tujuan. Siti memanjat pohon untuk mengambil anak burung yang bersarang di situ. Sebab itu sejak kecil mainan Siti bukan boneka atau dakon sebagaimana umumnya bocah perempuan kampung kami, tapi anak burung. Siti selalu tampak membawa anak burung ke mana pun ia pergi. Anak burung yang ia bawa juga macam-macam. Kadang anak burung kutilang. Kadang anak burung cendet. Kadang anak burung derkuku. Kadang anak burung kepodang. Kadang anak burung jalak. Juga kadang anak burung hantu.
Karena suka membawa anak burung ke mana-mana, jika melihat Siti lewat, teman-temannya sepantaran selalu mengejek: “Siti Pelisiri merawat anak burung di atas kepalanya…” Tentu ejekan ini merupakan plesetan dari dongeng Pangeran Palasara yang pernah mereka liat lewat ikan susu formula di televisi. Tapi Siti tak peduli. Bagi Siti, burung adalah hidupnya. Burung adalah cinta pertamanya yang tak terhapus oleh cinta kedua, ketiga, dan seterusnya.
Berhari-hari cinta Siti kepada burung makin menjadi-jadi. Orang bilang, kecintaan Siti kepada burung ini bermula setelah kematian ibunya. Siti yakin, setelah mati roh ibunya tak langsung naik ke surga, melainkan menjadi burung dan terbang ke mana-mana. Karena kecintaan Siti terhadap burung termasuk berlebihan, Soman, bapak Siti, sering dibuat bingung. Karena itu, pada suatu sore yang sejuk, Soman menghadap Sukayat, dukun sepuh dan terkenal di kampung kami. Kepada Sukayat, Soman mengadukan perihal kecintaan Siti terhadap burung.
Mendengar cerita Soman, Sukayat hanya manggut-manggut penuh arti. Sebagai dukun senior dan berwibawa di kampung kami, pembawaan Sukayat memang selalu khusuk dan serius. Sukayat jarang tertawa. Setelah cerita Soman usai, Sukayat memejamkan mata lalu menghirup nafas dalam-dalam. Ada jeda sebentar, sebelum Sukayat membuka lagi mulutnya: “Sampean tak perlu khawatir, Cak Man. Nyi Warsiyani, leluhur kita yang burung-burung dan unggas di kampung sini, tengah merasuk ke tubuh Siti. Kelak Siti akan jadi ratu yang ditaati dan dicintai burung-burung di bumi…”
Sepulang dari kediaman Sukayat, lenyaplah beban di punggung Soman. Ia tak khawatir lagi dengan Siti. Dengan segenap jiwa, Soman bahkan diam-diam mendukung kegandrungan Siti terhadap burung. Dan memang benar belaka yang dituturkan si Sukayat. Setiap burung yang dirawat Siti, tumbuh menjadi burung istimewa. Bulu-bulunya lebat dan bersih. Badannya lebih gagah dan sehat dari burung sejenisnya. Dan suaranya lebih jernih dan indah dari burung-burung di kampung kami.
Lantaran inilah saat Siti berajak dewasa, orang kampung kami memberinya gelar istimewa: Kanjeng Ratu Mangku Manuk Pitu, yang artinya,ratu pemangku (pengasuh) tujuh burung. Tentu “tujuh” di sini bukan menyatakan jumlah burung asuhan Siti. Sebab jumlah burung asuhan Siti tak terhitung jumlahnya. Ini lantaran orang-orang kampungku tahu, apa-apa yang baik sekaligus mistik mengandung tu atau pitu. Tak heran jika banyak perihal baik dan mistik berawalan tu atau pitu, misalnya tuah, tungkup, pitulung, pitutur, pitungkas dan seterusnya.
Memang terbukti benar bahwa gelar yang diberikan kepada Siti itu bukan sekadar gelar-gelaran. Sebab di hadapan setiap jenis burung, Siti seperti punya nyoni dan wibawa tersendiri. Ini seperti yang terjadi pada suatu siang di hari Jumat.
Siang itu, tatkala seluruh lelaki akil-baliq menuju masjid yang kebetulan jalannya melewati depan rumah Siti, mereka melihat ratusan burung emprit berputar-putar di atas rumah ini. Ajaibnya, saat melihat Siti keluar rumah, burung-burung emprit itu bercericit dan hinggap merubung badan Siti. Dirubung burung-burung emprit itu, Siti jadi tampak seperti sebutir salak raksasa. Tentu perumpamaan ini tidak tepat. Sebab badan Siti tidak bundar tapi tinggi semampai. Namun untuk menggambarkan banyaknya emprit yang merubung Siti, bolehlah perumpamaan ini kupakai.
Lain hari Jumat, kejadian aneh yang menegaskan bahwa Siti seperti magnet bagi burung-burung di bumi adalah ketika orang-orang berebut menangkap Pengeran Kurni, burung cucak rowo legendaris milik orang kampung sebelah yang kabur dan masuk ke kampung kami. Munculnya Pangeran Kurni tentu membuat gempar warga kampung kami, sebab burung cucak rowo yang suaranya seindah burung surga ini harganya setara satu mobil mewah. Burung itu adalah bintang bagi setiap perlombaan cucak rowo di sekitar sini.
Alhasil, burung ini adalah rizki besar yang membuat kampung kami gempar. Apabila mereka berhasil menangkapnya, tentu akan mendapat imbalan yang besar dari pemiliknya. Kendati hampir semua warga berebut menangkap Pangeran Kurni, dari anak-anak, kaula muda, sampai orang tua, namun tak ada yang mampu mendapatkannya.
Apa yang terjadi selanjutnya gampang ditebak: Pangeran Kurni terbang ke arah rumah Siti. Tentu ini tak aneh bagi warga kampung kami, sebab mereka tahu Siti adalah magnet bagi setiap burung di bumi. Karena itu, mereka hanya bisa gigit jari saat burung itu menuju ke teras rumah Siti dan hinggap di pundak si ratu burung itu.
Siang itu Siti tampak tengah asyik memotong kuku. Dan seperti telah mendapat isyarat sebelumnya, Siti tak kaget sedikit pun dengan kedatangan Pangeran Kurni. Setelah kuku jari tangannya rampung, Siti bahkan meneruskan memotong kuku kakinya dengan gerakan sedikit geli, sebab dengan parunya Pangeran Kurni mulai nitili telinga Siti.
Melihat kejadian ini, orang-orang yang memburu Pangeran Kurni pun kembali.
“Apalah daya, sang pangeran telah menemukan ratunya,” kata Matuwar.
“Ya, percuma kita memburunya. Setinggi-tinggi keris terbang, akan mancep ke rangkanya juga, hahaha…” timpal Matukiran.
Begitu kelakar orang-orang yang memburu Pangeran Kurni saling menghibur diri.
Kendati demikian, berangsur-angsur kekecewaan mereka luntur, sebab mereka sadar nyoni Siti dalam menaklukkan burung. Mereka, para lelaki itu pun diam-diam rela jika burung paling berharga di wilayah mereka itu jatuh ke pangkuan Siti. Tapi, tentu tidak demikian bagi ibu-ibu. Sebagian ibu-ibu itu punya tafsir tersendiri perihal Siti dan Pangeran Kurni. Tafsir itu kemudian menjadi rasan-rasan yang dengan cepat menyebar ke kios-kios di pasar.
“Siti telah ketemu jodohnya ya, Yu Ngatemi?”
“Eman ya, perawan ayu gitu kok kawin sama burung.”
“Itu bukan burung sembarangan loh, Yu Ngat. Dapat satu mobil Alparat.”
“Suamimu kalau ditukar yo paling dapat motor bebek, Yu, hahaha?”
“Bukan Alparat, Alfarhat Yu, Sayem.”
“Farhat lak suamimu yang anunya engkrik-engkriken itu, hahaha.”
“Hus, hus… cangkem-mu. Mana cabeku.”
“Jangan lupa beli jamu untuk suamimu, Yu.”
Begitulah rasan-rasan dan guyonan yang menjalar di pasar. Rerasan dan guyonan ibu-ibu itu pun kian menjadi-jadi, tatkala pada suatu pagi Siti datang ke pasar membawa Pangeran Kurni di pundaknya.
Seperti kedatangan ratu yang tengah blusukan, tanpa aba-aba kerumunan di pasar itu terbelah. Siti pun berjalan dengan santun, anggun dan berwibawa. Siti lalu membeli ini itu tanpa terganggu gremang-gremeng ibu-ibu yang tertawa geli melihat Pangeran Kurni nitili leher dan telinganya.
Melihat kejadian itu, sebagian mereka makin yakin bahwa Siti memang telah menemukan jodohnya. Ya, kanjeng ratu telah ketemu pangerannya. Apalagi setelah mereka melihat, burung itu tak hanya nitili leher dan telinga Siti. Saat Siti melangkah pulang, seorang ibu sempat melihat burung itu menelusup ke celah di kutang Siti, seperti burung yang bersembunyi.
“Duh, Gusti, beruntung betul burung itu,” kata Matukiran, saat Ngatemi istrinya menceritakan itu kepadanya.
Mendengar jawaban Matukiran, Ngatemi mengambil panci dan memukulkan panci itu ke kepala suaminya.
Sayangnya, hari-hari bahagia Siti dengan Pangeran Kurni ini tak berlangsung lama. Sehari setelah membawa Pangeran Kurni ke pasar, entah bagaimana kejadian yang sebetulnya, Siti mati dengan kondisi yang sukar dipercaya. Di rumanya, Siti ditemukan tergeletak dengan tubuh penuh luka. Di belandar rumah, Soman bapak Siti yang telah tua renta itu, juga digantung dengan kain sarung.
Menurut hasil otopsi, Siti telah diperkosa berkali-kali sebelum dibunuh. Tentu kematian Siti ini membuat warga kampung kami sedih dan saling curiga. Gremang-gremeng dan spekulasi perihal kematian Siti berdengung dari pasar hingga ke warung-warung. Sementara itu, Polisi terus menyelidiki kasus ini, sebab kematian Siti dan bapaknya disertai hilangnya Pangeran Kurni, burung istimewa yang harganya setara dengan satu mobil mewah.
Tapi kematian Siti bukan akhir dari cerita ini.
Tepat keesokkan harinya, artinya sehari setelah dikubur, Siti kembali muncul di pasar membawa Pangeran Kurni di pundaknya. Melihat kejadian ajaib itu, tak ada ibu-ibu yang berani membuka mulutnya. Mereka hanya melongo saja. Seorang ibu yang tengah hamil tua bahkan pingsan dan ambruk ke tanah. Dan, seperti kedatangan seorang ratu blusukan, kerumunan di pasar itu terbelah serupa samudera dipukul tongkat Musa.
Siti pun berjalan dengan santun, anggun dan berwibawa, seperti sediakala.
“Kakinya menempel tanah,” kata Kotijah, si penjual empon-empon.
“Itu betul Siti atau hantunya?” tanggap Sayem.
“Hus, jaga cangkemmu, Yu!” tutup Ndumilah.