Cerpen ‘Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya’
Hasan Aspahani
KEPANDAIANNYA meniru suara-suara orang membawanya bekerja di Istana Negara. Ia orang yang akhirnya lolos setelah tim kepresidenan menguji ribuan orang secara rahasia. Tak ada yang tahu persis berapa jumlah orang yang menjalani uji kesamaan suara itu. Tapi, memang dilakukan massif dan cepat dan diam-diam. Sangat rahasia. Persoalan ini memang penting dan genting.
"Tugas Anda mengisi suara presiden dalam pidato-pidato resmi," kata kepala rumah tangga kepresidenan.
Baginya mengisi suara orang adalah pekerjaan mudah. Ia seorang penyulih suara alias dubber yang laris. Pernah satu film kartun, semua suara tokoh dia isi sendiri. Tapi pekerjaannya kali ini tentu saja lebih menarik dan menantang.
Menjelang pemilihan presiden, presiden petahana justru kehilangan suaranya. Ini tentu saja situasi yang berbahaya tak menguntungkan petahana. Risiko politiknya besar sekali. Pengobatan sudah dilakukan. Dokter terbaik dari berbagai negara sudah dimintai bantuan. Ada harapan suara sang presiden bisa kembali menjelang kampanye memasuki babak debat. Pengobatan terus diusahakan.
Sementara itu, dalam pidato-pidato atau jumpa pers, dialah yang diminta menggantikan suara presiden. Semua sudah diatur. Presiden tinggal berbicara seperti biasa, meski tak mengeluarkan suara apapun, dari suatu tempat dengan mikropon khusus dia membaca gerak bibir dan bicara dengan suara persis suara presiden.
Sementara menjadi pengganti eh pengisi suara presiden, dia tak ambil job pengisi suara di rumah produksi di mana selama ini ini bekerja. Istirahat katanya. Nyatanya dia memang sibuk. suka dan puas dengan pekerjaannya. Bahkan di rapat-rapat kabinet pun dia bekerja. Ini berbahaya! Dia jadi tahu banyak keputusan penting yang jadi rahasia negara. Termasuk bagaimana memenangkan pemilihan dengan cara-cara yang lancung.


















